Nusyirwan Setuju Full Day School

Berbagai fasilitas disiapkan Sekolah Dasar (SD) Fastabiqul Khairat Samarinda yang menerapkan sistem pembelajaran semi full day school

Editor: Agustinus Sape
tribun kaltim
Siswa Sekolah Dasar Bermain Piano_NEVRIANTO HARDI PRASETYO 

POS KUPANG. COM, SAMARINDA - Berbagai fasilitas disiapkan Sekolah Dasar (SD) Fastabiqul Khairat Samarinda yang menerapkan sistem pembelajaran semi full day school. Hal ini untuk memberikan kenyamanan bagi anak didik serta orang tua.

SD Fastabiqul Khairat satu dari beberapa sekolah swasta di Kota Samarinda yang mulai mendekati pola pengajaran full fay school yang kini mulai diwacanakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Muhadjir Effendy.

"Kami sebenarnya tidak full day school. Kami setengah full day. Waktu sekolah berakhir hingga pukul 15.00 Wita. Jam belajar tersebut juga tak seluruhnya diterapkan untuk setiap kelas. Hanya kelas 4, 5 dan 6 SD yang menjalani pengajaran hingga sore hari," kata Suyono, Wakil Kepala Sekolah SD Fastabiqul Khairat.

Mengatasi kebosanan yang kemungkinan dialami anak didik saat menjalani panjangnya waktu belajar, SD Fastabiqul Khairat sudah siap dengan berbagai fasilitas pendukung.

"Kami siapkan fasilitas mulai kantin yang luas, ruang tunggu ber-wifi, lapangan sepakbola, laboraturium komputer kami ada dua, serta perpustakaan," ujarnya.

Hal itu ditambah lagi dengan area permainan khusus di depan sekolah PG-TK Fastabiqul Khairat. Banyaknya fasilitas tersebut, membuat anak-anak kadang tidak merasa ingin cepat pulang dari sekolah.

"Di sini, saya tak pernah melihat ada anak yang stress, meskipun pembelajaran dilakukan hingga pukul 15.00 Wita. Bahkan ada anak didik kami yang harus menunggu hingga pukul 17.00, karena belum dijemput, dan dia tidak merasa canggung berada di sekolah. Jadi, kami membuat sekolah itu menjadi rumah kedua," katanya.

Permasalahan fasilitas inilah yang diungkapkan salah satu orangtua murid, Nike yang menilai agak sulit jika full day school dilakukan di sekolah negeri.

"Sekolah negeri bakal keteteran jika full day dilakukan. Bayangkan, ada sekolah yang ruang kelasnya saja harus bergantian. Bagaimana itu bisa dilakukan jika nantinya sekolah terapkan full day. Belum lagi fasilitas lain seperti area bermain, kantin luas yang tak dimiliki sekolah negeri. Kalau swasta mungkin bisa lakukan itu," ucapnya saat ditemui di sekolah tersebut.

Lebih lanjut, Suyono menjelaskan, untuk tambahan pelajaran yang diberikan sekolah menambah pelajaran bahasa Inggris, mengaji serta bahasa Arab.

Meskipun pembelajaran dilakukan hingga pukul 15.00, konten materi yang diberikan juga masihlah bersahabat dengan anak didik.

"Siang hari itu, kami ajak anak didik makan di food court, kemudian shalat Dzuhur, baru kami berikan waktu istirahat. Jadi, kami juga masih ramah waktu dengan anak, tak full belajar hingga pukul 15.00 WITA," ucapnya.

Pemkot Balikpapan belum bisa merespon wacana full day school . Ditemui di sela-sela Rakor dan Supervisi Pencegahan Korupsi, bersama Komisi Pemberantasan Korupsi, Walikota Balikpapan Rizal Effendi mengaku belum bisa memberikan penilaian.

"Kan ramainya baru di media. Kita belum tahu kontennya apa. Tujuannya bagaimana? Jadi kita belum bisa bersikap," kata Rizal, Rabu (10/8), di Kantor Gubernur Kaltim.

Namun, Rizal meminta kepada Presiden Joko Widodo agar stigma ganti menteri, ganti kebijakan, tidak melekat di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Ya kita minta ke Pak Menteri, terutama ke Pak Presiden agar Kemendikbud ini tidak identik dengan ganti menteri, ganti kebijakan. Kan selama ini seperti itu," kata Rizal.

Jika stigma tersebut terus berlanjut, Rizal khawatir justru akan mengganggu sistem pendidikan. "Ganti menteri, ganti sistem. Kan nantinya bukan malah baik meski tujuannya baik. Jangan (ganti sistem) supaya beda saja," kata Rizal.

Rizal juga mengingatkan dampak penerapan full day school terhadap anggaran pemerintah daerah. Terlebih, dana transfer dari pusat terus terpangkas.

Di tempat sama, Wakil Walikota Samarinda Nusyirwan Ismail mengatakan sistem full day school cocok diterapkan di Samarinda. "Samarinda inikan perkotaan. Identiknya dengan suami dan istri yang bekerja. Jadi menurut saya cocok," kata Nusyirwan.

Namun, Nusyirwan berharap kebijakan ini diterapkan secara bertahap. Seperti penerapan Kurikulum 2013 (K13). "Tidak bisa sekaligus. Harapannya tiap daerah ada pilot project. Jika sukses, maka cakupannya terus diperluas," sebut Nusyirwan.

Pendidikan karakter, yang menjadi konten full day pun diapresiasi oleh Nusyirwan. "Komposisinya kan pendidikan karakter ini lebih banyak di tingkat dasar dan semakin mengecil ke atas digantikan oleh skill," katanya lagi.

Tak berbeda dengan pernyataan Rizal, Nusyirwan pun berharap ada pembicaraan lebih lanjut mengenai beban anggaran, sebagai imbas program ini. "Harapannya ada bantuan APBN. Mungkin Bosnas (Bantuan Operasional Sekolah Nasional) ditambah," ucap Nusyirwan. (Tribunkaltim)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved