Inovasi Pendidikan
Potongan kata-kata bombastis di atas hanya sekedar sentilan, bahwa itulah hasil dunia
Oleh: Drs. Niko Ratulangi, MM
Kepala UPT Sarpras Dispora Provinsi NTT
POS KUPANG.COM - "Teroris bisa membom Sarinah karena ia pernah belajar di bangku pendidikan bagaimana berinovasi merakit zat kimia untuk mematikan; politikus kawakan menjelajah area politik karena ia belajar strategi politik; dan teknokrat hebat merancang bendungan raksasa Raknamo karena ia pernah belajar di kampus teknik. Jebolan lembaga pendidikan membangun bumi, tapi juga membumihanguskan"
Potongan kata-kata bombastis di atas hanya sekedar sentilan, bahwa itulah hasil dunia pendidikan di dunia ini. Harian Pos Kupang 15/12/2015 menuliskan, "Guru-guru Senang SMA/SMK Dialihkan ke Provinsi". Menyikapi kondisi itu Drs. Sinun Piter Manuk, Kepala Dinas Dikbud Provinsi NTT, mengambil langkah cerdas dan cepat menugaskan stafnya untuk turun ke daerah mendata sejumlah sekolah sehingga tiba waktunya semua sudah tuntas. Sinun Piter Manuk mengatakan kewenangan Dinas Dikbud Provinsi mulai dari penggajian, pengangkatan, kenaikan pangkat, sertifikasi guru, mutasi kepala sekolah dan sarana prasarana menjadi tugas Dikbud Provinsi.
Para ahli pendidikan di Kementerian Dikbud Jakarta tentu telah mengkaji lebih jauh sehingga SMA/SMK kembali dialihkan pengelolaannya ke provinsi. Kita tidak perlu menghitung risiko dari peralihan ini, tetapi kita merindukan keuntungannya di kemudian hari, yaitu yang kurang menjadi lengkap, yang tidak ada menjadi ada, dan yang bermutu rendah menjadi berkualitas. Dikbud Provinsi mendapat tugas baru mengelola 730 SMA/SMK di NTT yang ada di kota dan di pelosok, sekolah negeri dan swasta dengan karakter yang berbeda. Menghadapi tantangan ini membutuhkan keahlian khusus karena akan berhadapan dengan ratusan sekolah, ribuan guru, dan mungkin jutaan siswa termasuk orang tua siswa.
Mengelola Persoalan
Mengelola pendidikan sama dengan mengelola persoalan-persoalan atau kasus sebagai embrio untuk menghasilkan karya yang berguna. Beberapa kegiatan seperti penataran, pelatihan dan bimbingan lainnya sudah dilakukan puluhan tahun oleh berbagai lembaga mitra khususnya Dinas Pendidikan, tapi kenyataannya mutu lulusan ujian akhir tetap saja berada di bawah garis normal. Pelatihan persiapan menghadapi ujian bagi siswa selalu dilakukan, namun hasilnya juga bagai mengguling batu besar ke puncak gunung (nihil).
Kalau demikain, persoalan apa yang dikelola sekolah untuk disempurnakan? Apakah kompetensi guru, managerial kepala sekolah, lemahnya kesadaran siswa, pudarnya dukungan orang tua, atau kurangnya sarana prasarana?
1). Persoalan guru. Persoalan utama yang harus dikelola dalam diri guru adalah kemampuan menciptakan ketenangan proses belajar, penguasaan materi ajar, perhatian terhadap siswa yang lalai mengikuti pelajaran, keberanian berhadapan dengan siswa yang bandel dan tegas dalam bersikap, namun menjadi guru yang siap mendengarkan curhatnya anak-anak.
2). Kepala sekolah. Pidarta (2002:108) mengemukakan tiga macam keterampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah; yaitu keterampilan konseptual untuk memahami dan mengoperasikan organisasi; keterampilan manusiawi yaitu sanggup bekerja sama; keterampilan teknik ialah keterampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik serta perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
3). Kesadaran siswa. Ada sejumlah anak bersekolah karena berbagai motivasi yang negatif seperti sekedar mengikuti perintah orang tua, ingin mengisi waktu, dan sekedar mendapat ijazah. Siswa seperti ini sering bermain pada jam sekolah, tidak pernah membaca buku, begadang pada malam hari, tidak membawa buku ke sekolah, dan berbagai tingkah yang menyesatkan. Untuk itu perlu diperhatikan khusus dalam pembinaan karakter.
4). Orang tua. Pada umumnya orang tua berpikir, ketika anak ke sekolah, itu menjadi tanggung jawab guru, terutama orang tua yang berada di kampong jauh dari sekolah. Semua persoalan menjadi tugas sekolah untuk menyelesaikannya. Ketika seorang anak tidak masuk sekolah, orang tua hanya mengancam untuk melapor kepada guru, tetapi tidak menindaknya dengan tegas. Itulah sebabnya orang tua dan sekolah harus menyatu meyelesaikan kasus anak.
5). Sarana prasarana. Persoalan yang sulit diatasi sampai saat ini adalah kurangnya sarana prasarana pendidikan di sekolah. Ada sekolah swasta yang dibangun yayasan tertentu hanya membangun ruang kelas, tetapi tidak dilengkapi dengan laboratorium atau bengkel praktek. Sekolah seperti inilah yang perlu dimotivasi secara serius dalam bentuk sumbangan pikiran bagi yayasan pendiri dalam rangka pembetulan.
Inovasi Lembaga Pendidikan
Inovasi atau perubahan dalam pendidikan wajib dilakukan, karena pendidikan menggeluti ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang berkembang setiap waktu, sudah pasti akan berpengaruh terhadap perencanaan, proses, dan hasil di sekolah. Perubahan pengelolaan SMA/SMK dari daerah ke provinsi juga sebagai tindakan inovasi melalui pertimbangan yang mantap.
Dr. Mulyasa (2002:149) berpendapat, inovasi dan reformasi dunia pendidikan yaitu: 1) Pada level kelas: melalui kreativitas guru dalam proses pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan; 2) Pada level mediator: kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan seluruh kehidupan sekolah; 3) Pada level sekolah: perlu dibangun komitmen untuk mandiri, budaya kreatif, dan inovatif pada diri kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, dan peserta didik; 4) Pada level birokrasi: perlu diposisikan orang-orang yang profesional sebagai konsultan sehingga mampu menciptakan pemikiran baru bagi perkembangan sekolah.
Minggu lalu di Metro TV ditayangkan dua orang siswa sekolah menengah bersama gurunya di Jawa Tengah, melakukan uji coba penemuan baru yaitu kulit singkong yang terbuang diolah menjadi salah satu bahan (lupa namanya) untuk digunakan dalam pesawat udara dan sekarang penemuan siswa tersebut sedang diuji untuk ditingkatkan. Guru MIPA di SMA menggiring siswa untuk menciptakan penemuan-penemuan baru (karya ilmiah) dengan menggunakan barang-barang rongsokan yang kemudian diinovasi menjadi teknologi baru yang dapat digunakan untuk kepentingan umum. Begitu juga SMK terus diprovokasi untuk berinovasi dalam bidang teknologi yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat (pasar).
Oleh karena itu setidaknya setiap SMK wajib memiliki tempat dan peralatan untuk melakukan berbagai percobaan teknologi baru. Misalnya SMK jurusan otomotif atau jurusan komputer, maka sekolah tersebut wajib memiliki peralatan otomotif, komputer dan bengkel praktek. Proses pembelajaran di SMK tidak sebatas kognitif, tetapi siswa harus melihat, meraba bahkan sampai pada tingkat menentukan benda tersebut layak digunakan atau tidak.