DPR dan Nama Baik
Apakah arti sebuah nama? Menurut Shakespeare, nama tidak terlalu penting. Tetapi keharuman pribadi kita teramatlah penting.
Oleh Pater Edu Dosi, SVD
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unwira
POS KUPANG.COM - Tulisan singkat ini lebih merupakan suatu renungan sederhana untuk wakil rakyat NTT. Bicara tentang nama, saya selalu ingat akan ucapan Shakespeare, " Setangkai bunga mawar akan tetap harum baunya walaupun disebut dengan nama lain sekalipun."
Apakah arti sebuah nama? Menurut Shakespeare, nama tidak terlalu penting. Tetapi keharuman pribadi kita teramatlah penting.
Nenek moyang kita menaruh harapan pada nama. Bila sang istri barusan hamil muda, suami sudah pada gelisah mencari nama yang baik dan tepat untuk bayi yang akan dilahirkan. Kalau si bayi yang baru lahir diberi nama Mite (hitam) sakit-sakitan, dia akan diberi nama baru misalnya Bhara (putih) supaya sakitnya hilang.
Biasanya nama yang diberi itu indah, misalnya Rosalia Mawar, barangkali mau mengungkapkan parasnya jelita dan baunya harum seperti bunga Ross. Nama juga berisi harapan dari orang tua.
Misalnya, seorang kawan saya yang pastor SVD dari Manggarai bernama ''Bahagia,'' katanya bapa dan mama barharap agar sang Bahagia ini menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya. Tanggal 12 Desember 1992 seorang anak di kota Ende lahir dan diberi nama ,''Gempawati'' karena si putri itu dilahirkan pada saat gempa.
Kalau ada yang bernama ''Rudal'' itu karena si bayi dilahirkan bersamaan dengan pelepasan rudal-rudal perang Amerika melawan Irak. Jadi nama juga diberikan karena peristiwa yang menimpa dunia ini. Seperti halnya kawan saya, penyair John Dami Mukese, dia bilang nama Mukese itu menurut orang tuanya adalah kependekan dari musim kenyang sekali.
Nama itu penting dan punya arti bagi kita. Bahkan kepada manusia pertama Allah sendiri yang memberi nama Adam dan Hawa, demikian kitab Kejadian.
Apabila kita memiliki nama yang buruk, itu biasanya diperoleh dari akibat kelakuan kita sendiri. Orang atau pers akan berbicara dan menulis letak kebenaran fakta kelakuan buruk itu. Kita tak bisa mempersalahkan orang atau pers, buruk muka cermin diremuk semestinya kita mawas diri, bahkan berani mengakui salah kalau memang kita bersalah.
Bila demikian, maka Shakespeare memang benar. Kalau tindakan kita buruk, busuk, diberikan nama yang indah dan harum tak ada gunanya, akan tetap buruk, busuk. Karena itu yang lebih penting bagi kita mesti mengubah kelakuan buruk dan busuk agar nama kita tetap terhormat.
Rakyat memiliki kesadaran untuk menyebut nama anggota DPR itu "yang terhormat" karena DPR mendapat imbalan lantaran dia mewakili rakyat untuk menyampaikan suara hati nurani rakyat. Penghormatan ini sangat tinggi, dia makhluk istimewa.
Kemelut-kemelut yang terjadi karena manusia tidak bertindak sesuai dengan nilai namanya. Misalnya penguasa tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan fungsi sebagai penguasa yang benar yang harus memperhatikan nasib rakyat banyak, atau wakil rakyat yang tak melaksanakan fungsinya secara benar bahkan tersandung banyak kasus yang memalukan dan memilukan rakyat.
Rakyat mendapat gambaran tentang sebagian DPR yang kelewat mewah, kaya, jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan studi banding. Uang rakyat dihabiskan dengan sia-sia. Padahal yang dijadikan objek studi banding hanya masalah santet. Proyek-proyek bermasalah yang digarap anggota dewan pun kebanyakan bermuara pada korupsi.
Para wakil rakyat telah diperjuangkan oleh rakyat, dihormati oleh rakyat, didukung bahkan dimuliakan dan ditinggikan oleh rakyat, tapi pada kenyataannya sebagian DPR mencari nikmatnya sendiri, tidak cukup berusaha menyelamatkan rakyat dari penderitaan dan kemiskinan.
Kompas (8/12/2015) menulis tentang Setya Novanto, politisi Partai Golkar yang telah menjadi anggota DPR selama empat periode dari daerah pemilihan NTT II, yang mencakup Pulau Timor, Rote, Sabu, dan Sumba. Dalam dua pekan terakhir ini, Novanto diberitakan tersandung kasus Freeportgate atau dalam topik yang hangat para netizen dikenal dengan istilah keren "Papa minta saham". Ikrar Nusa Bhakti dalam artikelnya dengan judul "Apa yang Kau cari, Novanto" (Kompas, 8/12/2015) mencatat, "Kita masih menunggu, apakah masih ada kejujuran yang hakiki di negeri ini? Setya Novanto bisa saja lolos dari kasus ini. Namun rakyat, khususnya di daerah pemilihannya, belum tentu mempercayainya lagi.
Untuk itu, masyarakat NTT harus lebih cerdas dalam memilih pemimpinnya. Pilihlah pemimpin yang lebih mementingkan kepentingan masyarakat NTT ketimbang kepentingan golongannya dan dirinya sendiri.*