NTT Bingkai Kerukunan

Penganugerahan trofi kerukunan umat beragama oleh Menteri Agama (Menag) RI pada tanggal 30 Desember 2015

NTT Bingkai Kerukunan
Net
NTT 

POS KUPANG.COM - Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, mewakili pemerintah dan rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat trofi kerukunan umat beragama sebagai juara pertama tingkat nasional.

Penganugerahan trofi kerukunan umat beragama oleh Menteri Agama (Menag) RI pada tanggal 30 Desember 2015 menjadi hal yang membanggakan masyarakat Flobamora-NTT.

Bagaimana tidak, di tengah begitu banyak predikat negatif yang disandang Provinsi NTT selama ini, seperti daerah miskin, tertinggal, dan SDM rendah, muncul penghargaan di bidang kerukunan agama, sungguh mengubah citra NTT tidak sekadar positif, melainkan suatu nilai super karena kerukunan beragama saat ini menjadi sesuatu yang mahal di tengah begitu maraknya konflik dan pertikaian berlatar belakang agama.

Trofi ini tentu bukan simbol semata, melainkan sebuah pengakuan bahwa Provinsi NTT benar-benar 'surga' bagi kerukunan umat beragama di Indonesia. Masyarakat NTT yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, budaya dan antargolongan pun menjadi simbol perdamaian antarumat beragama di bumi Pertiwi, Indonesia.

Penganugerahan trofi kerukunan umat beragama kepada pemerintah dan rakyat NTT mau membuktikan bahwa NTT benar-benar sebuah negara pluralistik. Bukti bahwa rakyat yang mendiami provinsi ini sangat menghormati nilai-nilai kebersamaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Dengan kata lain, jika ingin melihat sikap toleransi rakyat Indonesia atau jika ingin melihat kebaragaman suku, agama, budaya dan golongan di Indonesia, maka berkunjunglah ke Provinsi NTT. Di sini Anda akan melihat semangat kebersamaan dan sikap toleransi yang sangat tinggi penuh humanis.

Pemberian trofi kerukunan umat beragama kepada rakyat NTT mau menyatakan bahwa rakyat Flobamora senantiasa hidup rukun dan damai dalam bingkai kebersamaan Bhineka Tunggal Ika.

Salah satu contoh riil yang menjadi budaya masyarakat NTT yang tidak tertulis, namun dijalani sejak nenek moyang, bahwa masyarakat yang tinggal di gunung (umumnya masyarakat yang beragama Kristen) menjaga hasil hutan serta kekayaan alam yang ada di gunung (darat). Sedangkan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai umumnya beragama Islam menjaga hasil laut.

Masyarakat yang tinggal di gunung dan masyarakat yang tinggal di pantai adalah bersaudara. Asam di gunung dan ikan di laut bertemu di kuali. Ini salah satu ungkapan yangmenunjukkan keberagaman dan kebersamaan yang dilakoni masyarakat NTT secara turun-temurun sejak nenek moyang.

Masyarakat yang menjaga hasil gunung (hutan) dan masyarakat pantai yang menjaga hasil laut semuanya bersaudara. Nilai-nilai kerukunan dan kebersamaan seperti inilah yang harus ditanamkan kepada anak cucu kita dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta semboyan Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi satu jua) sebagai perekat kesatuan bangsa.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved