Golden Goal
Kedua, Pemkab Ngada berkomitmen untuk mendefinitifkan status Undana II Bajawa menjadi Universitas Negeri Flores
Oleh Silvano Keo Bhaghi
Mahasiswa STFK Ledalero Asal Ngada
POS KUPANG.COM - Di bawah jargon "Membangun dari Desa", kepemimpinan paket MULUS Jilid I (Marianus Sae-Paulus Soliwoa) periode 2010-2015 memang sudah memiliki empat program unggulan untuk membangun Kabupaten Ngada, yakni Perak, JKMN, Penguatan Koperasi dan Pelangi Desa. Namun, penulis cukup tertarik dengan kebijakan Pemda dalam bidang pendidikan.
Pertama, pada tahun 2015, Pemda memberi beasiswa kepada 2.000 mahasiswa/i asal Ngada masing-masing sebesar Rp 2,5 juta. Pada masa bakti 5 tahun ke depan, MULUS Jilid II juga akan melanjutkan program yang sama dengan menaikkan alokasi beasiswa kepada sekitar 7.000 mahasiswa dari keluarga kurang mampu dari Rp 2,5 juta menjadi Rp 5 juta.
Kedua, Pemkab Ngada berkomitmen untuk mendefinitifkan status Undana II Bajawa menjadi Universitas Negeri Flores yang berpusat di Bajawa. Pemkab berusaha merealisasikan komitmen itu dengan membangun gedung kampus dan menyekolahkan putra-putri asal Ngada untuk mengambil program S2 dan S3 sebagai upaya pemenuhan syarat standardisasi dosen sebuah universitas. Pada akhir tahun 2016, 123 tenaga dosen S2 yang disekolahkan Pemkab sudah akan menyelesaikan pendidikannya (Pos Kupang, 27/2/2016, hlm. 13.).
Sebagai warga Ngada, saya gembira karena Pemda menjadikan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai program untuk membangun Ngada. Pemda tentu sadar bahwa Ngada tidak bisa maju hanya dengan realisasi slogan "jalan simpang siur, air berlimpah ruah dan malam terang benderang."
Sebaliknya, realisasi diri manusia sebagai manusia yang seutuhnya mesti menjadi muara dari setiap derap pembangunan. Pendidikan merupakan jalan atau cara untuk merealisasikan diri manusia itu. Tulisan akan berargumentasi bahwa sebagai upaya penyempurnaan pribadi manusia sebagai manusia, pendidikan hanya akan efektif jika Negara mengkatalisasi peran, tugas dan hak mendidik orang tua dengan memenuhi variabel eksternal pendidikan.
Memanusia, Membudaya dan Melaksanakan Nilai
Nicolaas Driyarkara (1913-1967) dalam Capita Selecta Pendididikan mendefinisikan pendidikan sebagai hidup bersama dalam kesatuan tritunggal bapak-ibu-anak, di mana terjadi pemanusiaan, pembudayaan dan pelaksanaan nilai-nilai pada diri anak sehingga ia berproses dan pada akhirnya bisa memanusia, membudaya dan melaksanakan sendiri sebagai manusia purnawan (A. Sudiarja, ed., 2006: 415-417).
Definisi pendidikan mengandung tiga kata kunci. Pertama, pemanusiaan. Manusia adalah makhluk rasional yang serba terhubung dengan diri sendiri, sesama, alam sekitar dan wujud tertinggi. Pemanusiaan berkaitan dengan aktivitas untuk memanusiakan manusia atau proses menjadi manusia.
Pendidikan adalah sarana untuk merealisasikan upaya pemanusiaan itu. Melalui pendidikan, manusia bisa lebih sadar, mengerti dan mengenal diri sendiri, sesama, alam dan wujud tertinggi. Kesadaran, pengertian dan pengenalan pada gilirannya akan membentuk sikap hidup (weltanschaaung) peserta didik untuk hidup sesuai dengan kodratnya sebagai manusia.
Kedua, pembudayaan. Mohammad Hatta dalam majalah Kebudajaan (1952) mengartikan budaya sebagai buah perbuatan manusia yang merombak dan membentuk alam menjadi penghidupan yang lebih tinggi. Culture berkaitan dengan campur tangan manusia terhadap nature. Pembudayaan merujuk pada aktivitas membudaya manusia untuk menggumuli alam dalam rangka menyempurnakan dirinya sebagai manusia.
Pendidikan dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk menjadikan alam material sebagai benar-benar manusiawi. Ketiga, pelaksanaan nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga. Ada dua jenis nilai, yakni nilai instrumental dan nilai final. Nilai instrumental adalah nilai yang dikejar untuk memenuhi dorongan jasmani manusia, sedangkan nilai final adalah nilai yang bertujuan untuk menyempurnakan pribadi manusia.
Pendidikan memampukan peserta didik untuk melaksanakan nilai final itu. Dengan demikian, pemanusiaan, pembudayaan dan pelaksanaan nilai-nilai saling mengandaikan. Di satu pihak, pemanusiaan hanya mungkin terjadi melalui pembudayaan dan pelaksanaan nilai-nilai. Di pihak lain, muara akhir pembudayaan dan pelaksanaan nilai adalah pemanusiaan manusia. Benang merah tiga unsur fundamental itu adalah penyempurnaan pribadi manusia. Hakikat pendidikan memang identik dengan upaya penyempurnaan pribadi manusia.
Relasi Warga dan Negara
Pendidikan memang pertama dan terutama adalah hak dan tugas orang tua. Status orang tua sebagai pendidik yang pertama dan terutama bersifat tak tergantikan. Lembaga-lembaga pendidikan lain, seperti masyarakat, sekolah, agama dan Negara hanya bertugas mengkomplesi tugas orang tua di atas.
Dengan demikian, dalam konteks pendidikan, relasi antara warga dan Negara memiliki posisi sekaligus dilema yang unik. Di satu pihak, orang tua sebagai pendidik utama tidak mungkin berjuang sendirian untuk mendidik anak. Di lain pihak, karena memiliki kuasa yang luar biasa besar, Negara bisa saja memaksakan sistem pendidikan tertentu yang bertentangan dengan kehendak orang tua.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/sarjana-ijazah-wisudah_20150531_172322.jpg)