Adventus: Masa Penantian
Advent membuat kita mengerti bahwa pembaharuan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba.
Oleh: Pdt. Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo
Pendeta GMIT, Tinggal di Salatiga
EMPAT minggu lagi kita akan tiba pada perayaan natal. Dalam masa raya itu kita akan kembali mendengar berita tentang kelahiran seorang bayi, tentang ibunya, juga tentang seorang raja yang kejam, serta para majus. Kisah-kisah ini menggugah dan membuat kita menerawang jauh pada peristiwa masa lalu, sekaligus juga membangkitkan harapan kita pada satu masa baru yang masih akan datang. Advent ternyata membawa kenangan tetapi juga harapan.
Advent membuat kita mengerti bahwa pembaharuan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, seperti halnya sinar fajar pagi yang menerobos menembusi gelapnya malam. Itu terjadi dalam sebuah proses dan menuntut kesabaran. Orang yang biasa bangun pagi-pagi buta dapat melihat proses peralihan dari gelap menjadi terang.
Dalam tradisi gereja di abad pertengahan, seminggu sebelum tibanya advent pertama dijadikan hari untuk mengenang rekan-rekan seperjalanan yang meninggal dunia. Ada ibadah khusus yang dilakukan untuk keluarga yang ditinggalkan. Lilin-lilin dinyalakan sebanyak jumlah mereka yang meninggal dunia, satu pertanda bahwa kematian bagi orang percaya bukan sebuah perjalanan ke dalam gelap, melainkan suatu percikan cahaya pengharapan baru untuk masa depan. Lilin yang dinyalakan juga menjadi sinyal bagi permulaan advent. Kita memang masih ada dalam kegelapan karena duka dan kematian orang yang dikasihi, tetapi kegelapan mulai diganti dengan remang pagi yang menuntun pada hari baru, pada kedatangan kembali Kristus. Kerinduan akan datangnya orde hidup yang baru, serta bumi yang baru menyusup makin kuat dalam relung hati kita.
Dalam nyanyian pujian Maria (Luk 1:46 dst) kita mendengar gema dari dunia baru itu, suatu keadaan di mana mereka yang papa dan hina mendapat perhatian dan kasih yang hangat. Orde yang baru dan dunia yang lain itu muncul bersamaan dengan lahirnya Kristus. Advent karena itu menjadi masa persiapan menyambut dunia dan orde yang baru. Selamat memasuki minggu advent.
Injil dalam bentuk mini
Dengan memasuki minggu advent, perjalanan kita sebagai gereja mulai lagi di titik awal. Setelah ziarah iman yang penuh ketegangan dan liku-liku sepanjang tahun gereja yang lalu, sekarang kita memasuki lagi masa raya Advent dan Natal yang disebut-sebut tahun baru bagi gereja. Dalam masa Advent dan Natal perhatian umat kristen terarah pada kedatangan kembali Yesus Kristus dan persiapan diri dan dunia menyongsong kedatangan itu.
Berbeda dengan perenungan kristen terhadap pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus pada empat masa raya yang lain dari gereja, pada musim Advent dan Natal perenungan tentang kemanusiaan Yesus Kristus lebih ditonjolkan. Dalam minggu sengsara, tekanan pada penderitaan Yesus. Pada masa Paskah keilahian Yesus yang jadi perhatian, sedangkan pada kenaikan dan pentakosta gereja merenungkan pemerintahan dan kekuasaan Yesus Kristus.
Membandingkan sikap orang kristen menyambut kelima masa raya gereja, agaknya masa raya Advent dan Natal terasa lebih semarak dan semerbak. Meskipun secara teologis hal ini agak janggal, karena tema sentral dari pemberitaan gereja tentang Yesus Kristus bukan pada kelahiranNya, tetapi pada kamatian dan kebangkitanNya.
Tetapi argumen apapun tetap tidak mengubah semarak menyambut datangnya Advent dan Natal. Sikap orang kristen dalam menyambut Advent dan Natal serasa lebih meriah dan bernuansa sukacita. Raymond E Brown (1995) menulis: "Kisah kelahiran dan masa kanak-kanak Yesus telah menjadi salah satu bagian yang paling populer dari seluruh kisah Yesus, satu yang paling dikenal dan mampu menarik perhatian seluruh dunia. Alasannya, cerita itu bukan hanya kabar keselamatan, tetapi inti pokok kisah Injil dalam bentuk mini.
Cerita tentang kanak-kanak Yesus adalah Injil dalam bentuk mini karena dalam kisah-kisah itu terdapat rangkuman dari seluruh karya keselamatan Allah yang terbentang dari PL sampai dengan Paskah. Cerita kelahiran Yesus adalah pertemuan dua arus kristologi, yakni penggenapan nubuat tentang Mesias dalam PL dan antisipasi terpadu dari kisah penderitaan dan kebangkitan yang akan menyusul (ent).
Yesus manusia sejati
Kisah kelahiran dan masa kanak-kanak Yesus menegaskan satu hal yang pasti bagi kita, yakni Yesus adalah benar-benar dan sungguh-sungguh manusia. Ia memang Allah sejak kekal. Tetapi Ia memutuskan untuk meninggalkan keallahanNya dan menjadi manusia seperti kita. Sebagai manusia sejati, Ia memiliki ayah dan ibu, tempat kelahiran, serta garis keturunan yang bisa dituturkan kembali. Sebelum merenungkan lebih jauh kisah kelahiran Yesus secara rinci sesuai dengan laporan kedua kitab Injil, kita jawab lebih dahulu pertanyaan yang satu ini: "Mengapa Allah memutuskan untuk menjadi manusia? Apa sebabnya Allah yang Mahakuasa mau berbagi dengan orang-orang semacam kita?" Dan kalau itu toh terjadi, mengapa Allah memilih untuk dilahirkan di kandang? Bukankah Dia bisa mencari jalan lain?
Satu kali ketika masih di Belanda menjelang perayaan Natal, waktu itu musim dingin dan banyak salju. Di luar rumah yang kami diami beberapa ekor itik dikejutkan oleh anjing peliharaan yang dibawa keluar pemiliknya untuk buang air. Anjing ini mengejar itik-itik tadi sehingga mereka berpencar. Seekor di antaranya tersesat, ia terpisah dari kumpulannya. Itik itu kebingungan dan kalut. Saya mencoba menghalau itik itu untuk bergabung kembali dengan kelompoknya. Semakin saya merapat, itik itu semakin panik. Ia justru terbang makin jauh karena ketakutan. Jelas karena ia tidak mengerti niat baik saya menolongnya. Bagaimana saya dapat membuat dia mengerti kepedulian saya terhadap keselamatannya itu?
Waktu itu muncul bisikan dalam hati: "Kalau saja saya dapat menjadi salah satu dari itik itu, berkomunikasi dalam bahasanya, ia pasti mengerti apa yang sedang saya lakukan." Inilah jawaban untuk pertanyaan: "Mengapa Allah harus menjadi manusia? Mengapa Yang Maha Kuasa mau turun ke bumi dan menjadi salah satu dari antara kita?"
Jawabannya adalah ini. Allah mengambil rupa kita, supaya kita mengerti karya keselamatan Allah bagi kita, Allah harus menjadi sama seperti kita, menyapa kita dalam bahasa yang kita kenal (ent).
Yusuf dalam Kisah Natal
Dalam cerita kanak-kanak Yesus kita bertemu dengan penekanan yang kuat terhadap kehidupan Yesus sebagai manusia sejati. Penulis Matius dan Lukas menampakkan aspek kemanusiaan itu dengan sangat jelas. Kitab Matius lebih banyak memberi perhatian terhadap peran Yusuf, sang ayah dalam cerita kelahiran Yesus, sedangkan kitab Lukas menonjolkan peran Maria, si ibu. Masing-masing tentu punya maksud yang hendak dikomunikasikan. Kalau kedua versi ini kita baca secara seimbang kita memperoleh kesan bahwa perempuan dan laki-laki diberi peran yang berimbang oleh Allah dalam karya pembaharuan perjanjian yang sedang Ia mulai dalam Yesus Kristus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/adventus_20161128_013608.jpg)