Mading Sekolah dan Produksi Ide
Halnya Suara Bina Karya, pemilihan kata 'Suara' sangat kental dengan maksud internal sekolah bahwa
Oleh Arie Putra
Staf Guru pada SMA Bina Karya Atambua
POS KUPANG.COM - Terbitlah Majalah Dinding sekolah SMA Bina Karya Atambua dengan nama Suara Bina Karya. Sebuah nama dengan aksentuasi khusus pada motto kecil Mading ini yakni Merangkai Para Bintang. Tentu Mading hadir dengan caranya sendiri sebagai wadah yang multi fungsi dan tujuan. Fungsi dan tujuannya sebagian besar diungkap secara implisit oleh nama yang terpampang besar di ufuk atas dindingnya.
Halnya Suara Bina Karya, pemilihan kata 'Suara' sangat kental dengan maksud internal sekolah bahwa esensi dari suara yang dibentuk oleh kata dan kata-kata perlu untuk diteriakkan ke luar dan ke dalam. Arah ke luar menuju kepada masyarakat umum. Arah ke dalam tertuju kepada elemen internal sekolah. Isi teriakan itu bisa sangat sederhana pun serius. Sebab pada hakikatnya Mading sebagai media informasi dan komunikasi bertugas untuk meneriakkan isi hati dan isi kepala.
Di samping fungsi yang sifatnya pragmatis itu, dipikirkan pula mengenai satu fungsi lain keberadaan sebuah Mading yakni sebagai wahana produksi ideasional. Sekolah sebagai komunitas akademik menjalankan fungsinya sebagai penuntun generasi muda untuk menjadi pemikir. Ide-ide peserta didik diakomodasi secara serius dan ditempelkan pada Mading. Aktualisasi proses berpikir dalam bentuk tulisan menjadi tahap kegiatan pembelajaran penting yang harus dilaksanakan oleh lembaga pendidikan. Hal ini mengandaikan keterampilan membaca dan menulis juga dipupuk dengan melatih dan memotivasi para siswa perihal dunia tulis-menulis.
Melampaui Pragmatisme Pendidikan
Adalah sebuah kekeliruan berpikir jika melihat sekolah sebagai lahan menciptakan tenaga kerja. Cara pandang inilah yang menggerus eksistensi sekolah sebagai tempat pengembangan akal budi dan pembentukan karakter manusia. Sekolah-sekolah kuno di Yunani didirikan sebagai pusat latihan berpikir tentang alam semesta raya dan isinya. Manusia yang mengalami ketakjuban akan labirin semesta raya, lalu melahirkan sejuta tanya. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan coba dicari jawabannya pada dunia kehidupan. Ketakjuban itu pun melahirkan pemahaman tertentu dalam bentuk pengetahuan filosofis, teologis, matematis, dan teknik.
Di Amerika Serikat, pragmatisme pendidikan lahir akibat resesi ekonomi dan inflasi yang tinggi sejak era 70-an. Godaan yang bersumber dari The New Vocationalism merenggut mereka dari pusat pendidikan untuk pembentukan manusia. Namun demikian, respons Amerika atas situasi ini sungguh mengesankan. Mereka memperluas pemahaman akan pentingnya budaya menulis (writing) dan mengarang (composition). Dua kompetensi ini sangat penting untuk dimiliki untuk membendung pragmatisme. Dengan menulis dan mengarang, para siswa tidak hanya menjadi insan yang taken for granted kenyataan yang ada, tetapi melatih untuk menjembatani jurang kenyataan dengan mengkonstruksi pikiran-pikiran alternatif. Singkatnya, sekolah dijadikan sebagai komunitas alternatif: tempat ide-ide baru muncul untuk mengubah kenyataan yang timpang.
Mading Sekolah untuk Produksi Ide
Latihan berpikir para siswa lewat menulis terejawantah dalam bentuk tulisan yang dimuat dalam Mading. Secara tidak langsung, lewat menulis para siswa mengembangkan logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika), linguistik intelligence (kecerdasan bahasa), bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinesik), spatial intelligence (kecerdasan spasial), personal intelligence (kecerdasan kepribadian), dan social intelligence (kecerdasan sosial). Tujuh jenis kecerdasan ini menjadi anasir dasar dalam menghasilkan ide.
Melalui Majalah Dinding sekolah, setiap peserta didik diberi ruang untuk memilih rubrik yang sesuai dengan bakatnya masing-masing. Bimbingan para guru dalam kaitannya dengan teknik penulisan dan ketepatan memilih diksi merupakan penguat motivasi siswa untuk berani menulis.
Ide tentang urgensi media pengungkapan ide di sekolah seperti Mading dapat menjadi realisasi dari kebebasan berpikir. Semakin demokratis sebuah bangsa diukur dengan keleluasaan masyarakatnya dalam menyampaikan pendapat. Pengalaman bangsa ini di bawah Orde Baru yang represif menjadi lubang yang menenggelamkan kebebasan berkreativitas beberapa deret generasi. Orde yang otoriter ini melumpuhkan arah perjalanan nalar dalam mengembangkan pengetahuan.
Bagaimana tidak, penulisan dan penafsiran sejarah dikendalikan oleh seorang penguasa. Pengaburan fakta menjadi taktik busuk untuk mengebiri kebenaran objektif. Akibatnya, selama beberapa dekade bangsa ini gagal membentuk generasi dengan jiwa yang merdeka.
Opsi kepada kebebasan berpikir yang mulai dilatih di lembaga
pendidikan harus senantiasa didukung. Pelajar, sebagai generasi produktif secara dini disadarkan akan pentingnya mengungkapkan ide secara bebas sebagai sumbangan konstruktif bagi kemajuan peradaban bangsa. Kemajuan bangsa lain dalam segala bidang dapat dijadikan contoh atau pun bahan perbandingan demi kemajuan bangsa. Ide-ide tentang kebenaran, keadilan, etika kehidupan, serta penghargaan terhadap martabat manusia harus disosialisasikan kepada para murid. Kemudian, para murid diajarkan untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri melalui tulisan.
Oleh karena itu, Majalah Dinding sekolah mesti dimanfaatkan sebagai media produksi ide tentang kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Nilai-nilai ini penting untuk dipikirkan secara serius oleh para siswa dalam mendukung program demokratisasi yang dimulai di lembaga pendidikan. Inilah cita-cita kami di SMA Bina Karya Atambua untuk kemajuan bangsa Indonesia tercinta.*