Deno Kamelus Sangat Bangga, Lima Warisan Leluhur Manggarai
Kini warisan itu sudah menjadi budaya nasional Indonesia dan dunia. Bahkan UNESCO mengakui keunikan warisan budaya orang Manggarai.
Kamelus menyatakan, pemerintah terus memberikan dukungan kepada masyarakat di kampung-kampung supaya semakin mencintai budaya leluhur.
LELUHUR orang Manggarai Raya (Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan manggarai Timur) di Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggalkan warisan unik.
Kini warisan itu sudah menjadi budaya nasional Indonesia dan dunia. Bahkan UNESCO mengakui keunikan warisan budaya orang Manggarai.
Dari sekian banyak warisan leluhur di Kabupaten Manggarai, ada lima yang sudah ditetapkan menjadi budaya nasional. Dan, satu menjadi budaya dunia. Kelima warisan leluhur itu adalah Tarian Caci, Penti, Lodok, arsitektur rumah gendang (Mbaru Niang), dan Kampung Adat Waerebo.
Ditetapkan menjadi budaya nasional dan dunia karena dalam ritus dan warisan yang ada terkandung banyak cerita dan falsafah hidup masyarakat Manggarai Raya. Bahkan, warisan itu masih hidup di tengah-tengah arus budaya global.
Bupati Manggarai, Deno Kamelus, kepada KompasTravel, Jumat (9/9/2016) menjelaskan, pemerintah secara nasional menghargai tradisi dan warisan leluhur yang masih hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Ini juga bagian dari perhatian dari pemerintah pusat untuk melestarikan budaya-budaya khas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
"Sebagai Bupati Manggarai saya sangat bangga dengan lima warisan leluhur orang Manggarai ditetapkan menjadi budaya nasional dan dunia. Kelima warisan itu adalah Tarian Caci, Penti, Lodok, arsitektur Rumah Gendang dan Kampung Adat Waerebo. Yang lebih membanggakan lagi adalah Waerebo ditetapkan oleh UNESCO sebagai budaya dunia," kata Kamelus.
Kamelus menjelaskan, Pemkab Manggarai terus memberikan dukungan kepada masyarakat di kampung-kampung supaya semakin mencintai budaya leluhur. Selain itu, pemerintah selalu hadir saat ritus-ritus penti dan sebagainya. Diakui Kamelus, warisan ini sebagai simpul pengembangan pariwisata di Manggarai dan sekitarnya.
Adapun pengertian dari lima warisan leluhur orang Manggarai yang dihimpun KompasTravel sebagai berikut. Pertama, Tarian Caci. Keunikan dari tarian ini adalah menari-nari sambil melantunkan nyanyian lokal. Selain, permainan caci adalah permainan satu lawan satu. Ada dua pasang yang saling memukul dan menangkis. Lawan memukul dengan cemeti sedang yang satu menangkis dengan tameng berbentuk bulat yang terbuat dari kulit kambing, kerbau dan sapi.
Tarian ini juga mengungkapkan sebuah kegembiraan dari orang Manggarai terhadap ritual adat, seperti perkawinan, syukuran atas tahbisan imam, peresmian rumah adat.
Permainan rakyat ini dilakukan satu lawan satu. Meski saling pukul dan menimbulkan luka, tidak ada dendam diantara kedua pemain. Bahkan warisan ini selalu ditampilkan pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Kabupaten Manggarai.
Yang unik dari tarian ini adalah ada nilai persatuan dan persaudaraan. Jika satu kampung akan menggelar tarian caci dengan tema-tema tertentu seperti syukuran Imam Baru, maka warga di kampung itu mengundang kampung tetangga untuk meramaikan syukuran.
Tak ada permusuhan dalam tarian ini, baik di arena pertandingan maupun di luar. Baik seseorang mengalami luka di tubuhnya akibat terkena cemeti, tak ada pembalasan di luar arena. Semua diselesaikan di arena pertandingan tersebut.
Kedua, Penti. Penti dapat diartikan dengan syukuran. Penti dilaksanakan sekali setahun. Syukuran atas keberhasilan panen dan lain sebagainya. Satu kampung berkumpul dalam satu rumah adat yang disebut Mbaru Gendang untuk mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan selama setahun.
Uniknya, semua warga masyarakat dari beberapa suku dari satu kampung, yang tersebar di kampung lain diundang hadir untuk mengikuti ritualnya. Penti juga sebagai perjumpaan kekeluargaan. Rasa kekeluargaan dan keakraban sangat terasa. Bahkan, saat itu untuk mengenal satu sama lain yang masih memiliki hubungan kekeluargaan.