Mata dan Mata Hati
Sejauh ini mata menjadi organ vital sehingga bagi sebagian orang, hidup ini sudah kiamat ketika ia buta.
Refleksi di Penghujung Tahun 2015
Oleh José Nelson M. Vidigal
Mahasiswa, Tinggal di Ruteng
POS KUPANG.COM - Mata merupakan indera penglihatan yang halus, sensitif, dan bersifat sensorik. Oleh karena mata bersifat sensorik, maka ia memiliki refleks yang jitu terhadap setiap benda yang mengancamnya, bahkan ia juga menarik perhatian organ lain seperti tangan untuk melakukan gerakan refleks guna melindunginya dari faktor luar yang membahayakan. Secara anatomis mata adalah satu-kesatuan yang terdiri atas kelopak mata, pupil, kornea, lensa, retina dan saraf-saraf mata. Masing-masing memiliki fungsi tersendiri.
Sejauh ini mata menjadi organ vital sehingga bagi sebagian orang, hidup ini sudah kiamat ketika ia buta. Tidak heran pula segelintir orang menganggap bahwa lebih baik tuli ketimbang buta. Lebih dari pada itu, mata tidak sekedar berfungsi untuk melihat, tetapi karena mata mampu menginterpretasikan banyak obyek yang dilihat. Dari hasil interpretasinya itu, maka lahirlah mata hati/nurani untuk mempertimbangkan suatu hal itu baik atau buruk.
Mata hati merupakan sebuah perasaan dalam hati. Perasaan itu lahir dari pikiran, dan mata juga memiliki andil yang besar untuk mempengaruhi perasaan hati tersebut. Memang benarlah peribahasa yang berbunyi "dari mata turun ke hati". Hati, selain memiliki mata, ia juga memiliki suara/kata hati. Suara hati adalah hakim yang adil namun lemah. Kelemahannya menjadikannya tak berdaya untuk melaksanakan penilaiannya.
Kelemahan ini jugalah santer terjadi pada para pejabat publik bangsa kita sepanjang tahun ini. Tengok saja kasus mantan ketua DPR Setya Novanto yang terbukti bersalah secara etik dan moral, yakni melalui upaya berkolusi menjual aset bangsa.
Kendati sudah diketahui publik sebagai sebuah kesalahan moral dan etis, toh Novanto pada saat itu tidak langsung menunjukkan kesportifannya sebagai pemimpin publik dengan mengakui kesalahannya. Novanto malah berkilah tidak bersalah dengan dalih bahwa masalah etik tidak dijadikan alasan kalau dasar yang dipakai adalah sebuah hasil rekaman yang tidak etis untuk dilakukan.
Namun atas desakan publik, Novanto akhirnya resmi mengundurkan diri dari ketua DPR via sepucuk surat. Ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ, Novanto malah masih rela menerima jabatan sebagai ketua fraksi Golongan Karya (Golkar). Dalam kasus ini, Novanto tentu cenderung menggunakan 'matanya' untuk melihat jabatan lain yang ditawarkan tanpa menggunakan 'mata hatinya'.
Seorang pemimpin yang sudah mundur dari jabatannya karena terbukti melakukan kesalahan, tetapi masih bersedia menerima jabatan lainnya adalah sebuah ironi yang memilukan nurani bangsa ini.
Dalam pandangan reflektif saya, bangsa ini sedang berjalan dalam kegelapan batin. Bangsa ini memiliki 'mata' tapi tidak melihat. Para elite politik dan pejabat publiknya cenderung melihat 'obyek' dengan mata biologis saja tanpa menggunakan mata hati, yang sebenarnya lebih terang dalam mengurai sebuah persoalan. Antara mata dan mata hati, tentu keduanya memiliki peran dan fungsinya masing-masing serta saling melengkapi.
Namun terkadang mata hati melihat apa yang tak terlihat oleh mata biologis.
Akhir tahun selalu menjadi momen terbaik untuk berefleksi dan memekur seluruh tindak-tanduk, dan tutur kata kita selama setahun. Bagi para pejabat publik yang mewakili suara rakyat untuk memimpin, ada tiga hal yang patut kita refleksikan bersama.
Pertama, wawas diri. Kasus Novanto dan tentu saja masih banyak kasus lain yang tidak luput dari perhatian kita di tahun ini, mengingatkan kita bahwa mengoreksi diri sendiri secara jujur membuat kita tidak jatuh dalam kesalahan yang sama. Ingatlah bahwa banyak masalah yang tak dapat diselesaikan karena kita selalu mencari kesalahan di luar diri kita. Kita bisa menutup mata terhadap hal-hal yang bisa kita lihat, tapi kita tak bisa menutup hati kita untuk hal-hal yang tak ingin kita rasa.
Kedua, rendah hati. Kerendahan hati dalam mengakui kesalahan adalah sikap mutlak yang mesti dibangun setiap orang yang menyandang predikat sebagai pejabat publik. Saya sependapat dengan Henri Nouwen dalam bukunya Peacework (Mengakarkan Budaya Damai) yang menulis bahwa: "Lebih baik memohon orang lain untuk menerima kelemahanmu dari pada kamu harus mengatasi kelemahan-kelemahanmu itu'.
Ketiga, selalu bersyukur. Syukur mengindikasikan bahwa mata dan mata hati kita masih tajam. Syukur juga merupakan salah satu bentuk pengakuan terhadap intervensi Tuhan dalam setiap perjuangan hidup kita. Waktu setahun yang akan kita lewati adalah pemberian cuma-cuma dari Tuhan untuk kita. Apa yang kita lakukan dengan waktu setahun adalah pemberian kita untuk Tuhan. Mari kita gunakan mata dan mata hati kita yang masih tajam itu untuk menyongsong tahun 2016 dengan penuh asa.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/setya-novanto-donald-trump_20150904_225206.jpg)