Strategi 'Menanam' Air

Kekeringan yang diakibatkan kemarau panjang tak hanya membawa dampak buruk munculnya berbagai wabah penyakit

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra

POS KUPANG.COM - Saban tahun Provinsi NTT dilanda masalah kekeringan. Dalam posisi normal, musim hujan di NTT hanya terjadi empat bulan setahun dan delapan bulan kering. Dalam posisi tidak normal atau anomali, musim hujan di NTT bisa kurang dari empat bulan setahun.

Musim hujan yang jauh lebih sedikit dibandingkan musim kemarau menempatkan NTT sebagai daerah langganan bencana kekeringan. Dengan porsi musim hujan yang jauh lebih sedikit dibandingkan kemarau sesungguhnya merupakan suatu keniscayaan bahwa NTT memang daerah yang kering.

Kekeringan yang diakibatkan kemarau panjang tak hanya membawa dampak buruk munculnya berbagai wabah penyakit, tapi juga mengakibatkan berkurangnya persediaan air akibat menurunnya debit air dari sumber mata air. Kekeringan berkepanjangan juga mengakibatkan terjadinya krisis pangan. Lahan-lahan sawah dan ladang milik para petani tak bisa digarap dan ditanami tanaman pangan karena ketiadaan air. Sementara tanaman perkebunan juga banyak yang mati akibat kekeringan.

Krisis pangan tak hanya dialami manusia, tapi juga ternak-ternak peliharaan. Banyak ternak yang mati kelaparan dan kehausan akibat ketiadaan pakan dan air. Seperti yang terjadi di Leko Lembo, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Tercatat 503 ekor ternak kerbau, sapi, dan kuda, milik petani setempat mati akibat kelangkaan pakan dan air minum.

Dapat dibayangkan, berapa besar kerugian yang diderita para petani peternak akibat matinya ratusan ternak besar peliharaannya. Ini baru taksasi kerugian akibat kematian ternak. Belum dihitung kerugian akibat matinya berbagai jenis tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, pisang, cengkeh serta tanaman pertanian lainnya.

Mengatasi terjadinya krisis air, krisis pangan dan pakan ternak di daerah dengan curah hujan sangat rendah seperti NTT, maka salah satu strategi yang bisa dilakukan ialah dengan 'menanam' air di saat musim hujan sehingga air yang turun dari langit tidak dibuang percuma ke laut.

Pola 'menanam' air ini dilakukan dengan berbagai cara, antara lain membuat jebakan- jebakan air, membangun embung-embung baik embung kecil maupun besar untuk menampung air saat musim hujan. Embung yang dibangun tidak hanya embung irigasi, tapi juga embung yang berfungsi menyediakan air baku dan untuk konservasi.
Dengan menerapkan strategi 'menanam' air diharapkan Provinsi NTT yang memiliki curah hujan jauh lebih rendah dari musim kemarau tidak akan mengalami kesulitan air.

Air yang tersedia di dalam 'perut' bumi NTT akan terus ada dan selalu tersedia setiap saat karena air hujan yang turun semuanya masuk ke dalam tanah. Jika air di dalam tanah selalu tersedia, maka tanaman pertanian, perkebunan dan pakan ternak juga selalu tersedia karena tidak mati akibat kekeringan.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved