Teror Jakarta

Untung dalam diskusi dengan tema 'Di Balik Teror Jakarta' yang diadakan di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, enam belas

Editor: Dion DB Putra

"Tetapi aku takut sekali waktu melihatmu bawa ransel tadi. Aku kita teroris," kata Rara.
"Jangan jadi polisi kalau kamu penakut," kata Nona Mia.
***

"Kalau ada polisi apalagi perwira yang takut, apalagi ingat diri, berkerja untuk menguntungkan diri sendiri, bagaimana?"
"Maluuuuu Itu kata AKBP Untung."

"Dengar, kubaca ini untuk kalian berempat. Enggak ada takut, perwira Indonesia gak ada rasa takut. Kalau ada periwira dan Tamtama takut, malu!" tegas AKBP Untung. "Makanya dia tunjukkan keberaniannya. AKBP Untung tembak mati salah satu teroris. Kalau Untung tidak cepat tembak itu teroris, bom besar di punggung teroris pasti meledak. Teror Sarinah itu dapat dilumpuhkan karena polisi berani maju dan mengambil sikap tegas. Polisi juga memiliki kepekaan membaca situasi, mencermati pelaku, dan memastikan apa yang mesti dilakukan segera. Tembak!

"Kita patut curiga pada gerakan apapun yang mencurigakan."
"Kita patut curiga pada pembawa ransel yang menyelinap dan berjalan tenang."
"Apalagi kalau orangnya tidak kita kenal. Curigalah dan segera lapor polisi."
"Berani! Harus berani!"
***
"Apa lagi yang harus kita lakukan?"

"Teror Jakarta atau teror apapun jangan sampai membuat kita takut!"
"Pak Polisi jangan takut! Sebab orang yang penakut akan mudah ditindas." (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved