Budaya Lisan versus Budaya Tulisan
Beberapa orang tua yang lain bahkan mencemaskan keadaan psikis anak mereka. Mereka bilang
Oleh Marcelinus Y.F Akoli
Dosen FKIP-Undana
POS KUPANG.COM - Beberapa orang tua mungkin pernah mengeluhkan demikian, 'Anak-anak zaman sekarang ini lebih suka bermain gadget ketimbang bicara pada orang lain. Kalau mereka itu diminta untuk memilih di antara menggunakan uang buat membeli ikan goreng atau buat membeli pulsa, kemungkinan besar mereka akan memilih duit buat beli pulsa'.
Beberapa orang tua yang lain bahkan mencemaskan keadaan psikis anak mereka. Mereka bilang, 'Anak saya itu kalau lagi main hape, kadang dia senyum-senyum sendiri tanpa alasan. Kami jadi takut kalau-kalau anak kami terpisah dari lingkungan yang nyata dan lebih percaya pada dunia dalam hape itu'. Dua pernyataan di atas bukanlah cerita kosong belaka.
Nyatanya, dalam jagat pemikiran budaya kontemporer, teknologi komunikasi dengan beragam media sosial yang kini sedang populer di banyak kalangan memang menghasilkan ciri komunikasi yang diindividualisasikan. Sebut saja Facebook, Instagram, Line, Whatsapp, Twitter dan WeChat yang menawarkan kemudahan dalam berkomunikasi, belum lagi jika ditambah SMS, MMS dan Email.
Jelas sekali bahwa dengan kemelekan aksara dan angka yang dimiliki oleh generasi sekarang, ditambah dengan dukungan teknologi komunikasi tersebut, orang sepertinya tidak membutuhkan sesama yang lain untuk berkomunikasi. Ada ruang atau dimensi lain yang lebih menggoda untuk ditelusuri, dibaca dan diberi komentar ketimbang kegiatan komunikasi langsung yang dulunya menjadi aktivitas dasar dalam interaksi sosial.
Para ahli budaya memandang budaya tulisan sebagai pemicu adanya individualisasi. Maksudnya, ketika kita membaca ataupun menulis suatu pesan, tentu saja kita tidak membutuhkan orang lain untuk membacakan atau menuliskan pesan tersebut untuk kita. Dengan tingkat kemelekan aksara dan angka yang mumpuni, kita menjadi begitu otonom dalam melakukan aktivitas komunikasi tersebut. Inilah gaya hidup masyarakat modern. Menariknya, institusi sekolah merupakan lembaga yang paling bertanggung jawab dalam menyuburkan budaya tulis ini.
Berseberangan dengan itu, budaya lisan memiliki hubungan yang erat dengan sosialisasi. Maksudnya, ketika berbicara, maka pasti kita membutuhkan orang lain sebagai rekan atau partner dalam berbicara. Jika tidak, maka kita akan dianggap sebagai orang kurang waras. Budaya lisan tidak mengandalkan buku, pena atau gadget. Budaya ini lebih mengandalkan memori kolektif sebagai tempat atau wadah di mana segenap budaya yang diwariskan tumbuh dan berkembang. Di mana budaya lisan ini merebak? Tentu saja pada masyarakat dengan tingkat kemelekan aksara dan angka yang rendah; pada masyarakat tradisional di mana komunikasi langsung yang interpersonal menjadi media utama dalam berkomunikasi.
Bisa juga budaya lisan ditemukan pada masyarakat dengan penggunaan teknologi komunikasi yang terbatas, jika memang ada. Mereka yang pernah hidup sebelum tahun 1980-an mungkin sangat merasakan budaya lisan ini. Ketika malam datang, dan semua anggota keluarga berkumpul untuk mendengarkan kisah atau dongeng yang dituturkan oleh ayah atau kakek, di situlah budaya lisan dirayakan.
Seorang ahli bahasa Australia bernama Peter Muhlhausler pernah berujar bahwa 'budaya tulisan cenderung mengancam eksistensi budaya lisan'. Mengapa demikian? Karena budaya tulisan mempromosikan individualisme sebagai lawan dari kolektivisme dan menghancurkan kerekatan-kerekatan sosial yang justru menjadi bagian esensial dalam budaya lisan. Ketika setiap individu mendapat kemerdekaan untuk mengekspresikan ide dan gagasannya, maka individu-individu tersebut adalah raja.
Hasilnya, interdependensi antar sesama manusia yang ditemukan dalam budaya lisan menjadi kehilangan bentuknya dan diganti dengan independensi. Karena itu, budaya tulisan juga turut bertanggung jawab atas hancurnya sejumlah struktur dan pranata sosial budaya kemasyaratan yang menjadi produk dari budaya lisan.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa budaya tulis itu sepenuhnya bernilai negatif dan karena itu patut ditiadakan. Penulis juga paham bahwa praktik budaya lisan pun bisa hadir dalam masyarakat berbudaya tulisan. Selanjutnya, penulis juga sadar bahwa perjuangan melawan budaya tulisan merupakan jalan absurd di tengah dunia yang semakin mengandalkan kemelekan aksara dan angka untuk bisa survive.
Namun, penulis mau menegaskan bahwa kadar vitalitas dan kualitas masyarakat kita tidak hanya ditakar melalui otonomisasi kultural orang per orang sebagaimana yang direfleksikan oleh budaya tulisan. Di dalam laju peradaban zaman yang begini progresif, bukankah nilai-nilai budaya lisan yang menawarkan solidaritas, kepatuhan dan kreativitas verbal menjadikan hidup kita lebih manusiawi, seimbang dan sehat secara fisik dan psikologis?
Dalam konteks budaya NTT, pemahaman kita mengenai sebuah periode transisi dari masyarakat berbudaya lisan kepada budaya tulisan mutlak diperlukan guna menjaga agar generasi muda kita memiliki rasa tanggung jawab yang dewasa dalam menjaga tradisi, norma dan nilai adat-istiadat. Dengan demikian, setiap kekhasan sosial-budaya kita justru menjadi identitas di tengah himpitan globalisasi yang semakin tidak peduli pada budaya lisan.
Lalu bagaimana budaya lisan itu bisa digalakkan di tengah masyarakat yang mabuk kepayang pada gaya komunikasi yang terindividualisasi? Budaya aktual kita mungkin saja berada di persimpangan dengan beberapa pilihan. Kaum muda akan dengan senang hati untuk hidup dengan budaya yang hari ini mereka lihat dan jalani. Akan tetapi, jika kita bertanya kepada orang tua kita, maka mereka mungkin bingung untuk menjawabnya.
Hal ini disebabkan karena untuk memaksa anak muda zaman sekarang hidup dan bertindak layaknya para orang tua tersebut di zaman dahulu, rasanya sulit. Namun, orang tua tersebut tidak akan tega melihat anak-anak mereka tenggelam dalam budaya kontemporer yang di mata mereka kurang bagus, tidak mendidik bahkan tidak sehat. Di seberang kebingungan ini, kita sadar bahwa hidup harian kita memiliki banyak dimensi. Maka, pada dimensi-lah kita menyadarkan harapan kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/anak-membaca_20160101_184003.jpg)