Wajah dalam Lukisan
MEREKA berangkulan. Ayah, ibu serta kedua anak mereka. Anak kalian selalu yang terbaik dalam ajang mana saja.
Demikian sebuah media mengekspos berita. Oleh karena itulah setiap kali kami akan menuju sebuah festival, kami tidak bisa sendiri tanpa ayah dan ibu. Di mana saja, sejak dari Istambul, Berlin, Singapura, Italy, Swedia, Belanda, London, Jerman, hingga di Tokyo, bapak dan mama itulah yang menjadi manajer sekaligus tokoh buat Melky dan Sandi. Iya, sejak kecil kami sudah yakin, anak-anak kami akan menjadi orang hebat.
Dengan tekun kami memfasilitasi pendidikan sesuai minat dan bakat mereka. Kamu tahu betul keinginan anak-anak kami. Dan kami bangga telah melahirkan dan membesarkan mereka dengan karunia yang telah Tuhan berikan ini. Begitulah setiap kali diundang untuk memberikan sepenggal komentar (sifatnya sangat rohani yah) sebagai tokoh panutan Melky dan Sandi.
Melky, kamu yakin ibu dan bapak itu salah membawa koran dan selendang macam orang dari udik mana lah? Ah aku sudah mengusirnya. Seperti orang kampung yang salah alamat di kota. Iya. Berani-beraninya dia menerobos pintu pagar mau menemui ayah dan ibu. Mungkin dia tidak tahu alasan Presiden menerimakan penghargaan prestisus buat ayah dan ibu. Heran! Masih juga tidak paham. Sudah. Begitulah mindsetnya orang pedesaan. Tidak paham dengan gengsi-gengsian. Suka serobot macam rebutan minyak tanah.
Melky memanggil pak Satpam lagi oleh tingkah laki-laki dan perempuan tadi. Ah, coba lihat itu! Mereka kembali lagi. Dengan sebalok kayu, Satpam berteriak: pergi sana. Dasar orang kampung. Punya tompel tidak urus, maunya serobot rumah orang. Wanita itu tertunduk dan menutupi sejenis tahi lalat besar/tompel di mukanya.
Sebelum satu menit mereka pergi Sandi berlari menuju kamar. Dibukanya bingkai foto lukisannya sendiri yang telah mendulang namanya sebagai pelukis dunia sekelas pelukis Perancis, Claude Monety.
Lalu ia berlari menuju kamar Melky. Didahului pertengkaran kecil, Sandi berhasil membuka tutup kain putih bingkai lukisan Melky. Seketika keringat, entah bercampur dengan semacam titik air mata, sudah menetes di lantai melalui pipi. Kamu kenapa Sandi? Kakak, apa kakak buta? Lihat ini. Ini apa? Sandi terus membolak-balik lukisan itu untuk memfahami Melky. Iya, itukan lukisan kita. Ini laki-laki. Ini Perempuan. Siapa mereka. Siapa yang kakak lukis sebagai ibu ini? Melky tertegun. Itu kan wajah orang-orang pedesaan. Lihat itu tom...pel. Melky dan Sandi berlari menuju gerbang. Mengejar laki-laki dan perempuan itu. Mereka tak menjumpai apa-apa selain angin yang menghantar sunyi.
*Assumpta, 2012