Sabtu, 2 Mei 2026

Untuk Umbu Landu Paranggi

"BUKAN menulis beri daku Sumba! Yang kuminta adalah beri daku puisi," demikian komentar yang disampaikannya. Dia teringat Taufik Ismail yang menulis

Tayang:
Editor: Alfred Dama

"Kutulis puisi ini bersama Surat Untuk Bidadari," kembali Nona Mia menggali puisinya dari film. "Katakan pada semesta Sumba. Kekasih menantimu pulang dan anak-anak menangis di atas sengketa yang dirancang orang tuanya. Wahai lelaki Sumba! Kulihat Bunda Sumba berduka. Hapuslah air matanya sebelum berubah menjadi tanah."

"Kamu lulus sebagai penyair!" puji Benza. Puisimu indah sekali.
"Siapa yang akan membacanya?" tanya Jaki dan Rara bersamaan.
"Umbu Landu Paranggi dan Taufik Ismail!" jawab Nona Mia.
"Aku yang akan membacanya," Jaki dan Rara berebutan.

"Tidak, Jaki Rara! Kalian berdua bukan penyair. Kalian berdua tidak dapat menghayati puisi Umbu tentang Bunda Tercinta yang sebenarnya sedang meratapi Sumba. Kalia berdua juga tidak dapat menghayati puisi Nona Mia."
"Biar Umbu Landu Paranggi yang membacanya!" kata Benza lagi.

                                           ***
"Tepat sekali!" kata Nona Mia. "Biar Umbu Landu Paranggi yang membacanya. Di manakah dia sekarang? Laki-laki, penyair pengembara itu, betapa rindu aku bertemu dengannya. Di hadapannya aku ingin membaca Melodia. Begini katanya," Nona Mia terdiam sejenak.

"Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali - bertahan - Karena kehidupan pun sanggup merangkum duka gelisah - kehidupan - baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi - Suara-suara di luar sana." Peringatan untuk mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara di luar sana.

"Umbu Landu Paranggi, Panyair! Ajarlah kami  merenungi puisi tanah Sumba."  *

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved