Menyikapi Maraknya Pertikaian di Sikka
Ada banyak fakta yang bisa dilihat. Jadwal penerbangan di Bandara Frans Seda, Maumere, sangat tinggi.
Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM - Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, merupakan salah satu kota di NTT yang sedang bergeliat. Memiliki akses pelabuhan laut dan udara yang melayani rute pelayaran dan penerbangan langsung ke Jawa, geliat kehidupan masyarakat di daerah ini maju dengan cepat. Masyarakat dengan sendirinya dan sangat cepat dapat dan memiliki akses ke kota-kota besar di Indonesia.
Ada banyak fakta yang bisa dilihat. Jadwal penerbangan di Bandara Frans Seda, Maumere, sangat tinggi. Pelabuhan Lorens Say pun tak kalah padatnya. Bongkar muat barang dan orang langsung dari Jawa dan Sulawesi sangat ramai. Hotel dan restoran marak dibangun. Belum lagi ditambah kehidupan malam yang makin glamor di wilayah ini.
Sebagai salah satu kota di tengah Pulau Flores ini, geliat kehidupan masyarakat ke arah yang modern tak bisa dihindari. Masyarakat dengan sendirinya akan terkena dampak dari geliat yang makin cepat itu. Di sinilah persoalannya. Ketika masyarakat tak mampu menghadapinya, fenomena sosial yang tidak diinginkan bisa muncul. Masyarakat bisa kebablasan menangkap atau menerima perubahan yang tak disangka datangnya itu.
Kasus pemerkosaan, pertikaian antar-kelompok masyarakat, pembunuhan, pelecehan seksual dan bahkan narkoba kini mulai terjadi di Maumere. Pemicu masalah terkadang hanya hal-hal sepele. Tersinggung, mabuk minuman keras dan lainnya. Mabuk minuman keras ini yang sering menjadi pemicu utama. Moke, sebagai minuman tradisional, sudah tidak lagi menjadi sarana yang baik menjalin komunikasi antar-sesama, tapi sudah menjadi pemicu pertikaian.
Lalu, apa yang mesti dilakukan? Siapapun dia, masyarakat, dunia swasta, pemerintah, polisi, tentara, sekolah, tokoh agama dan unsur lainnya, tidak boleh tinggal diam. Sebentar lagi Maumere akan berkembang lebih cepat. Maumere sudah akan menjadi kota administratif. Kehidupan modern, dengan sendirinya akan masuk. Masyarakat mesti dipersiapkan untuk menerimanya.
Tidak gampang memang karena mengubah sebuah tradisi lama ke sesuatu yang sama sekali belum dikenal butuh waktu. Butuh pendekatan yang humanis, bahkan terkadang mesti dengan kekerasan. Misalkan soal minuman keras. Penertiban tidak hanya untuk mereka yang suka minum di tepi jalan. Mereka yang menjual atau memproduksi minuman keras mesti ditindak. Aturan mesti ada. Penegakannya tidak boleh pandang bulu. Apapun motivasi mereka produksi, menjual ataupun minum, mesti diatur.
Pada posisi ini, peran pemerintah sangat penting. Tidak boleh membiarkan masyarakat berkembang dan menerima begitu kemajuan dan perubahan. Tokoh masyarakat, tokoh adat dan unsur terkait mesti dilibatkan. Duduk, bahas bersama dan sosialisasikan. Kalau ini tidak dilakukan, jangan harap sel polisi ataupun penjara di lapas akan menimbulkan efek jera bagi masyarakat. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/jalan-lingkar-luar-kota-maumere-merana_20160118_115854.jpg)