Breaking News

Nama Baik

Pater Paul ingin murid-muridnya sungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan. Kadang-kadang cenderung menuntut hasil "sempurna" dari mereka.

Editor: Agustinus Sape
istimewa
Logo SVD 

In Memoriam: Sang Guru Pater Paulus Ngganggung, SVD

Oleh: Edu Dosi, SVD
Mantan Murid

PATER Paulus Ngganggung, SVD, meninggal dunia hari Jumat tanggal 26 Agustus 2016. Almarhum telah menoreh sepenggal sejarah dan meninggalkan jejak kenangan tentang dirinya sebagai imam, biarawan dan misionaris. Cerita hidupnya telah ditulis pada harian ini (Pos Kupang, 27/8/2016). Dengan rasa terima kasih saya menulis pula secuil makna mengenai almarhum Pater Paul sebagai imam yang guru.

Saya mengangkat bagian awal dari proses saya mengalami dan belajar pada Pater Paul sang guru. Pilihan ini diambil atas pertimbangan, itulah tahap dimana saya mendapatkan banyak pelajaran yang amat berharga dari Pater Paul. Tentu saja saya subyektif, dan bisa dinilai berceritera yang baik-baik saja tentang guru saya ini. Tetapi saya juga memetik hal lain yang mulia dan bermakna dari proses belajar ini.

Keseharian Guru yang Sederhana
Allah telah menempatkan hidup P. Paul dalam aliran narasi sejarah Serikat Religius Sabda Allah (SVD) dan kehadirannya telah menyentuh pembentukan diri banyak anak didiknya. Dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman keseharian sederhana yang saya alami.

Suatu yang tak terabaikan bahwa sebagian pengalaman hidup saya sebagai pastor, jurnalis, pekerja media, dosen ilmu komunikasi, terbentuk berkat andil dari banyak pihak. Jumlah mereka lebih dari yang bisa dicatat pada sepotong tulisan ini. Dalam percikan kisah hidup, saya tak bisa melupakan mereka dan Pater Paulus Ngganggung, SVD khususnya. Saya merenung dan mengingat dia sebagai guru. Tulisan ini sebagai penghargaan yang tulus pada almarhum Pater Paulus Ngganggung, SVD yang memberi keteladanan pada komitmen sebagai imam, religius-misionaris dan guru/dosen.

Di balik kesehariannya sang guru telah memberikan kesaksian yang sangat bernilai dalam cara hidupnya yang dikenal tertib waktu, disiplin dalam tugas dan tanggung jawab, beriman dan berilmu serta beramal, suka membantu mahasiswa, umat dan keluarga serta membuat aneka terobosan. Beliau tegas dalam pendirian dan mengambil keputusan. Sepintas orang keliru melihat tampang yang tegas dikira pemarah, ternyata beliau sangat lembut hati.

Pastor John Salu, SVD memberi kesaksian dalam khotbahnya pada saat pemakaman bahwa P. Paul pribadi yang jujur, terus terang. Dengan tegas ia mengatakan ya dan dengan tegas pula ia katakan tidak.

Pater Paul ingin murid-muridnya sungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan. Kadang-kadang cenderung menuntut hasil "sempurna" dari mereka. Tapi Pater Paul lebih banyak berusaha toleran terhadap ketidak-sempurnaan kami yang lebih muda. Saya bersyukur dapat belajar langsung dari Pater Paul dan mengenalnya lebih dekat dalam hubungan guru dan murid.

Sosiolog
Pater Paul memang salah seorang guru sosiologi dan sosiolog yang kuat analisis sosialnya. Seorang yang sangat lapang dalam ruang diskursus. Saya mengikuti kuliah sosiologi yang diajarkan Pater Paul pada tahun 1979. Sebelumnya saya dan kawan-kawan kelas sudah mendapat "bocoran" dari kakak-kakak kelas bahwa beliau menyajikan materi sosiologi sangat baik. Kuliah beliau "enak" didengar, sembari tiap kali kuliah pasti ada bumbu cerita lucu yang kerap dilontarkan dengan logat lokal kraeng Manggarai, bangsawan Kerajaan Todo Pongkor.

Setelah pertengahan semester, kami merasakan "nyawa" kuliah sosiologi seperti halnya nyawa mata kuliah-mata kuliah yang lain. Hal ini bisa nampak pada julukan-julukan yang diberikan pada dosen-dosen. Kawan-kawan frater memberi julukan untuk dosen-dosen seturut acara-acara di TVRI zaman itu.

Ada yang dijuluki dosen "Ria Jenaka", karena hampir sepanjang jam kuliah mengocok perut mahasiswa dengan cerita, ungkapan bahkan gerak yang lucu, yang kerap tidak ada sangkut-pautnya dengan materi kuliah. Kalau mahasiswa tertawa terpingkal-pingkal, apa lagi kalau bersorak riuh dengan iringan tepuk tangan berulang-ulang, wajah sang dosen seketika merekah mengungkap rasa bangga, sementara kami sendiri sering merasa geli. Tapi ada pula yang digelari dosen "Irama Seriosa". Ini untuk dosen yang jarang bercanda di ruang kuliah. Tapi itu belum apa-apa, masih ada julukan yang lebih berat, dosen "Mimbar Agama". Yang ini untuk dosen yang kuliahnya benar-benar tenggelam dalam kesepian tremendum. Ada pula dosen yang dijuluki "Kapal Ratu", lantaran rajin berkeliling mengunjungi mahasiswa frater. Seorang dosen asal Jerman karena berbadan subur, beliau sering disapa "Moat Gete" (bahasa Sikka: tuan besar). Lain lagi julukan untuk dosen mata kuliah antropologi budaya. Karena kuliahnya lebih banyak menyoroti antropologi Lio, maka para frater dengan enteng menjulukinya "Manusia Lio".

Sementara Pater Paul dikenal dengan julukan dosen mimbar "dari desa ke desa", seperti acara di TVRI zaman itu, karena beliau sering memberi contoh-contoh dari lingkungan pedesaan, terlebih ketika memberi contoh-contoh analisis sosial.

Analisis Sosial
Untuk latihan analisis sosial, Pater Paul memberi kami sejumlah tugas, antara lain, menganalisis karikatur-karikatur dari koran, termasuk dari Harian Kompas. Saya masih ingat karikatur pengemudi mobil yang melanggar aturan lampu merah karena tak ada polisi, sementara di sampingnya ada karikatur pengemudi mobil yang mengikuti aturan lampu merah karena ada polisi yang lagi bertugas jaga. Jadi orang tak menghargai aturan, orang mentaati aturan hanya karena takut polisi. Jika tak ada polisi aturan dilanggar.

Saya merasa senang dengan tugas-tugas analisis sosial itu. Saya juga berusaha sendiri belajar analisis sosial. Pada pesta Famili Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero, 1980, diadakan banyak perlombaan, antara lain, lomba menganalisis realitas sosial dalam karikatur surat kabar. Saat itu, saya baru duduk di semester tiga. Pesertanya semua Frater Ledalero dari semester awal hingga semester akhir. Saya gembira bahwa saya ditetapkan sebagai juara satu lomba tersebut. Saya mendapat hadiah ikon Yesus yang dibuat oleh kelompok kreatif di bawah bimbingan dosen Br. Guus Cremers, SVD.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved