"Gelap" di Terang
Dengan waktu musim kering yang panjang tersebut tentunya sangat menyulitkan petani yang
Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM - NTT merupakan satu dari beberapa provinsi di Indonesia yang musim panasnya sembilan bulan dalam setahun. Artinya musim penghujannya hanya tiga bulan saja. Kondisi ini memang memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Dengan waktu musim kering yang panjang tersebut tentunya sangat menyulitkan petani yang menggantungkan kehidupannya pada air untuk mengolah lahan sawahnya. Oleh karena itu, pilihan rasionalnya adalah mengelola pertanian dengan basis lahan kering.
Kendati di satu sisi akan menyulitkan petani, tetapi sebenarnya pada sisi yang lain sangat menguntungkan masyarakat lainnya. Mengapa? Karena dengan waktu musim kering yang panasnya sangat menyengat dalam rentang waktu yang begitu panjang, dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif pengganti energi fosil yang selama ini sudah akrab dengan masyarakat kita.
Sinar matahari yang begitu lama menyinari NTT dalam sembilan bulan itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat NTT khususnya kita yang mendiami Pulau Timor.
Kekayaan sinar matahari itulah yang dimanfaatkan PT LEN Industri (Persero) dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Oelpuah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT. PLTS dengan kekuatan 5 Megawatt (MG) di Oelpuah adalah yang terbesar di Indonesia tetapi bukan yang pertama di NTT.
PLTS sebelumnya telah dibangun di NTT antara lain Raijua di Kabupaten Sabu Raijua 150 kWp, Nule di Kabupaten Alor 250 kWp, Pura di Kabupaten Alor 175 kWp, dan Solor Barat di Kabupaten Flores Timur 275 kWp dan terakhir di Oelpuah Kabupaten Kupang 5 MW.
Potensi energi baru dan terbarukan di NTT sangat melimpah, hanya belum digunakan secara maksimal oleh pemerintah guna menyejahterakan warganya. Kita tidak tahu apa penyebabnya sehingga pemerintah masih betah dengan mengeluarkan biaya besar untuk membeli solar non subsidi guna menghidupkan berbagai mesin diesel milik PLN di seluruh wilayah NTT ini. Ataukah nilai investasi untuk membangun infrastruktur kelistrikan sangat mahal? Kita tidak tahu pasti.
Namun kita perlu mendorong pemerintah untuk memanfaatkan komitmen pemerintah pusat yang gencar membangun energi baru dan terbarukan karena bertekad dalam lima tahun pemerintahan ini akan terbangun daya listrik sebesar 35.000 MW di seluruh Indonesia
Kita di NTT perlu menunjukkan bahwa kita memiliki berbagai potensi energi non fosil yang belum diapa-apakan. Liat saja di Pulau Sumba yang sudah berhasil menghadirkan tenaga listrik dengan memanfaatkan tenaga angin dan air.
Di Ulumbu, Ropa yang sudah menghasilkan energi listrik dengan memanfaatkan energi panas bumi. Sudah saatnya kita tidak hidup dalam kondisi "gelap" di tengah begitu banyaknya sumber energi yang bisa menerangi kita bila dikelola. Jika sejumlah sumber energi ini dikelola dengan baik maka antrian panjang pelanggan dan investor yang ingin berivestasi di NTT akan mengalir karena soal daya listrik sudah tidak bermasalah lagi. Komitmen pemerintah sangat dibutuhkan untuk soal yang satu ini. *