Ga'a Li Alat Musik Tradisional dari Ngada
GA'A LI merupakan nama alat musik tradisional di Kabupaten Ngada yang terbuat dari bambu.
POS KUPANG.COM, BAJAWA - GA'A LI merupakan nama alat musik tradisional di Kabupaten Ngada yang terbuat dari bambu. Ga'a artinya tempat penyimpanan makanan babi, dan Li artinya bunyi.
Perangkat utama alat musik ini adalah bambu (ga'a) yang dirancang secara bagus. Ukurannya satu buku bambu. Ga'a menghasilkan bunyi ketika dipukul. Untuk menghasilkan bunyi yang bagus, perancang musik menambah beberapa instrumen lainnya seperti bila bambu, bambu bulat (tobo) yang berfungsi menghasilkan bunyi bass dan senar sebagai pengikat. Kemudian dibuat dua buah stick (tongkat) ukuran 15 sentimeter untuk memukul ga'a.
Klemens Wawa, saat ditemui Pos Kupang, Sabtu (15/10/2016), mengatakan, alat musik ga'a li hanya menghasilkan nada F sehingga tidak semua lagu bisa diiringi oleh alat musik tersebut. Sebagian besar lagu daerah Bajawa bisa diiringi ga'a li karena lagu daerah Bajawa banyak memiliki nada dasar F.
Klemens mengatakan, pembuatan alat musik ga'a li terinspirasi dari bunyi ga'a yang biasa dilakukan orang-orang zaman dulu. Pada zaman dulu, pola peliharaan ternak babi tidak diikat tetapi dilepas bebas di wilayah kampung bahkan hutan belukar. Babi berkeliaran mencari makan sendiri di hutan. Tuan babi hanya memberi makan pada pagi hari dan sore hari.
Setiap jadwal pemberian makan, biasanya pemilik babi memanggil babi dengan cara membunyikan ga'a. Saat ga'a dibunyikan, babi mulai berdatangan lalu mendekat ke tuannya untuk mendapatkan makanan.
Terinspirasi dengan bunyi ga'a itu, Klemens Wawa merancang ga'a menjadi alat musik mirip angklung. Alat musik ini mulai dikembangkan tahun 2012 dan sudah sering dimainkan dalam acara kepemerintahan di Kabupaten Ngada. Bahkan yang terakhir dimainkan di Lembata pada saat Festival Budaya Flores-Lembata.
Ga'a li di Desa Keligejo tetap terjaga dengan baik lewat Sanggar Seni Muri Masa yang selama ini menjadi binaan Dinas PKPO Kabupaten Ngada. Alat musik ini hanya terdapat di beberapa kampung Desa Keligejo, Kecamatan Aimere. Ga'a li sebagai alat musik yang unik yang sudah menjadi aset pariwisata. Wisatawan yang mengunjungi ke kampung tradisional Belaraghi sering menikmati alunan musik ga'a li.
Menurut Klemens, ga'a li merupakan seperangkat alat musik yang dirancang dari bambu. Perangkat utamanya adalah ga'a yang berfungsi sebagai iringan. Ga'a dibunyikan dengan cara dipukul menggunakan stik, sedangkan tobo dengan cara membentur dengan tanah. Ga'a sebanyak enam unit dan tobo empat unit (bass). Jumlah pemain ga'a li 12 orang. Alat musik ini bisa dikolaborasikan dengan gitar dan orgel.
Alat musik ini dimainkan saat kunjungan Ketua Komisi V DPR RI, Fary Francis dan rombongan ke Kampung Wawa, Desa Keligejo, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Fary Francis dan anggota DPR RI dari PDIP, Saderes Turewaty sempat mencoba memegang tobo (bass) sambil mengiringi beberapa lagu. Mereka membunyikan ga'a li untuk mengiringi beberapa lagu yang dilantunkan Angelina Uba, Karolina Nage, Maria Florentina Oka dan Anastasia Moi. (teni jenahas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gaa-li-alat-musik-tradisional-dari-ngada_20161030_192510.jpg)