Rumah Ambruk Diterpa Angin, Fransina Juga Tertimpa Atap
Rumah non permanen milik Fransina Helianak-Foeh Rusak Berat ketika diterpa Angin Kencang. Fransina juga sempat tertimpa atap saat rumahnya roboh.
Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Rumah non permanen milik Fransina Helianak-Foeh Rusak Berat ketika diterpa Angin Kencang. Fransina juga sempat tertimpa atap saat rumahnya roboh.
Informasi yang diperoleh POS-KUPANG.COM menyebutkan, saat hujan angin pada Minggu (10/3/2019) sekitar pukul 09:30 wita, rumah Fransina yang terletak di RT23/RW 09, Kelurahan Sikumana juga diterpa angin kencang.
Rumah non permanen berdinding bebak ini terngkat rangka dan atapnya. Saat kejadian atap rumah sempat menimpa Fransina. Fransina langsung dilarikan tetangga ke RS .St. Carolus Borromeus.
• UGM: Indonesia Belum Bebas DBD, Ini Penyebabnya
Anggota Komisi V DPRD NTT, Karel Zet L. Koro, S.Kom, M.M yang mendapat informasi dari warga setempat atas nama, Bripka. Yunus Labba, langsung menuju ke lokasi kejadian.

"Saya datang ke sana sebagai Anggota Komisi V DPRD Provinsi NTT untuk meninjau lokasi yang terdampak bencana angin. Selain ke rumah ibu Fransina, saya juga meninjau kondisi jalan di depan Gedung Gereja Betel Indonesia (GBI ) Nafiri Sion yang juga ada pohon yang roboh di depan gereja ini," kata Karel.
Dijelaskan, baik rumah Fransina dan gedung gereja GBI Nafiri Sion ini berdekatan sehingga dirinya sempat memantau dari dekat.
• Bawa 157 Orang, Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh Tak Lama Setelah Lepas Landas
Dengan melihat kondisi itu, lanjut Karel, ia mencermati, bahwa koordinasi pemerintah dalam mempersiapkan diri menghadapi situasi urgent seperti badai angin masih sangat kurang dalam hal berkoordinasi
"Badai yang menghancurkan beberapa rumah penduduk hari ini menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi pemerintah dalam mempersiapkan diri lebih baik lagi dalam rangka mengantisipasi dan mengakomodir kebutuhan masyarakat sebagai korban dari bencana alam seperti hari ini," jelasnya.
Ia mengatakan, walaupun hari libur saat adanya bencana, namun hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan tanggap darurat dan reaksi cepat dalam merespon kebutuhan masyarakat terdampak bencana.
"Kondisi ini justru kesigapan dinas/badan terkait sangat dibutuhkan. Menurut saya harus lebih banyak dilakukan koordinasi dan pelatihan tanggap darurat bencana supaya petugas lebih sigap dan tanggap dalam merespon situasi yang ada," ujarnya.
Dikatakan, memang bahwa kondis ini terjadi di banyak titik, dan tentu menghabiskan energi dari petugas dalam memberi respons terhadap keluhan masyarakat, namun tetap saja hal itu tidak boleh menghalangi hak masyarakat untuk diperhatikan secara cepat.
"Perlu ada koordinasi lebih lanjut agar kecepatan petugas dalam merespon situasi seperti ini bisa lebih cepat dan responsif sekalipun hari libur. Jumlah personil perlu ditambahkan, termasuk dukungan peralatan perlu ditambahkan," katanya.
Terkait rumah Fransina, Karela juga memohon bantuan pemerintah untuk memberi pertolongan darurat kepada ibu ini berupa tenda atau terpal untuk menjadi pondok sementara.
"Selanjutnya saya berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat merespons untuk membantu hunian layak/memperbaiki rumah ibu Fransina agar beliau kembali dapat menjalani kehidupan normalnya pasca badai hari ini," paparnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)