Rabu, 29 April 2026

Oleh Florianus Geong

G 30-S, Kita dan Viktimasi Korban Tiga Tingkat

PERSOALAN G 30 S kembali hangat diperbincangkan sejak bergulirnya reformasi. Banyak orang mulai meragukan kebenaran peristiwa sebagaimana diajarkan di sekolah-sekolah atau dalam film Janur Kuning itu. Sejak reformasi, paling kurang muncul empat versi baru tentang dalang di belakang kejadian 30 September 1965 itu.

Selain itu, money politics menjadi senjata lain yang terus mengorbankan masyarakat kelas bawah. Penguasaan politik oleh uang (para pengusaha) menjadikan politik kita timpang dan cenderung membela kepentingan mereka yang memiliki modal.  Pembelian suara rakyat dalam berbagai pemilihan juga menjadi bentuk lain dari money politic yang sangat merendahkan martabat masyarakat. Uang mereduksi manusia menjadi budak yang tidak mampu menentukan pilihannya sendiri. Akibat lanjutnya dapat ditemukan setelah pemilu usai, para pemodal (sumber modal dalam kampanye) menjadi pengendali kekuasaan sehingga berbagai kebijakan yang diambil pemerintah lebih berpihak pada kepentingan mereka sementara kesejahteraan masyarakat dilupakan. Kembali rakyat dikorbankan.

Bentuk viktimisasi korban di atas merupakan sedikit dari banyaknya tindakan serupa yang terjadi dalam kerangka memperebutkan kekuasaan dan kelihatan lebih halus dari yang terjadi sejak 30 September 1965 tersebut, namun akibat yang ditimbulkannya tidak kalah buruknya dengan peristiwa G 30 S PKI tersebut. Bentuk viktimisasi korban di atas menjadi alasan mengapa banyak masyarakat lemah tetap miskin, sementara yang kaya semakin kaya. Walaupun rakyat tidak dibunuh secara kejam seperti sejak G30S PKI, namun banyak rakyat kita yang dibunuh secara perlahan karena diperas oleh sistem  dan pemerintahan yang tidak adil.

Itu hanyalah sedikit dari sekian banyak bentuk viktimisasi yang dialami rakyat. Sejak kemerdekaan Indonesia ini, masyarakat lemah selalu dikorbankan dalam setiap pergantian kekuasaan. Namun, itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa keluar dari persoalan seperti ini. Kita selalu berharap agar dalam berbagai pergolakan merebut tampuk pemerintahan di negara kita ini, rakyat tidak lagi dikorbankan.

Hal ini hanya bisa terwujud bila kita bisa membuka diri terhadap suatu kenyataan perbedaan. Keterbukaan terhadap kenyataan berbeda memungkinkan kita untuk saling menghargai dan melihat bahwa setiap orang penting dan sederajat. Dengan pandangan seperti itu diharapkan tidak ada lagi upaya menjadikan orang lain sebagai korban demi mencapai tujuan (kekuasaan).

Karena itu, kita membutuhkan suatu bentuk demokratisasi pada tataran hati nurani sehingga dalam setiap pergantian kekuasaan kita selalu menghargai perbedaan. Dengan demikian setiap orang tidak menjadikan orang lain sebagai korban demi pencapaian tujuannya. Disposisi batin seperti ini sangat penting bagi kita di zaman dengan tendensi kuat ke arah homogenitas ini. Dengan itu, kita diharapkan bisa menghidupkan demokrasi di negara ini secara lebih nyata. sehingga tidak ada lagi rakyat yang dikorbankan atau dikorbankan berkali-kali lagi. *


Krew KMK Ledalero, Maumere
 

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved