Teror Jakarta

Untung dalam diskusi dengan tema 'Di Balik Teror Jakarta' yang diadakan di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, enam belas

Editor: Dion DB Putra

Oleh Maria Matildis Banda

POS KUPANG.COM - "Gak usah nanya saya berani, untuk apa saya jadi polisi kalau nggak berani? Kita menganggap kaki satu sudah di atas kuburan. Kalau kita tidak bisa melakukan untuk rakyat, untuk apa jadi polisi, untuk apa jadi perwira," tutur Untung dalam diskusi dengan tema 'Di Balik Teror Jakarta' yang diadakan di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, enam belas Januari 2016 kemarin." Nona Mia membaca dengan jelas dari layar HP miliknya.
***
"Hebat ya kata-kata polisi ini. Namanya AKBP Untung Sangaji. Beliau adalah tenaga pengajar di Pusat Pendidikan Polisi Udara dan Air atau Pusdik Polair. Hari teror terjadi, AKBP Untung berada di posisi terdepan saat melumpuhkan salah satu teroris di kawasan Sarinah," Nona Mia menjelaskan lagi.

"Polisi harus berani dan wajib berani!"
"Membela rakyat, membela negara."
"Seperti polisi-polisi di NTT ini. Berani bela rakyat, berani bela kebenaran, apapun yang terjadi polisi berada di baris terdepan untuk bela rakyat demi kebenaran," sambung Benza.

"Maju tak gentar membela yang benar! Bukan maju tak gentar membela yang berantakan. Apalagi maju tak gentar membela yang jelas-jelas salah."
"Tak gentar membela yang benar, itu baru polisi!"

"Seperti polisi-polisi kita."
"Jangan sampai gara-gara ulah satu dua orang oknum polisi yang membela yang salah, jadi rusak citra polisi di mata kita."

"Kalau teroris masuk kampung kita bagaimana?"
"Lapor polisi! Polisi pasti segera bertindak tegas."
"Sebab polisi bukan pemadam kebakaran."

"Lihat saja! Bagaimana AKBP Untung maju tak gentar membela yang benar!"
***
"AKBP Untung? Yang mana orangnya?" Tanya Rara.
"Orangnya gagah, ganteng seperti polisi-polisi kita di sini."
"Di televisi itu jelas sekali. Syukur juga ada video amatir yang cukup jelas merekam aksi berani AKBP Untung. Yang berbaju putih berjalan tenang dan menembak sasaran."
"Ooooh itu polisi? Kenapa bisa ada di sana?"

"Waktu itu beliau sedang bertugas menjaga jalur lintas di luar ring satu Istana Negara."
"Ooooh begitu?" Rara manggut-manggut.

"AKBP Untung yang mengenakan kemeja putih itu ketika beraksi merasa tidak takut sama sekali berhadapan langsung dengan pelaku yang membawa bom. Perwira menengah ini menegaskan, bahwa polisi Indonesia tidak boleh memiliki rasa takut ketika menjalankan tugas, meski nyawa menjadi taruhannya."

"Gagah sekali aksinya," Nona Mia tersenyum sendiri. "Mudah-mudahan aku dapat jodoh Perwira Polisi yang gagah berani seperti AKBP Untung."
***

"Aku mau jadi polisi," kata Rara sambil melompat karena ketakutan melihat Jaki datang dengan ransel besar di punggungnya. "Bom! Teroris bawa bom.." Rara bersembunyi di belakang Nona Mia.

"Itu Jaki. Hei, jangan takut!" Kata Benza. "Baru saja sumpah mau jadi polisi. Lihat ransel saja sudah ketakutan. Mau jadi apa negara ini kalau ada polisi eh calon polisi yang penakut sepertimu, Rara! Negara ini butuh polisi yang berani bersumpah membela kebenaran, demi rakyat membela rakyat dengan berani."

"Jangan takut, teman!" Jaki menjatuhkan ransel dan mengeluarkan isi ransel yang penuh dan berat itu. Batu akik, batu akik, dan batu akik.
"Aku kira kamu bawa bom," Rara gemetar.

"Bagus! Kita harus tetap waspada," kata Jaki lagi. "Kalau ada orang-orang mencurigakan dengan ransel di punggung, berjalan tenang, bergaya seperti polisi, apalagi bawa senjata, segera telepon polisi. Kalau ada orang yang pura-pura baik, apalagi orang asing yang jarang kita lihat ada di kota kita ini, waspadalah."

"Ya, kita anggota masyarakat juga harus membantu polisi, ikut bersama mereka menjaga wilayah kita agar jauh dari berbagai macam ancaman teror."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved