Rabu, 10 Juni 2026

9 Fragmen Sebelum Kamu Lahir

DI DEPANMU duduk seorang berkata mata tebal. Dengan suara yang lembut ia membacakan sembilan cerita ini kepadamu.

Tayang:
Editor: Alfred Dama

"Kamu sudah minum vitamin yang hari kamu beli `kan sayang?"
"Sudah papa, memangnya kenapa sayang?"

"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan dirimu sayang. Maksudku, mungkin kamu hamil, sayang.. Waktu kamu hamil adek, awal-awal kehamilan, kamu mengalami gejala seperti ini."

"Mungkin ia papa, aku hamil. Ya sudah, nanti aku sempatkan diri ke apotek, mungkin juga aku hamil papa. Biar aku beli alat test kehamilan ya sayang."
Pagi harinya, ia menemukan bungkusan alat test kehamilan yang dibeli ibumu senja itu di apotek dekat kantornya.

LIMA
Perut ibumu mulai besar kini. Sudah lima bulan usiamu dan lima bulan pula kamu berada di dalam kandungannya. Di kantornya, ia dipindahkan ke divisi yang tidak terlalu banyak kerjaan. Atasan kantor ibumu bisa mengerti keadaannya. Sedangkan ayahmu, ia tidak bisa lagi menjemput ibumu sepulang kantor seperti biasanya. Mereka hanya bisa bertemu di siang hari, kala ibumu sedang istirahat siang.
"Bagaimana keadaan kandunganmu?"

"Baik-baik saja, anak kita sehat, aku selalu rutin ke dokter kandungan, jadi kamu tidak perlu cemas, dia baik-baik saja kok."
"........."
Ayahmu tercengang demi alasan yang hanya ia pahami. Mereka kembali melanjutkan makan siang yang sempat tertunda. Kini masing-masing mereka tenggelam dalam lamunan yang panjang. Hening. Ayahmu mengelus-elus perut ibumu. Ia juga ingin merasakan kehadiranmu. Lalu kamu mulai menendang-nendang tangannya. Ayahmu begitu suka. Tetapi hatinya luka. Tak ada yang tahu.


ENAM
Ia mafhum, ibumu sebenarnya juga menyimpan sesuatu darinya dalam diam. Ia tahu itu. Tetapi terus dipendamnya. Rasa itu terus saja ditabungnya setiap kali ibumu berada di rumah.
"Ma, kamu baik-baik saja `kan sayang?"
"Ia Pa aku baik-baik saja papa."
"Aku perhatikan, kamu kelihatannya suka berdiam diri, malah sering melamun sendiri, kamu yakin kamu baik-baik saja, sayang?

"Ia papa, mungkin hanya bawaan anak kita sayang."
"Oia Pa, lusa 'kan jadwal perikasa kadunganku, aku berencana sehabis kerja aku langsung ke dokter Pa, kebetulan aku ada sedikit kerjaan hingga sore nanti. Boleh ya Pa?"

"Ya tapi pulangnya aku jemput ya sayang. Sayang, sekalipun kerjaanmu banyak, jangan lupa jaga kesehatan ya."
"Pasti papa."

Sore itu ibumu ke dokter kandungan untuk memeriksa keadaan kamu di dalam kandungannya. Ia ditemani ayahmu.

TUJUH
Sepulang kerja ia menjemput ibumu. Namun sebelum kembali ke rumah, mereka masih berkunjung ke suatu tempat penjualan perlengkapan bayi. Mereka berlama-lama di sana dan membeli banyak sekali kebutuhanmu. Semua perlengkapanmu berwarna merah hati, karena mereka tahu dari hasil pemeriksaan dokter kamu berjenis kelamin perempuan. Mereka tersenyum riang gembira. Tak terasa kamu akan segera lahir. Sepertinya mereka tak sabar lagi menunggu kelahiran kamu.

"Kalau baju ini cocok tidak Ma?"
"Ia cocok Pa, bagus papa."
"Sayang, apa kita harus membeli lagi Box Baby?"
"Papa..punya adek yang dulu masih juga bagus, kita pakai punya adek saja."
Saat hendak keluar dari tempat itu, ibumu melihat ayahmu di seberang jalan. Matanya sayu.


DELAPAN
Ibumu dijemput ayahmu selepas kerja sore itu. Ia tak punya pilihan lain karena ayahmu memaksannya. Ia bersikeras ingin menemui ibumu. Mungkin karena sudah beberapa minggu ini mereka tidak lagi bisa bertemu seperti biasanya. Ibumu memang sudah jarang makan siang bersama ayahmu. Sejak mereka bertemu malam itu di depan tempat penjualan perlengkapan bayi, ibumu tak lagi ke rumah ayahmu.

"Kamu terlalu nekad."
"Aku tak peduli lagi, aku tak ingin lagi keadaan kita seperti ini terus. Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini."
"Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin dia tahu."
"..........."

Ayahmu terdiam. Diamnya begitu panjang bahkan hingga mereka selesai makan. Ayahmu ingat malam itu, di tempat inilah mereka pertama kali bertemu setahun yang lalu. Dan ketika ia harus mengantar ibumu pulang, serupa malam itu dan malam-malam lainnya, ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Bahkan untuk mengecup kening ibumu pun ia tidak bisa. Ia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Ayahmu melepas ibumu di seberang jalan. Sementara di tepi jendela malam itu, ia hanya melihat ibu dan ayahmu. Setiap malam ketika ibumu pulang terlambat setelah lembur di kantornya, ia ada di jendela rumah mereka. Rumah ia dan ibumu. Dari jendela itu ia membuang alat test kehamilan ibumu ke gelap malam.

SEMBILAN
Tidak terasa sudah sembilan bulan kamu ada di dalam perut ibumu. Hari itu hari kelahiranmu. Beberapa menit sebelumnya, tangismu baru saja pecah di sebuah rumah sakit bersalin. Kamu terus merengek ingin kembali ke dalam rahim ibumu. Sementara ibumu masih tak sadarkan diri.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved