Breaking News

Kesetiakawanan

Tahun 1983 atau tujuh tahun kemudian diubah lagi namanya menjadi Hari Kesetiakawanan

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra

Oleh Maria Matildis Banda

POS KUPANG.COM- Ini hari yang indah. Dua puluh Desember, Hari Kesetiakawanan Nasional. Dicetuskan pertama kali pada 20 Desember 1959 sebagai Hari Sosial oleh Menteri Sosial , H. Moeljadi Djojomartono. Tujuh belas tahun kemudian, tepatnya tahun 1976 diubah namanya menjadi Hari Kebaktian Sosial oleh Menteri Sosial Bapak HMS. Mintardja, S.H.

Tahun 1983 atau tujuh tahun kemudian diubah lagi namanya menjadi Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional oleh Ibu Nani Soedarsono, S.H, Menteri Sosial ketika itu. Sebuah nama yang bertahan hingga kini, sudah tiga puluh dua tahun. Usia yang semakin hari semakin matang tentunya. Wajar jika pada hari ini setiap orang dengan latar belakang pikirannya masing-masing melontarkan pertanyaan reflektif tentang kesetiakawanan.
***
"Kesetiakawanan sosial adalah kepekaan, adalah rasa ingin mengambil bagian, adalah keinginan untuk terlibat pada suatu keadaan yang dengan kuat memunculkan keinginan untuk menolong secara sukarela, menolong tanpa pamrih apapun," Benza menjelaskan pada Nona Mia, Rara, dan Jaki. "Inilah filosofi kesetiakawanan sosial," kata Benza lagi.

"Perasaan kita tergugah untuk empati terhadap kesulitan orang lain, kita bersama-sama menolong dengan setia melalui aksi-aksi nyata, tidak hanya omong doang," kata Benza dengan serius.

"Apalagi Kota Kupang ibu kota provinsi NTT mendapat kehormatan besar, jadi tuan rumah kegiatan Nasional sepanjang bulan Desember 2015. Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional atau HKSN, Hari Ibu, serta Natal Nasional 2015."

"Dirayakan bersama HUT NTT."
"Desember ceria! Meskipun berbarengan dengan Desember kelabu yang turun dari singgasana Senayan. Bukankah kita tetap harus setia kawan?"
"Jadi, buang jauh-jauh rasa marahmu padaku!"

"Betul!" sambar Jaki. "Makanya kamu harus setia kawan, Nona Mia! Apa pun alasannya harus setia kawan," Jaki penuh semangat. Nona Mia diam saja. Ada satu keyakinan kuat yang tumbuh dalam hatinya bahwa kali ini dia harus mengambil sikap tegas untuk menanamkan nilai-nilai etika itu dalam hati dan pikirannya.

"Kita makan bersama, jalan-jalan bersama, kerja sama-sama, susah dan senang dalam setiap pertemuan dan kerja selama ini bersama-sama. Boleh dikatakan kita ini sepiring berdua, jadi bagaimana mungkin harus marah pada Rara temanmu ini?"
"Jadi kalau aku mendukung ketegaran mantan Ketua DPR, kamu harus dukung!"

"Jadi kalau aku mendukung pihak-pihak yang mengangkat mantan segera menjadi Ketua Fraksi itu kamu juga harus mendukung! Setia kawan, dong!"
"Ini saatnya kesetiakawanan kita diuji."
***
Nona Mia terdiam dengan pikirannya sendiri.ôIni kenyataan! Kita semua sudah menjadi saksi mata, pikiran, dan hati apa yang sudah terjadi di Senayan. Soal pelanggaran etika seorang pejabat negara! MKD yang terhormat, sepuluh menjatuhkan sanksi sedang, tujuh sanksi berat.

Tetapi bukankah, pada detik-detik terakhir orang terhormat dari dapil NTT itu sudah mengundurkan diri? Bukankah beberapa saat kemudian langsung diangkat jadi ketua fraksi oleh partainya? Suara rakyat tidak digubris oleh yang bersangkutan maupun oleh partainya. Seluruh dunia juga tahu sandiwara apa yang sedang terjadi. Sandiwara politik akhir 2015 yang oleh M. Subhan dikritisi secara cerdas. Pikirannya diawali dengan 'politisi selalu memikirkan pemilu berikutnya tetapi negarawan selalu memikirkan generasi berikutnya," yang dikutip dari James Freeman Clarke.

"Setia kawanlah Nona Mia!" kata Jaki lagi. "Kita dukung Rara yang mendukung penuh Ketua DPR yang terhormat yang dalam hitungan jam baru jadi mantan, dan baru beberapa jam juga jadi ketua fraksi. Tunjukkan setiamu Nona Mia. Ini penting sekali untuk persahabatan kita. Semua orang tahu bahwa kita ini teman-teman yang saling setia satu sama lain."

"Jangan paksa Nona Mia untuk berada di pihakmu Jaki Rara!" kata Benza.
"Bukankah kita ini sahabat sejati?" sambung Jaki.

"Bukankah kita ini teman kerja sama yang selalu setia dan ceria?" sambung Rara.
***
Nona Mia diam saja! Dia memiliki keyakinan kuat untuk bertahan pada pendiriannya. Rara dan Jaki berada di jalan yang salah, setia pada pimpinan yang salah, bersandar pada kekuatan yang salah.

Jaki dan Rara berada pada kelompok kekuasaan bukan negarawan. Nona Mia memiliki kesadaran sendiri, memiliki pertanyaan sendiri tentang kesetiakawanan! Bagaimana mungkin harus setia pada Jaki dan Rara yang tergolong dalam golongan orang-orang terhormat yang mengangkangi etika dan kebenaran?

"Aku sudah menemukannya!" kalimat pertama dari Nona Mia.
"Menemukan apa?" Jaki, Rara, Benza bertanya serentak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved