Revitalisasi Budaya Membaca

Pelajaran dari sejarah menjadi penting sebab dapat mengubah diri seseorang kendatipun tidak statis sifatnya.

Editor: Dion DB Putra
net
Ilustrasi 

Oleh Yanuarius Y.T.Igor
Tinggal di Kota Kefamenanu

POS KUPANG.COM - Salah satu filsuf Spanyol, George Santayana, pernah mengatakan bahwa mereka yang tidak mengambil pelajaran dari sejarah akan ditakdirkan untuk mengulanginya. Sebuah pernyataan reflektif yang mengindikasikan bahwa hikmah dari sejarah menjadi aspek fundamental untuk menentukan nasib dan masa depan para pelaku sejarah.

Pelajaran dari sejarah menjadi penting sebab dapat mengubah diri seseorang kendatipun tidak statis sifatnya. Artinya, dengan memaknai pelajaran sejarah seseorang dimampukan untuk menatap peluang masa depan dengan penuh optimisme.

Indonesia dengan sekelumit ceritanya di masa zilam dikenang sebagai sebuah sejarah. Fundator sekaligus tokoh sejarah pertama Soekarno-Hatta, menjadi sosok panutan sebab mereka telah mencetuskan seribu satu macam litani perjuangan menuju ruang kemerdekaan.Ruang yang kemudian menciptakan kesempatan bagi anak-anak bangsa untuk berkreasi tanpa batas.

Oleh karena itu, ilmu pengetahuan adalah salah satu atribut berharga yang selalu diutamakan dalam setiap bentuk kreasi. Dan ilmu pengetahuan itu bermakna dan menemukan esensinya berkat minat dan kemauan kuat para pelaku sejarah untuk memposisikan buku sebagai jendela dunia. Di mana melaluinya, seseorang dengan mudah membaca sejarah dunia dengan pengetahuan yang cemerlang. Bagi para sejarawan buku adalah sahabat pertama dalam hidup. Sebab dari buku seseorang akan membaca seluruh kisah dunia yang seakan menuntunnya menuju keabadian akal.

Menelisik sejarah bangsa ini bahwa para fundator, Soekarno-Hatta adalah sosok-sosok inteligensia pra Orde Baru yang dikenang sebagai tokoh-tokoh autodidak. Titel inteligensia yang mereka sandang turut merepresentasikan daya juang dan komitmen luhur mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Semangat autodidak itu mereka buktikan lewat talenta-talenta alamiah yang dikenang sepanjang hayat.

Semangat autodidak itu lebih dominan dikenang ketika Soekarno yang kemudian menjadi Presiden pertama bangsa ini selalu memanfaatkan waktu luang untuk mencintai buku-buku. Dan rasa cinta itu beliau buktikan dengan tidak melewatkan sedetik pun dalam hidup tanpa membaca. Di sini menjadi jelas bahwa Soekarno adalah sosok panutan yang telah menciptakan sejarah penting bagi bangsa Indonesia.

Semangat dan daya juang para fundator ini kemudian membumi dan tak lekang oleh waktu. Minat dan ritme hidup ala autodidak pada buku telah menginspirasi tokoh-tokoh nasional maupun internasional yang lahir pascaproklamasi kemerdekaan. Kelihatannya, tokoh-tokoh yang lahir pascaproklamasi telah memaknai pelajaran sejarah yang ditinggalkan para fundator.

Pertanyaan untuk kita yang lain saat ini adalah, sudakah kita mengambil hikmah atau pelajaran sejarah dari para penjasa? Pertanyaan ini akan menemukan relevansinya ketika setiap orang kembali menyikapi realitas saat ini. Satu realitas yang tengah berada di ambang batas dari visi-misi mulia para fundator. Realitas yang dimaksud penulis di sini adalah budaya membaca. Sebuah budaya yang tidak lagi diminati bahkan lebih mirisnya lagi bahwa budaya membaca dilihat sekadar target keinginan bukan target dari kebutuhan.

Seakan sejarah yang dicetuskan Soekarno-Hatta yang melihat buku sebagai jendela dunia itu tidak lagi menjadi atribut utama dalam sepak terjang kaum intelektual. Buku dan budaya membaca menjadi penting sejauh ada tuntutan akademik yang mewajibkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa memudarnya budaya membaca telah melahirkan aliran nihilisme dalam setiap jenjang pendidikan. Tidak lebih sebagai sebuah pretensi penulis untuk mengemukakan pernyataan demikian. Sejatinya pernyataan ini adalah bentuk keprihatinan penulis ketika disandingkan pada konteks kehidupan saat ini.

Begitu memprihatinkan belakangan ini ketika menyaksikan berita di televisi serta membaca berita di media-media massa. Bahwa minimnya budaya membaca telah memposisikan Indonesia sebagai negara yang menempati peringkat buntut. Menurut data yang dikeluarkan World's Most Literate Nations, peringkat minat baca Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara. Peringkat ini merupakan hasil penelitian dari Central Conecticut State University tahun 2016.

Tentu realitas yang memprihatinkan ini bertitik tolak dari fenomena senada yang pernah dilansir UNESCO pada tahun 2012 yang menunjukkan bahwa index tingkat membaca orang Indonesia hanya mencapai 0,001. Artinya bahwa dari 1000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku secara serius. Bahkan, Indonesia berada di peringkat 38 dari 39 negara dalam tingkat ASEAN.

Merujuk pada realitas tersebut setiap orang yang mengklaim diri sebagai pencinta sang saka merah putih berkewajiban merevitalisasi budaya membaca dalam seluruh jenjang kehidupan. Masing-masing orang dipanggil untuk memaknai pelajaran sejarah para penjasa di masa zilam. Pada tataran ini komitmen untuk menggapai titel kaum inteligensia selangkah lebih dekat menemukan momentumnya. Sebab dengan membaca orang akan dipermudah untuk memahami dunia kehidupannya serta dunia kehidupan yang ada di luar dirinya. Budaya membaca menjadi sangat urgen untuk dihidupkan kembali dalam setiap kesempatan hidup sebab dengan metode demikian setiap orang diperkaya dalam perkembangan aspek kognitifnya.

Daya nalar dan kemampuan berlogika akan semakin diasah apabila budaya membaca terus mewarnai ruang gerak atau menjadi kebutuhan utama bagi para kaum intelektual. Menjadi bahan yang inspiratif untuk direnungkan ketika dalam acara Mata Najwa yang bertemakan, tak sekadar membaca, Najwa Shihab sebagai pengampuh acara ini mengatakan bahwa sangat banyak orang sudah melek aksara, berapa yang benar-benar membaca? Membaca bukan cuma mengikuti baris-baris kata, itu namanya hanya sekadar mengeja.

Membaca ialah upaya merekuk makna ikhtiar untuk memahami alam semesta. Itulah mengapa buku disebut jendela dunia, yang merangsang pikiran agar terus terbuka. Karena budaya membaca prasyarat jadi bangsa yang hebat, bagaimana cara agar budaya membaca kian melesat? (LiveMetroTV, 11/5/2016).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved