Rekayasa Teknologi untuk Jeruk SoE

Kebutuhan dunia akan jeruk yang mengandung vitamin C dan A itu sebanyak 870 ton per tahun

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/MUHLIS AL ALAWI
Jeruk SoE 

News Anaylisis Ir. Zet Malelak, Dekan FTP UKAW Kupang

POS KUPANG.COM - Kebutuhan dunia akan jeruk yang mengandung vitamin C dan A itu sebanyak 870 ton per tahun. Kebutuhan ini untuk memenuhi kebutuhan 3,5 kg jeruk per kapita per orang. Sementara kebutuhan jeruk di Indonesia rata-rata masih 0,5 kg per tahun. Dan harga jeruk keprok SoE ternyata paling mahal di dunia.

Jeruk keprok Bali hanya Rp 4.000/kg, sementara harga jeruk keprok SoE tembus sampai Rp 50.000/kg atau 5 dolar Amerika Serikat. Mengapa mahal? Karena beberapa faktor penyebab.

Pertama, pengembangan dan budidaya jeruk keprok SoE tidak dikerjakan dalam bentuk massal, tidak ditanam dalam satu hamparan lahan. Namun ditanam hanya pekarangan, di sudut rumah, di sudut kamar mandi. Satu orang menanam satu pohon sampai lima pohon. Kalaupun ada petani yang menanam banyak, itu tidak banyak.

Kedua, transportasi yang digunakan untuk mengeluarkan jeruk dari lokasi itu mahal. Ketiga, memang jeruk keprok SoE itu sudah di tangan ketiga atau keempat sehingga harganya mahal. Setiap tangan naik sekitar Rp 3.000/kg.

Nah kalau jeruk itu harganya Rp 1.000/kg, maka saat dikeluarkan dari Ajobaki ke Kapan, naik Rp 3.000, lalu dari Kapan ke SoE naik menjadi Rp 3.000. Belum lagi dari SoE ke Kupang dan daerah lainnya. Jadi, ya benar kalau harga jeruk SoE itu sampai menembus Rp 40.000 hingga Rp 50.000/ kg, itu wajar.

Keempat, karena produksinya sedikit namun dicari sehingga harganya mahal. Padahal kualitasnya belum begitu baik. Jeruk keprok SoE harus dibudidayakan dengan baik dan benar sehingga bisa meningkatkan produksinya.

Agar jeruk keprok SoE bisa berkembang, tidak bisa tidak, harus ada rekayasa teknologi. Dan saya sudah melakukan penelitian tentang jeruk keprok SoE ini sejak beberapa tahun lalu. Ada sejumlah rekomendasi dari hasil penelitian saya.

Secara iklim, ada tiga zona ekosistem yang cocok untuk pengembangan jeruk kerprok SoE, yakni di Molo Utara, Molo Tengah dan daerah tertentu di selatan. Daerah itu merupakan daerah ketinggian. Iklimnya dingin, namun kering, sehingga secara iklim mendukung tapi dari faktor tanah, SoE tidak subur sehingga tidak cocok untuk pengembangan jeruk keprok SoE.

Karena di SoE topsoilnya rendah, SoE didominasi kemiringan di atas 30 persen. Hal ini bukan syarat untuk pertumbuhan jeruk. Karenanya, buah pertama memang banyak namun tahun kedua tanaman bisa mati. Pasalnya, buah pertama, jeruk sudah mengambil semua unsur hara dalam tanah. Kondisi ini juga mengakibatkan produktifitasnya tidak kontinyu. Makanya saya bilang tadi, kondisi itu bisa diatasi jika kita melakukan rekayasa teknologi terhadap pengembangan jeruk keprok SoE.

Cara merekayasa teknologi itu harus dimulai dari tahap penanaman, pembibitan hingga pasca panen. Pertama, lubang penanaman jeruk harus digali sedalam 2 meter x 2 meter paling jelek berukuran 1 meter x 1,5 meter sesuai zona penakaran jeruk. Penggalian harus dilakukan dengan alat berat lalu lubang diberikan pupuk bokasi.

Sistem ini saya ibaratkan membuat pot dalam bumi. Karena tanah di SoE ini tanah berbatu sehingga tanahnya tidak subur. Saya malah berpikir, ratakan saja gunung-gunung di SoE dengan alat berat agar tidak terjadi kemiringan serius lalu bikin lubang penanaman, dan tanamlah jeruk keprok sebanyaknya.

Kedua, benih jeruk keprok SoE harus unggul dan dibuat secara baik agar bebas dari hama penyakit sehingga layak secara budidaya. Banyak cara memperbanyak benih. Untuk cara perbanyak dengan sistem vegetatif maka empat sampai lima tahun barulah tanaman berbuah. Tahun pertama bisa menghasilkan 10kg per pohon. Dan tahun kedua sera berikutnya bisa naik terus sampai 50 kg hingga 70 kg per pohon.

Sementara jika bibit diperbanyak dengan sistem biji generatif, maka pada tahun ke 9 sampai 10 baru berbuah. Namun pada panen pertama buahnya bisa mencapai 250 kg per pohon dan daya tahannya bisa lebih.

Sementara itu jika diperbanyak dengan okulasi, kualitasnya akan jelek. Karena yang saya lihat selama ini, akar tunggang selalu dipotong, padahal seharusnya tidak boleh. Akar tunggang itu tidak boleh dipotong karena penting untuk 'mencari' air dalam kedalaman tertentu. Jika akar tunggang dipotong maka ada luka dan virus bisa menyerang dari bawah sehingga membusukkan akar.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved