Teknologi Pendidikan: Sandal Jepit yang Terabaikan

Teknologi pendidikan adalah salah satu bidang keilmuan dan juga praktik yang sudah berlangsung sejak lama

Editor: Dion DB Putra
Net
Ilustrasi 

Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd.
Puket I STKIP Santu Paulus Ruteng, Alumnus Prodi S2 dan S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dan Anggota Ikatan Pengembang Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI)

POS KUPANG.COM - Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia pada tanggal 21-24 April 2016, melakukan temu kolegial di Makassar. Perhelatan itu diikuti oleh 32 perguruan tinggi tersebut dihadiri oleh 85 teknolog pendidikan membahas berbagai isu, baik tentang kelangsungan hidup program studi teknologi pendidikan, trend-trend keilmuan dalam teknologi pendidikan, dan kontribusi teknologi pendidikan bagi pembangunan bangsa. Satu isu menarik yang mengemuka adalah masalah relevansi dan status profesionalisme lulusan-lulusannya.

Menelisik Sejarah
Teknologi pendidikan adalah salah satu bidang keilmuan dan juga praktik yang sudah berlangsung sejak lama bahkan setua usia manusia itu sendiri. Para filsuf Yunani kuno dulu dalam praktik-praktik pengajarannya menggunakan prinsip-prinsip teknologi pendidikan. Socrates misalnya dengan metode tanya jawab (sering disebut metode Socrates) secara implisit menerapkan prinsip-prinsip teknologi pendidikan.

Bahwa siswa harus ditantang untuk berpikir agar bisa menemukan hal-hal yang baru entah ide, gagasan, bahkan praktik. Dengan bertanya secara terus-menerus, para siswa dilatih untuk berpikir secara kritis, tidak puas dengan jawaban-jawaban yang ada dan harus terus menerus mengkritisi jawaban-jawaban yang sudah ada.

Bahkan ketika Yesus dari Nazareth tampil di depan publik sebagai nabi dan guru, ia juga mempraktikkan prinsip-prinsip teknologi pendidikan. Ketika ia mengajar dalam bahasa para pendengarnya, berbicara dengan berbagai analogi atau perumpamaan, dia juga sedang menggunakan prinsip teknologi pendidikan. Yang menarik adalah St. Paulus dari Tarsus. Ia mengajar dengan menggunakan teknologi surat-menyurat.

Surat Paulus yang pertama kepada Jemaat di Korintus dianggap telah memberikan inspirasi bagi para ahli di Universitas Chicago untuk merancang pembelajaran dengan surat-menyurat pada akhir abad ke-20 dan menjadi cikal-bakal pembelajaran jarak jauh atau universitas terbuka di dunia saat ini.

Sebagai sebuah bidang ilmu dan praktik, teknologi pendidikan baru berkembang sejak studi-studi awal tentang bagaimana manusia bisa belajar. Dan ini merupakan sebuah konvergensi dari bidang-bidang psikologi dengan teknologi. Ketika PD II berkecamuk, pemerintah sekutu menyadari kebutuhan untuk melatih para tentara, pilot, secara cepat dan tepat.

Tuntutan itulah yang kemudian mendorong berbagai riset tentang teknologi pembelajaran yang menghasilkan berbagai alat bantu dan media pendidikan. Salah satu tokoh penting dari perkembangan ini adalah Robert M. Gagne, yang dulu pernah bekerja di dinas militer Amerika Serikat yang ditugaskan merancang program-program pembelajaran bagi para tentara dan pilot di Amerika untuk persiapan darurat perang.

Di Indonesia, pengaruh teknologi pendidikan mulai terasa terutama pada era 1970-an. Pada tahun-tahun itu mulai dibuka program studi teknologi pendidikan di IKIP Jakarta kemudian disusul beberapa IKIP lainnya pada tahun 1980-an. Pada waktu itu pemerintah membuka satu pusat teknologi yakni Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan (PUSTEKOM) pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) untuk menyediakan berbagai program pembelajaran. Semua ini dilakukan karena satu masalah krusial pada awal pemerintahan Order Baru adalah masalah akses dan pemerataan pendidikan.

Angka buta aksara masih tinggi di berbagai daerah, begitu juga angka partisipasi pendidikan pada berbagai jenjang juga masih rendah serta layanan-layanan pendidikan masih terbatas.

Untuk mengatasi masalah itu, maka pemerintah menyediakan program siaran pendidikan yang disiarkan secara rutin oleh RRI pusat dan juga TVRI. Pustekom Depdikbud bekerjasama dengan IKIP Jakarta menyediakan program-program siaran pendidikan tersebut. Khusus bagi para guru, juga disediakan siaran pendidikan melalui RRI untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Pustekom bahkan masih eksis sampai sekarang dan memproduksi berbagai media dan sumber belajar dengan format-format multimedia.

Ibarat Sandal Jepit yang Terlupakan
Di era teknologi komunikasi dan informasi ini yang sangat pesat perkembangannya, peran teknologi pendidikan seperti semakin suram bahkan semakin tidak dirasakan. Bidang keilmuan ini bahkan sudah menjadi lahan rebutan dan tumpang tindih dengan bidang-bidang lain seperti teknik informatika, computer, desain multimedia, komunikasi audio visual, dan lain-lain.

Jatidirinya sebagai sebuah bidang keilmuan yang khas seperti kurang nampak. Ini memang beralasan karena sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Gary J. Anglin (1995), teknologi pendidikan adalah sebuah bidang keilmuan yang bersifat eklektik, yakni bidang yang mengambil sumbangan dan manfaat dari berbagai disiplin ilmu (psikologi, komunikasi, sosiologi, filsafat, antropologi, ekonomi, dll).

Ibarat sandal jepit, karena terlalu sering dipakai, maka sering dilupakan pula manfaatnya yang vital. Padahal dia memiliki sumbangan yang penting. Padahal ketika guru mengembangkan kurikulum dan perangkat pembelajaran, ketika mereka mencari kiat-kiat mengatasi masalah belajar siswamereka sebenarnya menggunakan prinsip-prinsip teknologi pendidikan. Bahkan ketika perusahaan-perusahaan melakukan in-house training kepada karyawan baru, mereka sebetulnya menggunakan prinsip-prinsip teknologi pendidikan.

Sampai saat ini terdapat sekitar 32 program studi teknologi pendidikan di seluruh Indonesia baik yang ada di PTN maupun PTS. Bidang garapan teknologi pendidikan juga luas. Namun dari sharing para pengelola program studi teknologi pendidikan, sebagian program studi mengalami nasib mati suri karena kurang diminati. Hal ini terjadi karena status profesional dari pekerja-pekerja di bidang ini belum jelas, terutama di sector-sektor pemerintahan. Hampir sebagian besar lulusan program studi ini bekerja sebagai pengembang-pengambang kurikulum, desain pembelajaran, ahli media, di lembaga-lembaga pendidikan formal, lembaga-lembaga diklat, maupun juga di perusahaan-perusahaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved