Breaking News
Minggu, 7 Juni 2026

Mezra E Pellondou: Generasi Muda Sastrawan NTT (2)

Sebutlah beberapa nama penulis muda NTT yang sekarang ini pantas didengungkan, misalnya Mario Lawi dan Amance Franck

Tayang:
Editor: Alfred Dama

POS KUPANG.COM -- Perbincangan lalu dengan Mezra Pellondou sudah memberi catatan tentang generasi pendahulu sastrawan asal NTT.  Dan, menurutnya, seiring dengan makin terbukanya media untuk berekpresi bagi sastrawan, maka muncul pula nama-nama baru yang langsung memberi harapan lahirnya penulis-penulis muda dari bumi Flobamora.  Dalam perbincangan dengan Pos Kupang, Mezra Pellondou  memberi catatan agar sastrawan muda diharapkan menjadi tonggak baru munculnya sastrawan baru dari NTT untuk meramaikan panggung sastra nasional, bahkan Internasional. Berikut kelanjutan perbincangan dengan Pos Kupang.

Bagaimana Anda melihat talenta-talenta dalam dunia satra yang bisa menjadi kebangaan NTT?
Sebutlah beberapa nama penulis muda NTT yang sekarang ini  pantas didengungkan, misalnya  Mario Lawi dan Amance Franck, yang sempat mempersembahkan Ubud Writer Award bagi NTT. Saya mengatakan demikian karena dua penulis muda ini telah mengharumkan nama NTT.  Sebagai penulis muda  karyanya berhasil menyisihkan ribuan penulis lainnya, tidak hanya  sesama penulis NTT tetapi juga mereka bersaing dengan penulis Indonesia dan penulis  dunia. Ini untuk menunjukkan keberadaan mereka di pentas sastra dunia. Karya-karya mereka berdua telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris agar lebih dinikmati oleh masyarakat dunia. Bahkan puisi-puisi kontempelatif Mario Lawi hampir dapat kita temui di setiap terbitan Kompas Minggu,  sebuah perkembangan yang berarti bagi penulis muda NTT sekarang. Mario Lawi telah memberi spirit yang besar bagi kepenyairan generasi muda NTT sekarang dan nanti.  Saya juga menyebutkan nama Deky Senda yang terlibat pula dalam Makasar Internasional Writing  bersama Amance Franck dan juga Mario Lawi. Ada juga cerpenis dan penyair Januario Gonzaga. Prestasi Januario dan Deky   tidak bisa diuraikan satu per satu di sini.

Bagaimana di tingkat nasional?
Pembaca Indonesia juga diguncangkan oleh karya fenomenal Buang Sine, novel Dua Malam Bersama Lusifer, yang menduduki buku best seller pada toko Gramedia di beberapa kota di Indonesia. Bahkan pemberitaan terakhir dari Pos Kupang, Novel Buang Sine tersebut akan difilmkan di  Amerika. Jika itu terjadi, maka ini  sebuah perkembangan ke arah terkuakknya akses penulis-penulis muda berbakat NTT di kancah Internasional. Kita pasti mengenal Pion Ratuloly yang mulai memfokusukan aktivitasnya pada membina penulis-penulis muda Lamalera dan telah menghasilkan buku kumpulan puisi. Masyarakat NTT  juga mengenal penyair  Bara Pati Raja, Jefta Atapeni, yang telah menerbitkan buku kumpulan puisi. Ada pula  novelis Roberth Faik yang memiliki semangat bersastra yang pantas diacungkan jempol. Robert cukup serius menggarap  tanah kelahirannya yakni Bumi Malaka  di NTT dalam novel-novelnya, yang terbaru yang akan segera terbit adalah Likurai Untuk Sang Mempelai. Yang saya sebutkan  di atas baru segelintir nama generasi muda NTT yang kehadirannya di pentas sastra telah membawa perkembangan berarti bagi Provinsi NTT dalam bidang tulis menulis khususnya sastra.

Banyak nama yang Anda sebutkan, apakah sastra NTT bergerak maju?
Dengan mengurai berbagai hal sederhana ini, saya mencoba membawa kita melihat perkembangan sastra di NTT yang walaupun berjalan perlahan, namun menunjukkan perkembangan yang berarti. Topografi NTT yang unik, dengan rimbunan budayanya yang juga unik dan beragam, hampir bisa dipastikan cukup rumit untuk dilacak perkembangan sastra di masing-masing daerah sehingga kadang jawaban atas pertanyaan wartawan ini juga belum dipastikan sebagai jawaban yang final karena   sesungguhnya masih banyak aktivitas lain dan nama-nama lain yang tidak sempat disebutkan satu persatu.  Bahkan mungkin tidak sempat dilacak dan diketahui, namun sesungguhnya mereka sangat pasti dan terus berkarya di dunia sastra  dengan  segala ketulusan mereka untuk membangun NTT ini. Kendala lainnya adalah miskin, bahkan hampir tidak adanya kritikus sastra di NTT sehingga perkembangan sastra di NTT hanya bisa dilhat dari produktivitas, aktivitas, dan karya sastra masyarakt NTT, baik di dalam NTT sendiri maupun di luar NTT.

Bagaimana dengan  aktivitas Anda? Selain berkarya, ibu juga disibukkan dengan menumbuhkan dan memotivasi generasi muda NTT untuk menulis dan mencintai sastra. Bisa diceritakan?
Iya. Saya sendiri masih terus memelihara spirit bersastra dan menulis dengan menerbitkan beberapa buku setiap tahun. Tiga buku saya yang terbit tahun 2013 yaitu Kumpulan Puisi Kekasih Sunyiku, serta dua buku pelajaran untuk siswa dan  mahasiswa yakni, Jangan Takut Menulis Naskah Drama serta buku yang satunya lagi adalah Jurnalisme, Jurnal, Jurnalis dan Pers. Selain itu, atas undangan Kantor Bahasa NTT pimpinan  Lutfi Bagiaqi saya membimbing beberapa penulisan kreatif bagi anak-anak sekolah di daerah kepulauan dan daerah perbatasan.  Hasilnya telah dibukukan dalam bentuk kumpulan cerpen, Anak Gerbang Selatan (Kumpulan Cerpen Siswa SMA Negeri  1 Rote Barat Daya, Nemberalla) dan, Lima Dolar (Kumpulan cerpen siswa SD Motaian) dan kedua buku tersebut dipamerkan dalam pameran buku Kongres Bahasa X di Jakarta, Oktober 2013.  Tahun 2013 ini pula sedang menyiapkan dua novel saya, dan satu kumpulan cerpen bertema lokalitas yang akan segera saya terbitkan awal tahun 2014, sambil saya menghadiri beberapa undangan memberikan pelatihan  menulis, menjadi juri kegiatan sastra, serta beberapa pertemuan sastra dan pementasan di tingkat nasional.

Anda juga mendapat penghargaan dari karya-karya Anda!
Saya bersyukur pada Tuhan karena  tahun 2012 saya masih bisa mempersembahkan bagi NTT penghargaan sastra untuk pendidik karena Novel saya berjudul  Nama Saya Tawwe Kabota menghantar saya sebagai pemenang pertama nasional peraih penghargaan sastra, yang diselenggarakan oleh  Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Diurutan kedua diraih oleh  Pare-Pare, sedangkan  diurutan ketiga diraih oleh  Magelang.  

Saya selalu bersyukur masih dipercayakan Tuhan untuk membentuk dan membina Ume Kreatif  Inspirasi Mezra (UKIM) sejak 19 Juli 2006, sejak cerpen saya berjudul Manusia-Manusia Jendela  menjadi pemenang pertama nasional penulisan cerpen yang diselenggerakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, bagian Peningkatan Perpustakaan Sekolah.

Sebagai guru sastra dan Bahasa Indonesia, bagaimana Anda melihat minat sastra di kalangan pelajar atau siswa?
Minat berurusan dengan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu  yang  muncul dalam bentuk  gairah, keinginan dan kesenangan.  Masalahnya adalah  sekalipun seseorang mengetahui akan sesuatu, belum tentu bergairah.  Sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia, tugas untuk menggairahkan anak/siswa (membuat anak/siswa berminat)  adalah tugas yang gampang-gampang susah karena sebagian orang  menganggap bahwa menguasai materi sastra yang hendak kita ajarkan, akan mampu menggairahkan anak pada sastra. Namun bagi saya itu keliru, karena anak sekarang butuh diyakinkan serta membutuhkan keteladan dan contoh nyata seorang guru, bukan kata-kata yang keluar saat pembelajaran di kelas. Untuk menggairahkan anak/siswa pada sastra kepintaran mengajar dan menguasai ilmu sastra saja tidaklah cukup. Seorang guru bahasa dan sastra Indonesia harus memiliki seni mendekati anak, bahkan seni bagaimana "menjadi anak" dan terlibat dalam  kehidupan bersastra anak. Dan, untuk hal ini tidak semua bersedia memiliki waktu untuk itu.   Jika ingin melihat minat sastra di kalangan pelajar atau siswa, kita juga harus melihat bagaimana kegairahan bersastra seorang guru.  Sejak November 2005 saya telah berusaha membuat kegiatan sederhana bagi lima belas sekolah di Kota Kupang dengan menggairahkan siswa memusikalisasi puisi dan itu dimulai dengan  memusikalisasi puisi karya guru bahasa Indonesia di sekolahnya sendiri.

Anda selalu membuat karya sastra seperti cerpen dan puisi dengan latar belakang alam dan budaya. Kultur etnik yang dideskripsikan dalam karya-karya ibu, lebih khususnya NTT sangat kuat. Mengapa?
Kesusastraan, meski bermain dalam tataran imajinasi, sesungguhnya merefleksikan roh kultural sebuah komunitas. Ia merupakan refleksi evaluatif atas kehidupan yang melingkari diri seorang sastrawan. Ia hadir dan dilahirkan dari sebuah proses panjang berbagai macam kegelisahan yang terus menerus menggerayangi sikap, pemikiran, ideologi, kepercayaan, dan kepedulian sastrawan atas nasib orang per orang dalam konteks sosial yang terikat pada kebudayaan masyarakat.

Dan, saya memiliki panggilan hati untuk melakukannya dalam setiap karya saya. Beberapa teman sastrawan, wartawan dan budayawan selalu mengatakan bahwa saya adalah sastrawan pejuang lokal genius. Saya tidak menolak bahwa dengan kesadaran yang besar, saya memang memperjuangkan kultur etnik, lokal genius dalam hampir semua karya saya, entah puisi, cerpen maupun novel. Dan, saya sangat konsisten hingga detik ini. Pertanyaannya, mengapa itu saya lakukan? Bagi saya, karya-karya yang bersumber dari kultur etnik sangat pantas menjadi bahan awal memperkenalkan serba sedikit mengenai berbagai kultur etnik yang tersebar di Nusantara ini, dan NTT terlalu kaya dan tidak akan habis-habisnya untuk diceritakan. Dengan menceritakan, menampilkan, mengahadirkan, bahkan mungkin mengkritisi berbagai kultur etnik dalam karya-karya sastra yang saya tulis, saya telah melakukan dengan sangat sadar upaya  untuk memperkaya khasanah sastra Indonesia dengan ciri yang pluralistik. Bukankah NTT dengan  kultur etniknya adalah salah satu dari kekayaan Indonesia? Dengan menghadirkan kultur Etnik NTT pada khsanah sastra Indonesia, diharapkan terjadi keterbukaan menerima dan mencoba melakukan apresiasi terhadap berbagai kultur etnik Indonesia yang kaya ini sehingga secara perlahan mengikis sikap menganggap rendah kebudayaan orang lain dan sebaliknya menimbulkan dan menghargai keragaman bangsa Indonesia bahkan dunia yang memang berbeda.

Selain Anda, siapa lagi yang juga bermain dengan etnik NTT?
Saya juga  bangga pada beberapa sastrawan Indonesia yang juga konsisten mengusung kultur etnik dalam karya-karya mereka. Bahkan saya merasa banyak belajar dari proses kreatif mereka.   Gerson Poyk dengan setting karya-karya bersumber pada kultur etnik NTT (Enu Molas di Lembah Lingko dsb) juga Maria Matildis Banda. Selain  Gerson, Maria Matildis Banda dan saya, ada juga misalnya novel pertama F Rahardi tentang Lembata,  serta beberapa karya puisi penyair NTT semisal  Marsel Robot, Hadzarmawit Netty,  Amance Franck serta bahkan hinggga sastrawan-sastrawan muda NTT,   Jefta Attapani, Saddam HP, Deky Senda, Pion Ratuloli, Bara Pati Radja , Januario Gonzaga, Mario Lawi, Ragil Sukriwul atau karya-karya Joko Bayu, Deki Seo dalam berbagai pertunjukan teaternya, Pieter Kembo dengan keberanian menyentuh audio visual berupa film yang semakin mempertegas bahwa setiap karya sastra pada dasarnya unik. Dan, keunikan dalam sastra Indonesia sangat dipengaruhi oleh kultur dan masyarakat tempat sastrawan itu lahir dan dibesarkan atau pengalaman yang kuat dan terus menerus dengan lingkungan yang digarapnya dalam karya-karyanya. Sastrawan NTT telah melakukan semua hal positif tersebut, semoga pemerintah NTT memiliki apresiasi yang baik terhadap keberadaan sastrawan NTT dan menganggap mereka ada. 
     
Anda begitu antusias dan semangat memperkenalkan musikalisasi puisi. Apa tujuannya?
Aduh, apakah saya terlihat antusias saat memperkenalkan musakalisasi puisi? (tersenyum). Memang awal tahun 2005, saya cukup dikenal sebagai sosok yang menghidupkan dan memperkanalkan  kembali semangat bermusikalisasi puisi di kalangan pelajar se-Kota Kupang. Walaupun sebelum saya,  ada  sosok lain  seperti Frans Ola Wuran dan Niko Ratulangi yang begitu bersemangat di era tahun 1998-1999. Jadi, jika musikalisasi puisi saya gairahkan kembali  di tahun 2013 ini, bagi saya antusiasme itu tidaklah setinggi tahun 2005.  walau begitu jujur saya katakan bahwa saya tetap antusis. Mengapa? Puisi tanpa dimusikalisasi pun tetap sudah musikal karena diksi, dan irama dimiliki sebuah puisi, namun musikal dalam pengertian tersebut pada tataran sastra. Sedangkan musikalisasi puisi  merupakan kolaborasi dua seni yakni musik dan puisi (sastra). Dengan musikalisasi puisi, siswa dibangkitkan minatnya pada sastra  (puisi) sekaligus mengembangkan minat bermusik dan mengasah kepekaan atau intusisi kreatif. Dua kenikamatan yang diperoleh sekaligus, yakni kenikmatan sastra dan  kenikmatan musik. Setelah siswa menikmati sastra dan musik, siswa akan  mengambil berbagai  nilai yang hendak disampaikan pengarang lewat karya puisinya itu. Musikalisasi puisi dapat meningkatkan apresiasi siswa dan guru terhadap sastra sekaligus menyalurkan minat dan bakatnya siswa dalam bidang musik. 

Di NTT banyak kalangan muda yang menyukai sastra tetapi bingung mengawalinya. Apa saran Anda?
Pertanyaan ini bisa diajukan di zaman awal  kepengarangan Gerson Poyk, Hadmarwit Netti hingga Maria Matildis Banda atau zaman saya muda dulu di mana segala sesuatu serba terbatas. Sekarang ini, semua pintu kreatif terbuka untuk dimasuki. Setiap detik Indonesia, bahkan NTT menghasilkan penulis sastra dan kary sastra. Terdapat ruang yang merdeka dan sangat  kompetitif untuk setiap anak muda menjatuhkan pilihan apakah dirinya akan terus "tidur" atau mulai "terbangun" dan  beraktivitas? Bahkan sekarang ini, kita dengan mudahnya menemukan seorang anak muda yang "berlari" dengan begitu cepat  dalam melakukan aktivitas bersastra. Sebagian anak muda lainnya bahkan sudah kecapain, dan mereka membutuhkan beristirahat, dan setelah mengaso sebentar mereka kembali lagi melanjutkan perjalanan dengan gairah yang selalu baru.

Sungguh, ini zaman yang benar-benar menggairahkan bagi sastrawan muda NTT dan kebanggaan besar bagi  para sastrawan sesepuh  mereka.  Jadi, saran saya, jika anak muda menyukai sastra, bukalah matanya lebar-lebar sekarang dan mulailah melakukan sesuatu. Pilihlah ruang atau pintu yang tepat untuk memulainya karena ada banyak pintu yang selalu siap terbuka untuk menolongmu, termasuk ada begitu banyak media yang akan menerima dan menampung tulisan-tulisanmu. Juga ada begitu banyak penerbit yang bersedia menerbitkan karyamu. Satu yang pasti adalah yakinkanlah pada dirimu bahwa Anda siap berkompetensi dan pantang menyerah karena kemajuan kuantitas yang terlihat secara kasat mata belum tentu menjamin kualitas diri setiap orang.

Anda juga mengikuti kongres Bahasa Indonesia X. Apa manfaatnya untuk ibu dan NTT?
Saya mengikuti Kongres X Bahasa Indonesia yang berlangsung di Jakarta 28 Oktober 2013. Saya terdaftar di kongres itu sebagai  sastrawan dan pendiri atau penggagas  Uma Kreatif Inspirasi Mezra (UKIM) NTT. Selain saya, ada juga perwakilan dari guru yakni  Jhon Tubani. Namun demikian, sebagai guru Bahasa dan sastra Indonesia dan sebagai penulis dan praktisi sastra, saya mendapatkan  manfaat yang besar sekali berkaitan dengan diplomasi bahasa Indonesia di ajang Internasional  yang seharusnya bisa dilakukan dengan berbagai karya kesusastraan. Masalahnya adalah  selama ini negara hanya melakukan diplomasi bahasa dan  kebudayaan lewat kegiatan-kegiatan pariwisata yang lebih banyak dikemas dalam bentuk tarian, namun bukan seni pertunjukan sastra atau penulisan-penulisan karya kesusastraan lainnya.  Kalau pun ada pertunjukan, lebih banyak pertunjukan wayang, yang sudah tentu tidak mewakili Indonesia secara keseluruhan. Saya berharap Provinsi NTT yang kaya dengan tarian dan seni pertunjukan ini dalam berbagai perhelatan pariwisata di dalam maupun di luar negeri, dapat melirik keberadaan sastra  tulis karya anak-anak NTT maupun sastra lisan yang muncul dari rahim  NTT sebagai bentuk kolaborasi yang layak disandingkan dengan berbagai atraksi,  tarian  serta seni pertunjukan lainnya sebagai diplomasi  sastra dan budaya antar negara. Perlu diketahui bahwa hubungan kongres Bahasa Indonesia dengan kesusastraan Indonesia begitu dekat, bahkan hampir tidak dapat membicarakan sastra Indonesia modern tanpa menyinggung keberadaan Sumpah Pemuda.

Dalam dunia sastra apa rencana  Anda selanjutnya?
Saya bermimpi dan sedang memperjuangkan dengan sangat gigih, agar NTT memiliki Kampung Sastra, sebuah pusat sastra dan kebudayaan.  Sebuah kampung di mana kehidupan normal tetap berjalan, tugas-tugas pemerintahan tetap sebagimana mestinya, namun yang membedakannya adalah semua aktivitas sastra dan budaya NTT muncul di kampung tersebut. Termasuk semua dokumentasi budaya, sastra dan Satrawan NTT setiap generasi dapat ditemui dan terdokumentasi dengan lengkap di kampung itu. Memang ini impian yang muskil atau terlalu tinggi,  bahkan mungkin akan dicela oleh mereka yang tidak menyukai ide gila saya ini.  Tetapi saya terus berjuang dan menggantungkan impian saya itu setinggi langit.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved