Zona Diam dan Kepedulian Sosial
Kegelisahan ini begitu memuncak sampai pada sebuah simpulan bahwa ada pembiaran dari para penguasa
Oleh Alexander Kapitan
Guru SMP Negeri 11 Kupang, sedang menyelesaikan Program Pascasarjana
POS KUPANG.COM - Hotline Public Servive Pos Kupang, Senin, 30 November 2015, berjudul, Meriam Buatan dari Botol Mengganggu Warga, tak tanggung-tanggung ditujukan kepada Bapak Walikota Kupang dan jajaran terkait, antara lain garda terdepan penguasa wilayah terkecil, para RT dan RW.
Kegelisahan ini begitu memuncak sampai pada sebuah simpulan bahwa ada pembiaran dari para penguasa wilayah terkecil di republik ini untuk menciptakan kegaduhan, dan tidak mempedulikan kemerdekaan hidup warga lain. Lebih celaka lagi anak-anak yang digelisahkan itu bermain meriam bambu/kaleng dengan bunyi yang sangat memekakkan telinga dan sangat mengganggu tetangga, tidak peduli apakah tetangga sedang beristirahat, sedang sakit, kedukaan, anak kecil yang tidur atau orangtua yang jatungan.
Tanpa beban mereka bermain di halaman orang dan bukan di rumahnya sendiri. Tingkah laku tak sedap ini juga ditampakkan ketika mereka mengarahkan moncong meriam ke lokasi sekolah di mana anak-anak lain sedang belajar, ke rumah orang, sampai pada mengganggu para pengguna jalan yang dapat berefek buruk seperti terkejut, tak mengontrol kendaraan dan dapat mengakibatkan kecelakaan.
Mereka anak siapa?
Suasana akhir tahun yang hingar-bingar dan penuh syukur atas kesuksesan hidup dan bertambahnya usia diungkapkan dengan mengeksploitasi seluruh yang dimiliki dengan menampakkan dan memperdengarkan keindahan serta kehebatan, yang pada sisi ini menciptakan suasana semarak dan sukacita.
Pada sisi yang lain, akhir tahun juga penuh suasana reflektif -evaluatif yang mengingatkan kita akan kesanggupan dan kekurangan diri, ada keheningan agar kita dapat menyelam ke dalam lubuk nurani dan berdialog dengan diri sendiri untuk memastikan apakah seluruh kehidupan ini sudah pantas dijalani atau belum. Ada evaluasi akhir tahun bagi mereka yang bekerja dalam instansi-instansi pemerintah maupun swasta yang ditunjukkan dengan laporan akhir tahun, sejauh mana realisasi dari program yang telah dicanangkan, berhasil atau tidak.
Akhir tahun juga bagi sebagian gereja mulai menenangkan diri, melihat diri, mengaku diri dalam suasana adventus agar dapat memasuki suasana Natal dalam suasana rekolektif dan pembaharuan diri, sehingga ada alasan untuk bersukacita pada hari raya kelahiran penyelamat.
Ketika setiap orang, keluarga dan lembaga mulai berevaluasi melihat kembali seluruh pekerjaannya, penulis menawarkan pertanyaan akhir tahun. Yang bermain petasan yang memekakkan, yang bermain meriam yang menggetarkan jantung, yang mengganggu orang yang sedang lewat, membuyarkan perhatian siswa yang belajar; mereka anak siapa?
Bukankah mereka anak-anak dari para pegawai instansi yang berevaluasi itu? Bukankah mereka adalah anak-anak dari jemaat yang sedang beradventus? Bukankah mereka adalah anak-anak dari orangtua yang hiruk-pikuk berbelanja di toko-toko untuk keperluan syukuran akhir tahun dan natalan? Bukankah mereka anak-anak dari warga RT dan RW yang berpapasan siang malam di lingkungannya?
Zona diam dan kepedulian
Ketidaksanggupan kita memberi ruang hidup yang tenang bagi orang lain sesungguhnya adalah titik kritis sebuah penataan sosial. Pembiaran adalah wujudnya dan otoritas dipertanyakan, karena untuk itulah mereka yang menyandang pemimpin ditempatkan di setiap lini kehidupan.
Bagi semua yang mencintai kedamaian hidup, ini adalah sebuah pelecehan terhadap otoritas dan kedewasaan, perendahan terhadap nalar dan pengetahuan, serta pemerkosaan terhadap hati nurani dan martabat manusia. Adler (1927), seorang tokoh psikologi, dengan gamblang merumuskan bahwa kepedulian sosial adalah kondisi alamiah spesies manusia (bukan makluk lain!) dan perangkat yang mengikat masyarakat secara bersama-sama.
Sebagai spesies manusia yang mampu memahami orang lain tentulah berhubungan dengan lingkungan terdekat, karena lingkungan terdekatlah medan yang berpengaruh paling besar atas kehidupan manusia. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan diri ketika memasuki wilayah sosial, karena masing-masing adalah individu yang tentu saja punya kecenderungan sendiri-sendiri.
Kondisi spesies manusia yang berotoritas, dewasa dan bernalar, yang punya nuranilah yang akan memenangkan kehidupan sosial yang nyaman karena ada rasa kasih satu dengan yang lainnya, terhadap sesama maupun lingkungan hidup. Ruang dan waktu itu hadiah dari yang Maha Kuasa untuk semua orang. Karena itu semua wajib untuk saling memelihara, memperhatikan, menjaga dan memahami satu sama lain. Sikap sosial sebagai ciri manusia ini mesti dikembangkan, dilatih oleh semua yang diberi tanggung jawab terhadap anak-anak yang dalam tumbuh kembangnya muncul kecenderungan menyimpang dan liar sebagaimana yang digelisahkan.
Kecenderungan menyimpang dan liar ini tidak datang dengan sendirinya, tetapi adalah hasil dari perekaman mereka terhadap orang lain termasuk orangtuanya dan orang dewasa yang telah lebih dahulu liar dan menyimpang.
Untuk menjinakkan kecenderungan menyimpang, hemat penulis, mesti ada upaya untuk mendidik (bukan hanya mengajar!) anak-anak agar tahu diri sendiri dan orang lain, tahu tempat dan tahu waktu, oleh mereka yang diberi otoritas, karena sikap tersebut adalah kunci keberhasilan penataan sosial. Upaya dimaksud adalah, pertama, ada ketegasan dari pemerintah untuk menerbitkan peraturan tentang keramaian dan bunyi-bunyian, setidak-tidaknya, peraturan dan kesepakatan desa/lurah dan dikawal oleh RT dan RW.