Lipsus Obat di RSUD Yohannes Kupang

Perencanaan Obat Tidak Libatkan Instalasi Farmasi

Perencanaan pengadaan dan anggaran obat tahun 2016, tidak melibatkan Instalasi Farmasi Rumah Sakit

Perencanaan Obat Tidak Libatkan Instalasi Farmasi
PK/VEL
Nelci Ndun, S.Farm, Apt 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Novemy leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - KEPALA Inslatasi Farmasi RS (IFRS) Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, Nelci Ndun, S.Farm, Apt, membenarkan adanya kekurangan obat di RSUD Kupang sejak beberapa bulan terakhir.

Kejadian seperti ini menurut Nelci pernah terjadi 2014 dan 2015. Namun kendala tersebut cepat diatasi karena pihak RSUD yang terdiri dari Wadir Perencanaan, Wadir Umum Keuangan, Instalasi Farmasi melakukan rapat untuk penentuan pagu anggaran 2014 dan 2015.

Saat itu terdapat selisih anggaran obat untuk tahun 2014 tapi tidak terlalu besar yakni dari Rp 13 miliar namun pagunya Rp 9 miliar, jadi ada kekurangan Rp 4 miliar. "Namun hal itu bisa diatasi dengan tambahan ABT (anggaran biaya tambahan). Jika ada obat yang tidak ada di apotek RSUD, maka dokter bisa ganti dengan jenis obat lain dengan komposisi yang sama," kata Nelci.

Namun pengadaan obat tahun 2016, kata Nelci, pihaknya tidak dilibatkan saat pembahasan anggaran obat. Meski demikian, seharusnya pengadaan dan anggaran obat mempertimbangan penggunaan obat tahun sebelumnya, ditambah prediksi tahun depan.

"Jika tahun 2015 lalu, anggaran obat Rp 19,3 miliar plus anggaran obat kemoterapi Rp 5,3 miliar maka seharusnya anggaran obat untuk tahun 2016 dianggarkan Rp 24,5 miliar lebih. Tapi ternyata hanya dianggarkan Rp 7 miliar. Kalau hanya Rp 7 miliar maka mau prioritas obat yang mana kita tidak tahu lagi mau bagaimana. Saya juga baru tahu anggaran obat hanya Rp 7 miliar itu saat saya dipanggil untuk rapat bulan Juni terkait kekurangan obat," aku Nelci.

Karena itu, Nelci berharap agar pembahasan anggaran obat untuk tahun 2017 bisa melibatkan semua pihak terkait sehingga pengalaman buruk yang terjadi tahun 2016 ini agar tidak terulang lagi.

"Kalau anggaran APBD jelas DPRD yang membaginya dan sudah diputuskan di sana. Tapi kalau anggaran BLUD kan rumah sakit yang bagi. Nah saat pembagian anggaran BLUD ini hendaknya melibatkan semua pihak. Libatkanlah farmasi," kata Nelci.

Mengenai pendropingan obat ke ruangan, Nelci mengatakan, pihaknya mendroping obat ke lima depo farmasi yang ada di RSUD Johannes. Kelima depo itu yakni dua depo di ruang rawat jalan, dua depo di ruang rawat inap dan satu depo IGD dan rawat jalan kronik. Dropingan obat itu ada yang sehari sekali atau ada yang tiga hari sekali.

Ditambahkan Nelci, persediaan obat di ruang IGD, ICU dan ICCU harusnya tidak boleh habis, karena pasien di sana pasien yang benar-benar membutuhkan obat.

"Di ruangan IGD, ICU dan ICCU itu nyawa pasien hanya bermain dengan waktu. Artinya juga bahwa jika obat yang dibutuhkan pasien tidak ada di apotik RSUD atau tidak ada juga di luar apotik RS, atau ada di luar apotik RSAD tapi pasien tidak punya uang, maka pastilah pasien akan meninggal," kata Nelci.

Nelci sangat berharap agar ke depan pihaknya dilibatkan sejak perencanaan sehingga bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengenai jumlah tenaga di instalasi farmasi, Nelci mengatakan cukup memadai. Hingga kini ada 18 tenaga apoteker, tenaga teknis kefarmasian 36 orang dan tujuh orang tenaga administrasi.

"Kuantitas dan kualitas tenaga di Instalasi farmasi memadai," kata Nelci. (vel)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved