Keluarga: Merunduk dan Merangkul

Peran orang tua adalah mendampingi hingga anak benar-benar menjadi pribadi yang manusiawi, rendah hati dan berakhlak mulia.

Editor: Dion DB Putra

Belajar dari Budaya Keluarga "Umek Bubu"

Oleh Vinsen Belawa Making, SKM, M.Kes
Wakil Ketua Stikes CHMK-Sekretaris Eksekutif IAKMI Provinsi NTT

POS KUPANG.COM - Keluarga bukan tempat belajar yang formal yang hanya sekedar belajar untuk mengetahui sesuatu, tetapi keluarga merupakan tempat belajar informal bagi anak-anak untuk bagaimana memahami sesuatu, bagaimana menjadi orang yang berguna, serta bagaimana hidup baik di tengah masyarakat.

Peran orang tua adalah mendampingi hingga anak benar-benar menjadi pribadi yang manusiawi, rendah hati dan berakhlak mulia. Kuncinya bagaimana keluarga dapat merunduk dan merangkul anak-anak dengan penuh kehangatan. Hal ini telah dilakukan sejak dahulu oleh sebagian kecil masyarakat NTT dengan filosofi "Umek Bubu".

Keluarga "Umek Bubu"
Senja itu kami terpaksa berhenti di sebuah dusun kecil. Perjalanan tidak mungkin kami lanjutkan karena hari sudah telanjur gelap. Hawa dingin menggerogot hingga ke sum-sum tulang. Kami menghentikan kendaraan roda dua tepat di depan sebuah rumah. Rumah ini cukup unik karena tidak ada satu pun jendela. Bentuknya bulat kerucut. Dinding rumah bulat melingkar dengan garis tengah antara tiga sampai lima meter.

Atapnya yang berbentuk seperti kepala jamur merang terbuat dari rumput alang-alang. Ujung alang-alangnya menyentuh permukaan tanah. Tertutup dari atas hingga bawah. Pintunya setengah lonjong dengan ketinggian kurang dari satu meter. Untuk masuk orang dewasa harus membungkukkan badan terlebih dahulu.

Seseorang menyambut kami dan langsung mempersilakan kami masuk ke dalam rumah berlantai tanah tersebut. Tiba di dalam terjadi perbedaan suhu yang signifikan. Tidak ada lagi udara lembab yang dingin menusuk, tetapi tergantikan dengan suhu hangat yang melegakan. Dalam rumah berukuran kurang lebih 5x6 meter ini terdapat dua tempat tidur yang terbuat dari bambu.

Sebuah tungku api tradisional terus bernyala di ujung kedua tempat tidur. Di salah satu tempat tidur duduk seorang wanita dewasa dengan seorang bayi kecil berumur beberapa minggu. Di bawah tempat tidur tersebut berserakan bara api yang masih merah membara. Dua orang anak berumur 8 dan 4 tahun duduk bersebelahan dengan sang ibu, sedangkan sang ayah sibuk merapikan onggokan jagung (hasil panen) di pojok kanan langit-langit.

Setelah berkenalan kami baru menyadari ternyata Ibu Nifas (Ibu yang baru melahirkan) ini belum pernah keluar rumah sejak tiga minggu lalu (setelah melahirkan). Semua aktivitas dilakukan dalam rumah bulat ini dan hal ini akan terus berlanjut hingga 40 hari lamanya.

Inilah sepenggal pengalaman penulis ketika melakukan survei kesehatan dari proyek kementerian kesehatan beberapa minggu yang lalu. Kenyataan ini ditemukan di Desa Nifukani, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT. Fakta Umek Bubu/Rumah Bulat di atas merupakan tradisi yang terus dipegang teguh oleh beberapa kelompok masyarakat di daratan pulau Timor. Lantas apa yang mau kita petik dari penggalan kisah ini?

Ditinjau dari sisi kesehatan masyarakat, jelas ini sangat berisiko bagi kesehatan penghuni rumah tersebut. Umek Bubu sangat jauh dari standar sebuah rumah sehat yang mana harus memiliki cukup ventilasi untuk sirkulasi udara, cukup pencahayaan, lantai bukan tanah dan memiliki luas yang cukup untuk beraktivitas.

Jika demikian, mengapa masih ada masyarakat yang tetap mempertahankan tradisi ini? Mengapa mereka tidak menghiraukan semua anjuran petugas kesehatan? Apa yang membuat mereka masih mempertahankan semua hal ini? Jawabannya cukup sederhana, karena ada nilai luhur yang tersirat dalam tradisi ini.

Umek Bubu atau rumah bulat memiliki nilai filosofi moral yang tinggi. Pintu masuk sudah memberikan gambaran bahwa setiap orang harus saling membungkuk memberikan hormat/respek pada sesama terutama orang-orang dalam keluarga. Atap sekaligus dinding yang menutup seluruh rumah menandakan sebuah proteksi yang kuat dari keluarga terhadap semua anggota keluarganya.

Kondisi cuaca yang dingin di luar merupakan simbol ancaman bagi keutuhan rumah tangga dan benar bahwa dalam rumah tersebut ada kehangatan yang luar biasa. Semua nilai tersebut dibalut dengan kesederhanaan yang tergambar dari semua hal yang ada dalam rumah, termasuk tanah tempat berpijak yang selalu mengingatkan penghuninya pada Sang Khalik pemilik kehidupan. Nilai-nilai luhur ini terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Pola pendidikan yang diberikan dalam rumah lebih pada keteladanan orang tua, disamping tetap memberikan pendampingan secara berkesinambungan. Banyak waktu dihabiskan dalam rumah ini dengan berbagai aktivitas sederhana, seperti: bercerita dan berbagi pengalaman, berdiskusi untuk sebuah tujuan bersama, bersenda gurau, makan bersama hingga berdoa bersama.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved