Gubuk Reot itu Ternyata Bangunan SDN Kuru yang Diterlantarkan
Di sebuah ketinggian, sekitar 100 meter arah Timur Jalan Trans Utara Flores tepatnya di Kuru, Desa Totomala, Kecamatan Wolowae
POS KUPANG.COM -- Di sebuah ketinggian, sekitar 100 meter arah Timur Jalan Trans Utara Flores tepatnya di Kuru, Desa Totomala, Kecamatan Wolowae berdiri tujuh bangunan gubuk berukuran rata-rata 5 kali 6 meter tanpa jendela, tanpa pintu.
Gubuk-gubuk itu ternyata bangunan sebuah sekolah dasar negeri, SDN Kuru. Empat dari tujuh bangunan itu digunakan untuk aktivitas belajar mengajar. Sungguh, sebuah pemandangan yang cukup ironi.
Kondisi bangunan gubuk sudah reot. Sepintas tidak berbeda dengan kandang ternak. Gubuk berlantai tanah, beratap daun gewang dan berdinding pelepah gewang dengan beberapa batang kayu gelondongan sebagai penopang, terlihat tidak terawat. Sebagian dindingnya ada yang mulai terlepas.
Di setiap gubuk hanya ada beberapa kursi kayu dan kursi plastik yang sebagiannya sudah rusak dan tidak layak untuk digunakan. Setiap ruangan ada papan tulis dan tulisan angka-angka yang menunjukkan ada aktivitas belajar mengajar di ruangan itu.
Salah satu ruangan ada gambar burung Garuda dan Presiden Susilo Bambang Yudoyono tanpa gambar Wakil Presiden Budiono. Kondisi ruangan berantakan.
Hari itu, sekolah yang didirikan tahun 2010 dan difinitifkan tahun 2012 itu terlihat sepi. Tak ada guru, tak ada siswa siswi berlari kian kemari dan tak ada aktivitas belajar mengajar. Padahal, seharusnya hari itu hari sekolah.
Menurut salah seorang warga di sekitar lokasi sekolah, hari itu seluruh siswa tidak masuk sekolah. Para siswa diliburkan dari aktivitas belajar mengajar setelah mengikuti upacara bendera peringatan Hari Pendidikan Nasional di Halaman Kantor Bupati Nagekeo.
Beberapa warga mengatakan, setiap hari para siswa belajar dalam gubuk itu. Selain gedung sekolah yang reot, para siswa juga harus berjuang menapaki jalan menanjak berbatu menuju sekolah.
Tahun ini merupakan tahun kelima sekolah itu berdiri. Para siswanya sudah duduk di kelas empat dan sebentar lagi naik ke kelas lima. Lima tahun perjalanan sekolah itu ternyata tidak mengubah apapun.
SDN Kuru ibarat anak manusia, yang diterlantarkan setelah dilahirkan.
Sekolah yang menjadi tempat 60 orang bocah menggantung asa, bak kandang ternak yang tak tersentuh tuannya. Mungkin hanya satu kata yang dibutuhkan untuk menggambarkan kondisi sekolah itu. Prihatin!!
Bagaimana mungkin kita berharap menghasilkan generasi yang berkualitas, kalau tempat mereka belajar saja kondisinya tak jelas.
Sementara Pemerintah daerah menghamburkan uang rakyat meningkatkan kesejahteraan. SDN Kuru hanya satu dari sekian sekolah yang muncul ke permukaan. Masih banyak SDN lain yang nasibnya sama seperti SDN Kuru. Sekolah - sekolah itu tidak sempat tertangkap pandang, tenggelam di kedalaman jurang, atau terhalang bukit yang menjulang dan tertutup pohon yang rindang. Mereka belum tersentuh.
Kepala Desa Totomala, Sirilus Abuligi yang ditemui di kediamannya, Sabtu (2/5/2014), mengatakan, kondisi SDN Kuru sudah disampaikan dalam Musrenbang Kecamatan. Namun tidak juga ada respon.
"Di Musrenbang Kecamatan kita dapat informasi akan dibangun tiga ruangan dan sudah mau diukur. Kita tunggu tapi tidak datang. Sekarang anak-anak sudah duduk di kelas 4, dan sebentar lagi naik kelas 5. Jadi kita butuh lima ruang kelas belajar mengajar," kata Sirilus.