100 Thn Sekolah Katolik Ngada/Nagekeo
Sang Guru (1)
SAYA sekolah di SRK/SD Tanalodu, antara tahun 1950 sampai 1953, yaitu dari kelas 4 sampai kelas 6 tamat
SAYA sekolah di SRK/SD Tanalodu, antara tahun 1950 sampai 1953, yaitu dari kelas 4 sampai kelas 6 tamat, dibawah tempaan guru-guru hebat yang bekerja tanpa pamrih.
Dari semua jenjang pendidikan yang penulis lalui, yang membekali diri penulis sehingga dapat menjalankan tugas dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan, maka pendidikan tiga tahun di SR Tanalodu itulah yang sesungguhnya menjadi dasar pondasi yang kokoh bagi jenjang-jenjang pendidikan berikutnya, serta bekal untuk menjalankan tugas-tugas Negara dan karier pengabdian selanjutnya.
Guru sesungguhnya adalah profesi yang mulia dan berperan strategis dalam meningkatkan kehidupan umat manusia. Guru membawa para murid (siswa/anak didik) dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Kata guru terdiri dari dua suku kata (dari Bahasa Sanskerta) yaitu "gu" yang berarti kegelapan (darkness) dan "ru" yang berarti terang (light).
Guru adalah juga identik teladan dan panutan (digugu dan ditiru) bagi para murid. Guru mentransfer ilmu pengetahuan, keterampilan dan budi pekerti luhur bagi para murid dan masyarakat pada umumnya. Bahkan kata Guru tidak tergantikan oleh kata padanan seperti pengajar, pendidik, pelatih, instruktur, dosen atau widyaiswara.
Pentingnya peran guru dilukiskan ketika Jepang hancur lebur akibat pemboman di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II yang lalu. Konon Kaisar Hirohito mengajukan sebuah pertanyaan penting kepada biro informasi:
"Berapa jumlah guru yang tersisa? " Pertanyaan Kaisar bukan berapa jumlah pesawat tempur, meriam, penerbang, pasukan tentara atau pendekar samurai penyandang pedang yang masih tersisa. Sang Kaisar percaya bahwa kebangkitan bangsa Jepang ada di tangan para Guru, dan hal itu telah terbukti di kemudian hari. Jepang bisa bangkit menjadi bangsa yang unggul dalam bidang pendidikan, teknologi, ekonomi karena peran para guru dalam pembentukan karakter dan budaya orang Jepang.
Dari semua faktor yang mendukung terselenggaranya pendidikan di Indonesia, seperti sarana pendidikan, bangunan sekolah, fasilitas belajar, kurikulum, termasuk komitmen pemerintah yang tertuang UUD 1945 untuk menyediakan 20% APBN untuk bidang pendidikan, maka tujuan pendidikan tidak akan tercapai tanpa Guru-guru yang berkualitas dan berdedikasi penuh.
Guru yang hebat tidak sekedar menjelaskan pengetahuan kepada muridnya sehingga mereka menjadi paham, tetapi juga mampu memotivasi dan menginspirasi muridnya untuk tetap belajar sepanjang hayat.
Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran tentang pentingnya peran guru dalam pendidikan, khususnya dalam Persekolahan Katolik di Kabupaten Ngada dan Nagekeo, dalam memperingati 100 Tahun Persekolahan Katolik 1912 - 2012.
Nostalgia SR Tanalodu
Penulis mempunyai banyak kenangan indah ketika bersekolah di SR Tanalodu tahun 1950 sampai 1953. Waktu itu, tahun 1950, saya pindah dari Bandung ke Bajawa mengikuti orang tua yang pensiun dari tugas kemiliteran. Ayah saya Henoch Mosakabe, seorang bintara pasukan berkuda Kavaleri asal Kampung Menge yang lama bertugas meninggalkan Flores, mengajak semua anak-anaknya pulang kampung dari perantauan di Pulau Jawa ke Bajawa, Flores. Di Bandung saya bersekolah di Lagere School dan Sekolah Rakyat sampai kelas 4, kemudian pindah menjadi murid kelas 4 SR Tanalodu, Bajawa.
Penyesuaian diri seorang murid SD yang pindah dari sekolah di Bandung ke Bajawa bukan merupakan hal yang mudah. Fasilitas sekolah di Bandung yang pada umumnya lebih baik mengharuskan saya harus beradaptasi dengan kondisi Kota Bajawa yang berhawa dingin dan tugas-tugas harian murid yang sangat ketat.
Walaupun sebagai "anak kolong" (anak tentara) kami biasa berpindah-pindah sekolah mengikuti ke mana orang tua bertugas, kepindahan ke Bajawa ini terasa agak istimewa. Nuansa Katolik di Bajawa sangat terasa dan disiplin sekolah yang diterapkan sangat ketat, menyebabkan saya harus cepat menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat. Guru-gurunya sangat berdisiplin dan keras dalam mendidik muridnya.
Salah seorang guru yang membekas dalam ingatan saya adalah Guru Yosef Meak Parera yang lebih akrab disapa sebagai Guru Meak yang mengajar kami mulai kelas 4 sampai kelas 6 SR. Bagi saya dan teman-teman sekelas yang pernah mengalami asuhan Guru Meak tentu tidak akan melupakan beberapa hal sebagai berikut.
Pertama, Guru Meak adalah seorang Guru yang keras dan berdisiplin dalam mendidik muridnya dengan gaya kepemimpinan yang cenderung otoriter dan digabung dengan sifat ke-bapak-an.
Kedua, tetap konsisten dalam pendirian untuk memajukan anak didiknya. Kadang-kadang menggunakan cara keras bahkan tidak segan-segan memukul murid yang dianggap bodah dan malas. Tetapi sesungguhnya diujung rotan dan mistar itu ada keinginan kuat agar murid-muridnya meninggalkan kebodohan dan kemalasan. Mungkin cara-cara mendidik seperti ini bila diterapkan sekarang sudah membuat sang guru dianggap melanggar HAM dan berurusan dengan masalah hukum.
Ketiga, mata pelajaran favorit Guru Meak adalah berhitung dan musik. Waktu itu saya tergolong anak yang pandai di kelas. Beliau pernah berpesan khusus kepada saya:
"Kamu boleh saja tidak mendapat nilai tertinggi dalam mata pelajaran lain, tetapi untuk berhitung harus mendapat nilai 10 !". Pesan bernada perintah ini menjadi motivasi bagi saya untuk belajar sungguh-sungguh agar tidak mengecewakan sang guru.
Dalam pelajaran musik, khususnya meniup seruling, beliau sangat peka mendengar suara sumbang/fals dalam kelompok, bisa saja karena kesalahan murid dalam meniup seruling atau juga karena kesalahan dalam pembuatan serulingnya. Untuk itu tidak ada kompromi atau kata maaf, pasti hukuman mistar di atas jari jemari sudah menunggu.
Keempat, ketika kami naik kelas 5 Guru Meak tetap mengajar kami, dan setelah kenaikan ke kelas 6, pada murid berharap-harap cemas menunggu pengumuman siapa guru yang akan menjadi wali kelas 6. Sebagian murid berharap ada penggantian guru, yaitu Guru Willem Riwu, yang sifatnya agak lunak. Tetapi ternyata Guru Meak tetap memimpin kami sebagai rasa tanggung jawabnya mengantar kami dari kelas 4 ke kelas 6.
Kelima, di balik sifat kerasnya, ternyata Guru Meak memiliki hati yang lembut dan penyayang. Saya harus melanjutkan sekolah ke SMPK Frater di Ndao tetapi setelah 3 bulan di Ndao terpaksa harus pindah sekolah lagi ke SMPK Frater di Kupang karena ibu saya menderita sakit dan harus dirawat di RS Tentara Kupang. Ibu saya meninggal pada tahun 1954 ketika saya masih kelas 2 SMP. Dalam catatan buku induk di sekolah, Guru Meak menulis dengan tulisan tangan bahwa saya melanjutkan sekolah ke Kupang dan ibu saya meninggal dunia tahun 1954 lengkap dengan tanggalnya yaitu 2 Mei 1954.
Beberapa tugas/kewajiban harian yang masih saya ingat adalah,
pertama, setiap pagi menghadiri misa harian dan bergiliran menjadi misdinar/putra altar yang waktu itu masih menggunakan pengantar bahasa Latin. Misa harian di gereja bisa dilakukan di 3 altar oleh beberapa pastor yaitu di altar tengah, kanan dan kiri sekaligus.
Kedua, setelah misa, pulang kerumah dan sarapan pagi untuk siap-siap berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Ibu saya tidak pernah absen menyediakan sarapan pagi dan kami tidak dibiasakan membeli jajan di sekolah.
Ketiga, sambil berjalan kaki ke sekolah saya menyinggahi rumah Guru Meak untuk mengambil buku-buku pelajaran dan persiapan mengajar Guru. Biasanya kami bertemu dengan "Nyora" (sebutan untuk isteri Guru/Signora) untuk menanyakan buku-buku mana yang akan dibawa. Buku-buku ditempatkan dalam semacam kotak yang dianyam dari daun pandan, beratnya lumayan untuk seorang anak SD karena membawa juga buku-buku sendiri. Kotak berisi buku-buku itu dibawa di atas kepala.
Keempat, para murid belajar dengan menggunakan meja dan tempat duduk dari bahan bambu dan alas menulis di atas pelupuh bambu. Penggaris/mistar juga terdiri dari bahan bambu yang dibuat sendiri dengan ukuran dm, cm, mm buatan sendiri dari contoh mistar kayu yang ada. Coretan berhitung atau menggambar di atas alat tulis /bak dari bahan batu lunak berbingkai kayu yang bisa dihapus.
Kelima, semua murid diharuskan membuat sendiri seruling untuk pelajaran musik. Bahan baku seruling dari bambu buluh yang tumbuh agak di luar kota. Setelah mencari ukuran yang cocok dibawa pulang dan mulai membuat lubang-lubang seruling dengan kepala paku yang dipanaskan sampai merah dengan ukuran yang telah ditentukan. Apabila ukurannya salah atau cara melobangi kurang sempurna, maka dipastikan suara yang keluar akan fals dan guru pasti akan mengetahui dari mana suara fals tersebut. Hukumannya adalah pukulan pada jari-jari tangan murid tersebut.
Keenam, guru-guru pada masa itu menerapkan hukuman atas kesalahan atau ketidaktahuan murid dengan pukulan, biasanya dengan mistar atau rotan. Sasaran pukulan biasanya di pantat atau betis, tetapi tidak pernah di kepala. Otoritas guru sangat tinggi dan jarang ada orang tua yang komplain atas perlakuan sang guru. (bersambung)