Bahasa Simbolik Presiden
kita sangat sering mudah terprovokasi. Sering "terpancing." Bunyi kalimat itu begini:
Itu menurut Prof. Carol Dweck (Stanford) yang meneliti tentang orang-orang ber-mindset tetap dan yang ber-mindset tumbuh.
Yang ber-mindset tetap itu, karena biasa mendapat nilai bagus di sekolah, selalu merasa cemas bila menyaksikan "saingannya" terlihat bagus, atau berpotensi menyalib, apalagi bila mereka berprestasi dan bisa melakukan "hal-hal berat" yang dulu tidak bisa ia jalankan.
Bagi mereka, prestasi hanya untuk mereka. Dan bila kurang bagus hasilnya, ia pun akan beralasan, membantah berita-berita negatif, kuping tipis, dan seterusnya.
Ah sudahlah. Tak semua orang cerdas akan cerdas terus selama-lamanya. Yang bodoh juga tak akan bodoh selama-lamanya. Dan menurut saya, yang akan menjadi semakin bodoh, atau tetap bodoh ya mereka yang selalu ingin menjelaskan tentang posisi dirinya.
Masalahnya, Anda ingin diomongkan menjadi orang hebat, atau ingin menjadi "lebih baik"? (Kompas.Com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/presiden-joko-widodo_20161125_072653.jpg)