Sepenisasi
Mulai bulan November, apalagi Desember, Kota Kupang menjadi asyik di mata kita karena bunga sepe yang sering juga diberi nama bunga
Bayangkan kalau setiap rumah penduduk di Kota Kupang ini memelihara satu batang pohon sepe. Apa yang akan terjadi pada bulan Desember? Natal dan Tahun Baru akan benar-benar jadi pesta meriah lahir-batin. Warga Kota Kupang akan berjingkrak ria di bawah pohon sepe yang bunganya merah menyala menambah semaraknya lagu "ke kiri-kiri, ke kanan-kanan". Pohon sepe menawarkan seribu satu keceriaan.
Kita semua tahu, ciptaan Tuhan itu mempunyai tiga sifat, 3-B. Baik, Benar, Bagus. Dalam bahasa Latin, bonum, verum, pulchrum. Maksudnya, Baik itu memenuhi hasrat, Benar itu sesuai aturan, Bagus itu memuaskan rasa. Salah satu ciptaan, sepe, Baik kalau ditanam secukupnya sampai tidak mengganggu tanaman lain, Benar kalau ditanam beraturan oleh kita manusia, Bagus kalau dinikmati indahnya oleh setiap mata yang memandang.
Sepe memenuhi tiga sifat ini, Baik-Benar-Bagus (bonum, verum, pulchrum). Mengapa kita tidak ramai-ramai tanam dan rawat sepe? Masyarakat menanam. Baik. Pemerintah mengatur. Benar. Semua kita menikmati. Bagus. Ini filsafat alam, filsafat sepe.
Sepenisasi. Ada informasi, Dinas Kehutanan sudah menyiapkan anakan sepe. Bisa diambil dan ditanam. Jangan tanya, untuk apa, bisa dimakan? Untuk makan, tanam sukun. Untuk taman, tanam sepe. Ingat, orang Belanda tidak makan tulip, orang Jepang tidak makan sakura. Tapi mereka bangga dan negeri mereka ramai dikunjungi orang hanya untuk lihat bunga-bunga itu. Sebut tulip, ingat Belanda. Sebut sakura, ingat Jepang. Sebut sepe, ingat Kupang.
Mengapa kita di Kota Kupang tidak buat Kota Kupang menjadi Kota Sepe? Kupang Kota Sepe! Ternyata sepanjang pantai mulai dari Tablolong sampai Lasiana bisa ditumbuhi pohon sepe. Di tempat yang ada rawa-rawa, yah, tanam bakau. Tetapi di tempat yang ada tanah dan karang, sepe bisa tumbuh. Bayangkan, sepanjang garis pantai Kota Kupang diberi bingkai merah menyala bunga sepe.
Di musim hujan akan ada keterpaduan warna, lautnya biru, pantainya putih, pesisirnya merah, daratannya hijau. Biru, putih, merah, hijau. Daya tarik dan daya pikat yang luar biasa akan terpampang di muka setiap orang termasuk para wisatawan. Jadi kota wisata, Kota Sepe. Kota Kasih, bagus. Itu untuk hati, tapi untuk mata, yah, Kota Sepe. Untuk lidah, yah, Kota Se'i. Banyak nama, tidak apa. Lebih banyak lebih baik. Asal ada arti yang baik untuk diingat dan disimak. Kota Karang? Yah, julukan itu bisa menambah semangat untuk hidup bertahan, tapi kurang menawan. Kota Sepe! Keren!
Sepenisasi! Mulailah di Kota Kupang. Kota-kota lain boleh mulai. Serentak. Mengapa tidak? Ini bukan tiru-meniru. Saling menjiplak. Tidak. Serentak membuat sesuatu baik dan bermanfaat, apakah salah? Tidak. Hei, jangan kota sentris. Tidak boleh hanya berpusat pada kota.
Bahaya urbanisasi. Setiap kampung, penghuninya boleh sekali tanam sepe. Kantor-kantor desa, puskesmas, asrama-asrama, pos-pos keamanan, sekolah-sekolah, rumah-rumah ibadat, di mana pun saja di Nusa Tenggara Timur ini, sepe bisa ditanam. Tetap pegang dua kata ini: kenyang-senang, senang-kenyang. Sebagai contoh: sepe untuk senang, sukun untuk kenyang. Kenyang saja, tidak cukup. Diabetes! Senang saja, tidak cukup. Pelancong! Harus sepe-sukun, sukun-sepe. Ini simbol kenyang-senang, senang-kenyang.
Sebenarnya sepe itu tanaman tropis.Jadi seluruh Indonesia ini cocok untuk sepenisasi.*