Revolusi KIA, Bidan dan Kita
Dalam tuntunan tesis Milan Kundera inilah saya ingin melihat kehadiran novel Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor
Menimbang Novel WKdKNT karya Maria Mathildis Banda
Oleh Yoseph Lagadoni Herin
Peminat Sastra, Tinggal di Larantuka
POS KUPANG.COM- Novelis besar dunia kelahiran Chekoslovakia, Milan Kundera, mengatakan begini: novel lahir karena ada "hasrat ingin mengetahui". Novel meneliti dengan cermat kehidupan konkret manusia dan melindunginya dari "penglupaan atas mengada"; untuk merangkul "kehidupan dunia" di bawah temaram cahaya permanen. Pengetahuan adalah moralitas utama novel.
Setiap novel mengatakan kepada pembaca: "makhluk adalah tidak sesederhana yang kamu pikirkan." Itulah kebenaran abadi novel. Novel bukanlah konvesi penulis; tapi suatu investigasi terhadap kehidupan manusia dalam "perangkap dunia." Karena itu, "tugas seorang novelis adalah mengganggu para pembacanya agar melihat dunia sebagai sebuah pertanyaan," tulisnya dalam buku The Art of Novel.
Dalam tuntunan tesis Milan Kundera inilah saya ingin melihat kehadiran novel Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (WKdKNT) karya Maria Mathildis Banda (MMB). Novel ini membahas pelaksanaan Revolusi KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) secara tuntas, detail dan kritis. Revolusi KIA adalah program khas Dinas Kesehatan Provinsi NTT guna mengejar target MDGs (Millenium Development Goals). Utamanya menyangkut keselamatan ibu melahirkan dan bayi
baru lahir. Program ini berhasil baik. Bahkan Kabupaten Flores Timur sukses meraih MDGs Awards karena paling berhasil turunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir
berkat metode 2H2 Center milik Kadis Kesehatan, dr Yosep Usen Aman.
Hemat saya, novel ini lahir dari "rasa penasaran dan keingintahuan yang besar" MMB terhadap realitas pelaksanaan Revolusi KIA dimana sang suami ikut bertanggung jawab di Kabupaten Ende. Tak sekadar itu. Ada juga simpati dan empati di sana, semacam kepedulian yang intens terhadap nasib kehidupan: baik pada ibu yang melahirkan maupun bayi baru lahir. Maklum, dia adalah pegiat sosial, seorang istri sekaligus ibu anak-anak.
Semua variabel itu kemudian memaksanya "melakukan investigasi" lapangan dengan metode akademis karena dia seorang akademisi untuk selanjutnya mengungkapkan fakta- fakta melalui novel.
Nama MMB adalah sebuah jaminan mutu dalam dunia sastra NTT dan Indonesia. Oleh karena itu, tulisan ini tidak bermaksud menimbang baik-buruknya WKdKNT dari sisi estetika karya sastra. Tapi hanya untuk lebih mempertegas pesan-pesan, berikut refleksi atas kritik-kritik tajam yang disampaikan tanpa tedeng aling-aling kepada semua pemangku kepentingan dalampelaksanaan program Revolusi KIA.
***
Bidan adalah ujung tombak KIA. Merekalah yang "menemukan", memelihara dan merawat sejak "sang hidup baru" terbentuk dalam rahim bunda. Tangan mereka pulalah yang menjemputnya mulai dari pintu rahim dan mengantarnya memasuki dunia. Para bidan menjadi subjek vital Revolusi KIA. Karena itu, MMB mengawali cerita dengan memperkenalkan tokoh utama, bidan Rosa Dalima (Bidan Ros), yang memulai karier sebagai bidan muda di sebuah polindes terpencil di bagian timur Kabupaten Ende.
Kepiawaian MMB membangun karakter tokoh utama, menyusun alur dan merangkai plot cerita memudahkan pembaca untuk segera tenggelam dalam kerja Ros sebagai bidan desa. Bidan Ros, meski dalam usia muda, 26 tahun, sudah digambarkan sebagai sosok bidan ideal. Yang mendedikasikan hidup, karya dan baktinya demi memelihara kehidupan baru yang dititipkan Tuhan dalam rahim seorang ibu (pengalaman lapangan saya: hampir semua bidan memiliki dedikasi dan loyalitas pada tugas panggilan yang sangat kuat).
Bidan Ros dibantu sejumlah kader terlatih pria dan wanita, berjuang untuk menemukan, menangani, dan mempersiapkan ibu hamil hingga ke hari kelahiran. Ada banyak masalah di
sana. Bidan Ros harus bergulat dengan sejumlah kesulitan. Ada masalah pribadi dengan tunangan di Bajawa yang selalu menuntut perhatian.
Dia menomorduakan tunangannya demi ibu-ibu hamil di desa, sehingga akhirnya tunangannya berselingkuh dengan seorang dokter muda di Bajawa dan akhirnya mereka pisah. Juga masalah dengan pemuda-pemuda brandalan kampung yang nyaris melumpuhkan semua persendian perempuan muda ini. Belum lagi masalah topografi wilayah dan sarana-prasarana yang sulit.
Masalah pelik yang dikritik sangat tajam dalam novel ini adalah sistem sosial masyarakat Flores yang feodal dan patriaki, yang melihat kehamilan dan kelahiran semata urusan kodrat kaum
hawa. Laki-laki tak perlu terlibat. Tugas laki-laki hanya membikin anak, setelah itu dia bebas ke mana saja dengan alasan mencari nafkah dan membiarkan istri yang sedang hamil mengurus dirinya sendiri. Jika belum mendapatkan anak laki- laki, maka sang istri harus hamil lagi dan lagi, meski sudah memiliki anak perempuan barenke-rengke.
Keluarga menuntut seperti itu. Bahkan, keluarga pulalah yang menentukan, di mana ibu hamil akan melahirkan. Apakah di fasilitas kesehatan dengan tenaga kesehatan atau melahirkan di
rumah dibantu dukun bersalin, bukan oleh si ibu hamil yang sesungguhnya lebih tahu kondisi kesehatan dan kekuatan fisiknya.
Betapa pun idealnya seorang Bidan Ros, dia tetap seorang perempuan, seorang manusia. Atas kesulitan-kesulitan personal, struktural dan kultural tersebut, dia berhadapan dengan fakta tak
tertampik: pasiennya meninggal! Ros sangat terpukul. Sangat tertekan. "Apakah aku turut memberikan andil dalam kematian ibu hamil dan bayinya? Batinnya yang terluka bergumam
berkali-kali.