Nita Inspirasi untuk Desa-desa di NTT
Desa Nita menjadi juara tingkat nasional karena memiliki visi nyata terutama menyangkut konsep Desa Membangun, Membangun Desa
MASYARAKAT Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka begitu bersamangat saat menyambut sang kepala desa, Antonius B.Ludju yang tiba di Maumere, Sabtu (20/8/2016), usai menerima penghargaan dari Menteri Dalam Negeri di Jakarta. Ia sambut layaknya pahlawan oleh warga yang kemudian mengaraknya kembali ke Desa Nita.
Masyarakat Nita memang sangat bangga dengan kepala desanya yang sukses memimpin Desa Nita hingga menjadi desa terbaik dan juara dalam Lomba Desa tingkat nasional.
Desa Nita menjadi juara tingkat nasional karena memiliki visi nyata terutama menyangkut konsep Desa Membangun, Membangun Desa yang sudah dijabarkan dalam Permedagri No.8.
Menurut sang Kepala Desa, Antonius Ludju, apa yang dilakukan Desa Nita berangkat dari hal-hal yang sederhana dan dilandasi semangat kebersamaan. Dengan berpegang pada dua hal inilah Desa Nita akhirnya bisa mengukir prestasi di tingkat nasional.
Disimak dari penjelasan tersebut, maka tidak sulit sebenarnya untuk membangun desa sesuai dengan ketentuan yang ada, sebab masyarakat desa sebenarnya sudah memiliki nilai-nilai dasar membangun, diantaranya sikap gotong royong dan kebersamaan sebagai warga desa.
Apa yang sudah dilakukan warga Desa Nita bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di NTT. Apalagi kultur hampir semua desa di NTT sama. Artinya, apa sudah dilakukan warga Desa Nita sebenarnya bisa juga dilakukan oleh desa-desa lain di NTT.
Di Provinsi NTT saat ini terdapat sekitar 2.995 desa dan kelurahan yang tersebar di 22 kabupaten/kota. Namun dibutuhkan orang seperti Anton yang mampu merangkul semua komponen warga untuk membangun desanya.
Para kepala desa lain bisa belajar dari pengalaman Anton ini, sehingga tidak perlu lagi melakukan studi banding ke wilayah lain di luar NTT. Sebab Nita sudah menunjukkan kepada Indonesia bahwa warga desa itu mampu membangun desa sesuai harapan pemerintah dan kini sudah menjadi nyata.
Ada tiga poin dalam upaya membangun desa yaitu partisipatif, transparansi dan akuntabilitas. Di Desa Nita dalam merencanakan sesuatu didahului oleh musrenbang yang melibatkan RT/RW. Ini dilakukan supaya aspirasi masyarakat terjaring dengan baik.
Dalam hal tranparansi, semua penggunaan keuangan dilaporkan secara transparan, bahkan laporan tersebut dibuat dalam ukuran besar dan dipajang di tempat yang bisa diakses semua warga. Bahkan kepala desa memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan informasi pembangunan dan anggaran sehingga seluruh masyarakat tahu.
Menyangkut akuntabilitas, kepala desa selalu mempertanggungjawabkan tugas secara profesional yang sifatnya melayani. Kemampuan sang kepala desa Anton yang bisa merangkul warga ini terbukti dengan kesuksesannya menjadi yang terbaik dalam lomba desa tingkat Indonesia, dan kesuksesannya juga nyata dan menjadi kegembiraan semua komponen warga Desa Nita. Ini tergambar saat ia disambut warga mulai dari sambutan dan mengusungnya sampai di Nita.*