Anak SD di TTS Bolos Sekolah untuk Cari Air
Kekeringan tahun ini jauh lebih buruk dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Editor:
Hyeron Modo
Anak SD di TTS Bolos Sekolah untuk Cari Air

POS KUPANG.COM, SOE -- Sejumlah anak usia sekolah dasar (SD) di Kecamatan Kolbano dan Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT, meninggalkan pelajaran di sekolah untuk membantu orangtua mereka mencari air bersih. Hal ini berlangsung sejak dua bulan lalu.
Di SDN Kolbano, misalnya, setiap hari berkisar 12-18 anak kelas I-VI tidak masuk sekolah dengan alasan mencari air. Anak-anak tersebut mendorong gerobak berjarak hingga belasan kilometer untuk mengambil air bersih. Kadang-kadang, mereka mengikuti truk proyek yang lewat di Desa Kolbano ke sejumlah sungai dan sumur yang diduga masih menyimpan air bersih.
Kolbano berjarak 90 kilometer dari SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, atau sekitar 140 kilometer dari Kupang, ibu kota Provinsi NTT.
Pada puncak kemarau saat ini, sejumlah sumber mata air, termasuk sumur milik warga, kering. Kekeringan tahun ini jauh lebih buruk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kesulitan air bersih tidak terjadi sejak awal musim kemarau pada April-Mei.
"Mereka berburu air bersih di sumur-sumur warga atau mencari air sisa di sungai-sungai. Mereka berangkat pagi hari, sebelum makan, supaya bisa mendapatkan air 2-4 jeriken," kata Agustinus Taupan (45), guru SDN Kolbano, Sabtu (31/10). Bahkan, katanya, sebagian siswa tidak mengikuti ujian tengah semester karena berburu air bersih.
Yohanis Noemleni (12), siswa kelas IV SD Kualin di Kecamatan Kualin, mengatakan, jika tidak mencari air, ia ke sekolah tidak mandi, bajunya juga tidak dicuci. Dalam satu pekan, 2-3 hari ia mencari air bersih bergantian dengan orangtuanya.
"Kami pakai gerobak. Jeriken yang berisikan air di simpan di dalam gerobak kemudian didorong sampai ke rumah. Jika sumber air itu berada dekat jalan aspal, gerobak itu mudah didorong. Namun, jika jauh dari jalan umum, kami harus pikul air jauh dari sumber itu menuju jalan utama. Terkadang, sumber air itu ditempuh dengan jalan kaki sampai 5 kilometer," kata Yohanis.
Anggota DPRD NTT Daerah Pemilihan Timor Tengah Selatan, Ampera Seke Selan, mengatakan, Juni lalu, pemerintah berjanji membangun 1.000 sumur dangkal di daerah itu. Namun, sebagian besar kebijakan itu belum terealisasi.
"Pemerintah harus membangun sumur air bersih yang mampu bertahan selama puncak kemarau di permukiman warga, dengan air tawar yang layak dikonsumsi. Dengan ini, anak-anak sekolah tidak lagi harus meninggalkan jam pelajaran hanya untuk mencari air bersih," katanya. *
Di SDN Kolbano, misalnya, setiap hari berkisar 12-18 anak kelas I-VI tidak masuk sekolah dengan alasan mencari air. Anak-anak tersebut mendorong gerobak berjarak hingga belasan kilometer untuk mengambil air bersih. Kadang-kadang, mereka mengikuti truk proyek yang lewat di Desa Kolbano ke sejumlah sungai dan sumur yang diduga masih menyimpan air bersih.
Kolbano berjarak 90 kilometer dari SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, atau sekitar 140 kilometer dari Kupang, ibu kota Provinsi NTT.
Pada puncak kemarau saat ini, sejumlah sumber mata air, termasuk sumur milik warga, kering. Kekeringan tahun ini jauh lebih buruk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kesulitan air bersih tidak terjadi sejak awal musim kemarau pada April-Mei.
"Mereka berburu air bersih di sumur-sumur warga atau mencari air sisa di sungai-sungai. Mereka berangkat pagi hari, sebelum makan, supaya bisa mendapatkan air 2-4 jeriken," kata Agustinus Taupan (45), guru SDN Kolbano, Sabtu (31/10). Bahkan, katanya, sebagian siswa tidak mengikuti ujian tengah semester karena berburu air bersih.
Yohanis Noemleni (12), siswa kelas IV SD Kualin di Kecamatan Kualin, mengatakan, jika tidak mencari air, ia ke sekolah tidak mandi, bajunya juga tidak dicuci. Dalam satu pekan, 2-3 hari ia mencari air bersih bergantian dengan orangtuanya.
"Kami pakai gerobak. Jeriken yang berisikan air di simpan di dalam gerobak kemudian didorong sampai ke rumah. Jika sumber air itu berada dekat jalan aspal, gerobak itu mudah didorong. Namun, jika jauh dari jalan umum, kami harus pikul air jauh dari sumber itu menuju jalan utama. Terkadang, sumber air itu ditempuh dengan jalan kaki sampai 5 kilometer," kata Yohanis.
Anggota DPRD NTT Daerah Pemilihan Timor Tengah Selatan, Ampera Seke Selan, mengatakan, Juni lalu, pemerintah berjanji membangun 1.000 sumur dangkal di daerah itu. Namun, sebagian besar kebijakan itu belum terealisasi.
"Pemerintah harus membangun sumur air bersih yang mampu bertahan selama puncak kemarau di permukiman warga, dengan air tawar yang layak dikonsumsi. Dengan ini, anak-anak sekolah tidak lagi harus meninggalkan jam pelajaran hanya untuk mencari air bersih," katanya. *
Berita Terkait