Terperangkap di Deras Hujan
HUJAN terus mengguyur tanpa henti. Sudah sejam lebih aku hanya bisa berdiri di pojok emperan Toko. Banyak orang bersamaku tanpa aku kenal.
Seribu prasangka menumpuk di dalam isi kepalaku. Pelan-pelan dalam hati kecilku aku seakan mengagumi kecantikan wajahnya. Ia tersenyum kepadaku ketika menyadari lirikan matanya tertangkap ekor mataku. Aku berusaha tersenyum dengan sedikit dipaksakan. Aku seolah mematung ketika ia mulai bercerita.
"Hakim maafkan saya ya!! Saya tidak tahu harus mulai dari mana, tapi yang jelas setelah kamu mendengar cerita ini, saya harap kamu jangan marah terhadap saya. Karena ini merupakan perasaan saya dan belum seorangpun mengetahuinya. Karena memang saya belum berkata jujur pada siapa-siapa, kecuali pada kamu, saya hendak katakan"
"Ibumu sudah sembuh??" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, maukah kamu mendengar sedikit curahan hati?" Ia kembali mengajakku mendengarkan ceritanya. Aku mengiyakan saja karena aku takut ia akan tersinggung. Ia mulai menceritakan tentang awal dia berada di kota ini. Tentang semua yang ia lakukan selama dua tahun terakhir di kota ini. Aku seolah tak percaya ketika ia mulai mengatakan lembaran kisah suramnya.
"Mungkin kamu tidak percaya dengan kisah saya ini, tetapi inilah saya. Kamu sadar tidak ketika kamu kehilangan dompet hari itu?? Aku cuma mengangguk lalu berkata iya. Mungkin kamu tidak mengira kalau sayalah orang yang mencopet dompet kamu di emperan toko itu." Aku terperanjat, mana mungkin wanita secantik dia melakukan hal tersebut. Aku menjadi gugup ketika ia mengatakan bahwa dirinya seorang pencopet, aku merasa seolah dia telah mengetahui semua kelakuanku. Seolah dia telah mengetahui semua perilaku busukku selama ini.
Menjadi seorang pencopet, tanpa diketahui oleh siapapun. Saya yang telah mencopet dompetmu dari dalam tasmu dan menaruhnya kembali ketika kita berada di taman kota sore itu. Saya harap kamu mau memaafkan saya." Aku tergagap, dalam hati aku berpikir: andai dia tahu kelakuan aku selama ini, mungkin dia tidak akan menceritakan kehidupannya yang suram. *
*) Djho Izmail adalah nama pena dari Yohakim Dawi. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Menetap di Kupang, sambil ikut mengelolah Jurnal Sastra SANTARANG.
-----------------------------------------------------------------------------
Pengiriman puisi dan cerpen untuk dimuat pada halaman Imajinasi Pos Kupang melalui alamat email ini: imajinasiruang@ymail.com
------------------------------------------------------------------------------