Lipsus Obat di RSUD Yohannes Kupang

Kata Manajemen RSUD Kupang Pasien BPJS Dapat Ganti Rugi

Pasien BPJS di RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang yang membeli obat di luar apotek BPJS bisa mendapat ganti rugi dari BPJS melalui apotek RSU Kupang.

Kata Manajemen RSUD Kupang Pasien BPJS Dapat Ganti Rugi
POS KUPANG/NOVEMY LEO
APOTEKER - Salah seorang Apoteker di Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) Prof. Dr. Yohannes Kupang, melayani pasien mengambil obat di IFRS, Selasa (4/10/2016) siang. 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pasien BPJS di RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang yang membeli obat di luar apotek BPJS bisa mendapat ganti rugi dari BPJS melalui apotek RSU Johannes Kupang. Asalkan obat tersebut masuk dalam daftar Obat Formularium Nasional.

Hal itu disampaikan Direktur RSU Johannes Kupang, drg. Dominikus Mere, Wadir Pelayanan dan Penunjang, dr. Aletha Pian, dan Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Nelcy Ndun, S.Farm, Apt, ditemui di tempat berbeda, Senin-Selasa (3-4/10/2016).

Penegasan ini menjawab keluhan pasien BPJS soal pembelian obat di luar apotek rumah sakit yang terjadi selama ini. Sejumlah pasien mengaku tidak tahu kalau pembelian itu bisa diganti.

Sebagian pasien lain mengeluh realisasi ganti rugi uang pembelian obat oleh RSU Johannes Kupang sangat lama. OM, pasien BPJS yang menjalani operasi sejak Agustus 2016 mengaku ada beberapa obat yang dibelinya dari luar apotek RSU Johannes Kupang hingga Oktober ini belum mendapat ganti rugi. Setiap kali ditanya ke apotek, petugas menjawab belum ada dana dari bagian keuangan RSU.

OM menyarankan agar pihak apotek membuat banner yang ditempatkan di depan apotek. Banner itu bertuliskan nama jenis-jenis obat yang masuk dalam formularium nasional, sehingga pasien tahu dan mengerti. Pasien lainnya, NN, mengungkapkan bahwa ganti rugi pembelian obatnya enam bulan belum dibayar oleh rumah sakit.

"Pasien bolak balik dari luar kota ke RSU Johannes Kupang hanya untuk mendapat ganti rugi pembelian obat, namun saat ditanya petugas apotek, bilang belum ada uangnya. Masa pergantian sampai berbulan-bulan. Lamanya di mana?," kata NN.

Kepala IFRS, Nelci mengatakan, untuk mendapat ganti rugi pembelian obat pasien harus memasukkan nota kwitansinya. Setelah itu dicek pihaknya akan meneruskan ke bagian pelayanan dan keuangan untuk keluarkan dana.

Dana itu diberikan kepada apotek untuk dibayarkan kepada pasien yang bersangkutan.

"Prosesnya seperti itu, karena harus dilihat dulu apakah obatnya bisa mendapat ganti rugi atau tidak," kata Nelci.

Hal senaga dikatakan dr. Aletha, bahwa prosedur pergantian pembelian obat melalui berbagai alur guna pengecekan ketelitian admisnistrasi. Lalu mendapat verifikasi dari BPJS barulah dana ganti rugi dibayarkan kepada pasien. Agar bisa cepat terealisasi, lanjutnya, semua pihak terkait harus bekerjasama. Karena jika macet di satu bagian, akan lama realisasinya.

"Ini kerja tim, sehingga harus kompak. Bagian keuangan menerima rekapan dari farmasi setiap akhir bulan untuk melaukan verifikasi. Paling sebulan sudah direalisasikan, jika tidak ada kendala," kata Aletha. Nelci mengaku pihaknya sering dimarahi pasien BPJS karena lama proses pergantian pembelian obat.

Karena itu, lanjut Nelci, ia sudah pernah membuat rencana draft semacam alur pasien beli obat di luar dan proses pergantian pembelian obat. Draft alur itu ditempel di depan apotek sehingga pasien tahu.

"Rencana alur pembelian dan pergantian obat yang saya bikin itu sudah disetujui oleh Kabid Pelayanan, tapi ending-nya tidak tahu sampai di mana," kata Nelci.

Mengenai pembuatan dan pemasangan banner untuk nama obat yang masuk formularium nasional, Nelci mengatakan, akan memperhatikan usul itu. (vel)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved