Rabu, 10 Juni 2026

Lainnya Silakan Mendarat di Bandara Tambolaka

Bandar Udara (Bandara) Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) merupakan bandara peninggalan Jepang pada tahun 1945

Tayang:
Editor: Alfred Dama
POS KUPANG.COM -- Bandar Udara (Bandara) Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) merupakan  bandara peninggalan Jepang pada tahun 1945. Bandara ini mulai dikenal  ketika peristiwa pendaratan darurat pesawat Adam Air jenis Boeing 737 seri 300 pada 11 Februari tahun 2006 lalu dalam penerbangan Jakarta tujuan Makassar, Sulawesi Selatan.

KAMIS, 18 Oktober 2012 sekitar pukul 10.20 Wita, Pesawat Garuda jenis Boeing 737 seri 800 yang membawa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Jakarta mendarat mulus di Bandara Tambolaka.

Presiden SBY didampingi Ibu Negara, Ny. Ani Yudhoyono transit di Bandara Tambolaka selama 45 menit. Selanjutnya melakukan perjalanan ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat menggunakan pesawat Hercules C-130 HS nomor registrasi A-1341 yang sudah lebih dulu mendarat Rabu (17/10/2012) sore.

Pesawat Garuda siaga  di Bandara Tambolaka karena Jumat (19/10/2010) keesokan harinya harus membawa Presiden SBY dan Ibu Ani kembali ke Jakarta, sepulang mengikuti perayaan 100 tahun gereja Katolik di Manggarai.

Pesawat lainnya yang juga mendarat dan terbang (take off) Kamis (18/10/2012) adalah Hercules C-130 type L-100-30 dengan nomor registrasi A-1314. Pesawat yang dioperasikan TNI AU ini terbang dari Jakarta mengangkut pejabat dan wartawan yang transit di Tambolaka menuju Labuan Bajo.

Dalam perjalanan dari Labuan Bajo, Jumat siang, Hercules A-1341 yang membawa Presiden SBY dan Ibu Negara juga mendarat mulus di Bandara Tambolaka. Demikian juga Hercules A-1314.

SBY dan Ibu Ani transit sekitar 30 menit, kemudian menumpang Garuda Boeing 737 seri 800 pulang Jakarta. Take off Garuda dan dua Hercules di Bandara Tambolaka juga normal.  Keberhasilan mendarat (landing) dan take off Pesawat Garuda Boeing 737 seri 800 dan Hercules A-1341 memberi nilai lebih bagi Bandara Tambolaka.

Mengingat, perpanjangan landasan pacu Bandara Tambolaka baru dikerjakan. Apronnya juga baru diperluas. Gedung terminal yang menjadi satu kesatuan bandara, masih dalam pengerjaan oleh PT Bumi Indah selaku kontraktor pelaksana. Singkatnya, bandara masih 'basah.'

Selama ini, Bandara Tambolaka belum sekalipun didarati pesawat berbadan lebar. Terkecuali kejadian pendaratan darurat pesawat Adam Air Boeing 737 seri 300 pada tanggal 11 Februari 2006. Pesawat dari Jakarta menuju Makassar, Sulawesi Selatan ini mengalami gangguan navigasi.

Pendaratan dan keberangkatan tanpa hambatan dan kendala Pesawat Garuda Boeing 737 seri 800 dan dua Hercules dengan tipe berbeda dimaknai bahwa Bandara Tambolaka sudah 'diresmikan' pengoperasiannya untuk pesawat jenis boeing.

Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete mempersilakan maskapai penerbangan yang memiliki pesawat boeing masuk di SBD.  "Garuda yang membawa Presiden dan Ibu Negara sudah mendarat mulus. Hercules juga demikian. Silakan (maskapai penerbangan) yang lainnya datang (mendarat)," ujar Kodi Mete.

                                                     ***
SECARA historis, Bandara Tambolaka adalah bandara lama peninggalan Jepang pada tahun 1945. Tambolaka kemudian diperbaiki pada tahun 1982 dengan pengaspalan dan perbaikan landas pacu untuk pesawat kecil jenis DC-3, Twin Otter dan Cassa.

Dikutip dari wikipedia.org, pada tahun 1996, landas pacunya kembali diperpanjang hingga dapat didarati pesawat berjenis Fokker 27. Selanjutnya pada tahun 2005 dilakukan lagi penebalan dan perpanjangan hingga mencapai 1.600 meter sehingga dapat menampung pesawat jenis Fokker 28. Kemudian diperpanjang lagi menjadi 1.800 meter sehingga dapat menampung pesawat jenis Fokker 100.

Dalam dunia penerbangan, Bandara Tambolaka punya kode IATA: TMC - ICAO: WADT. Bandara Tambolaka memiliki ketinggian 49 meter atau 161 feet dari permukaan laut, dengan kooordinat 9   24' 34,98?? Lintang Selatan dan 119  14' 40,18?? Bujur Timur.

Patut diakui, peristiwa pendaratan darurat Adam Air memberi dampak positif karena sejak saat itu Bandara Tambolaka mulai dikenal. Tahun 2006, SBD berpisah dari Sumba Barat, resmi menjadi daerah otonomi baru. Atas perjuangan pemerintah SBD dan pemerintan propinsi NTT, pemerintah pusat mencurahkan perhatiannya kepada Bandara Tambolaka.

Potensi SBD yang menjanjikan, khususnya sektor pariwisata yang sangat luar biasa karena memiliki pantai yang indah, perkebunan dan peternakan diduga sebagai faktor pendorongnya.

Pembenahan landasan pacu dan gedung terminal ke arah lebih memadai dilakukan secara bertahap, dimulai tahun 2010. Bandara Tambolaka yang terletak dalam kawasan seluas 120 meter persegi ini, dari waktu ke waktu terus berkembang.

Kepala Bandara Tambolaka, Yohanes R. Keraf menjelaskan, semula landasan Bandara Tambolaka 2.010 meter. Dalam tahun 2012 ini diperpanjang 290 meter sehingga menjadi 2.300 meter. Selain itu, perluasan landasan apron 87 x 75 meter. Sebelumnya, apron berukuran 144 x 75 meter. Dengan demikian luas apron saat ini 221 x 150 meter. Sementara bangunan terminal yang sedang dikerjakan seluas 4.250 meter.

Fasilitas pendukung lainnya juga sedang dilengkapi, yaitu toilet beserta kamar mandi, plafon, pembagian ruang chek in setiap maskapai, pemasangan AC central dan elitrikalnya (listrik).

Total anggaran untuk pengembangan Bandara Tambolaka sudah mencapai Rp 26 miliar lebih (2010-2012), bersumber dari APBN. "Dalam tahun 2012 ini sudah selesai. Sekarang tinggal finishing (penyelesaian)," ujar Keraf.

Seiring bergulirnya waktu, satu per satu kendala juga mulai teratasi. Mobil pemadam kebakaran, misalnya, sudah tidak dipinjam karena Bandara Tambolaka mendapat tiga unit mobil pemadam kebakaran. Saat ini juga sedang dibangun dalam fire station.
Yang masih menghantui adalah masalah air bersih. Selama ini, kebutuhan air di Bandara Tambolaka disuplai mobil tangki.

Kekurangan air harus mendapat perhatian serius pengelola bandara dan pemda. Jika tidak akan menjadi masalah. Bayangkan kalau toilet/WC tanpa air. Aroma kurang sedap menyeruak menyebar masuk ke semua ruang. Pemakai jasa bandara hilir mudik dengan menutup hidung dan mulut. Padahal, Bandara Tambolaka merupakan pintu masuk dan keluar Pulau Sumba.

Keberadaan Bandara Tambolaka dengan gedung terminalnya yang megah, mengalahkan terminal Bandara El Tari Kupang, mestinya diikuti perubahan pola sikap  masyarakat Pulau Sumba, khususnya masyarakat SBD.
Hal yang paling sederhana dilakukan adalah tidak mencoret dinding gedung terminal dan tidak membuang sampah sembarangan.

Kepada masyarakat yang bermukim sekitar bandara agar memperhatikan ternaknya karena jika dibiarkan berkeliaran akan sangat mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan.

Pemerintah sudah membangunnya sehingga menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk masyarakat,  untuk menjaga bandara agar pelayanan angkutan udara dapat berjalan baik dan lancar.

Jangan berdalih karena tidak bisa menggunakan jasa penerbangan lantas menunjukkan sikap tidak peduli. Harus diingat bahwa keberadaan Bandara Tambolaka memberi ekses yang besar bagi masyarakat dan daerah.

"Semakin banyak orang akan datang ke sini. Masyarakat harus terus belajar meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Rubah sikap, tingkah laku dan pola pikir negatif dengan melakukan hal-hal positif dan produktif," ujar Kodi Mete di setiap kesempatan bertemu dengan masyarakat. (alfons nedabang)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved