Kapal Riski Perdana Karam di Pantai Muno, Lembata, Barang di Dalamnya Dijarah

Kapal Riski Perdana Karam di Pantai Muno, Kabupaten Lembata, Barang di Dalamnya Dijarah

Kapal Riski Perdana Karam di Pantai Muno, Lembata, Barang di Dalamnya Dijarah
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Kapal Riski Perdana yang karam di Pantai Muno, Desa Wawala, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata. 

Kapal Riski Perdana Karam di Pantai Muno, Lembata, Barang di Dalamnya Dijarah

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA -- Kapal Riski Perdana yang sarat dengan muatan sembako, karam di Pantai Muno, Desa Wawala, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata. Setelah karam, sebagian besar barang dijarah oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Informasi yang dihimpun POS-KUPANG.COM, Kamis (14/2/2019), menyebutkan, kapal bertonase 25 great tonase itu mengalami naas pada Minggu (10/2/2019) malam. Kapal itu karam setelah dihantam badai gelombang dan arus laut yang kencang pada malam itu.

Bupati Sabu Raijua Siapkan Infrastruktur untuk Pariwisata

Kapal yang berlayar dari Maumere, Kabupaten Sikka dengan tujuan Balauring itu adalah kapal baru yang dipesan oleh Baco, seorang pengusaha sukses di Balauring, Kecamatan Omesuri. Kapal itu dibawa langsung dari Bonerate, Kabupaten Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) oleh sang pemilik, bernama Hamli.

Dalam pelayaran itu, kapal Riski Perdana singgah di Maumere untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM). Setelah BBM terisi, kapal itu lantas memuat aneka sembako milik Baco, pengusaha di Balauring. Setelah sembako bernilai levih dari Rp 600 juta itu dimuat, kapal lantas berlayar menuju Balauring.

Pembangunan Puskesmas Betun Belum Rampung, Ini yang Dilakukan Kontraktor

Sayangnya, ketika kapal memasuki perairan Lembata, hujan dan angin kencang datang menerpa. Kapal itu terombang ambing tak tentu arah. Saat situasi semakin tak menentu, nakhoda sekaligus pemilik kapal itu melihat lampu berkelap kelip di pesisir pantai, dekat lokasi kapal itu terombang-ambing.

Melihat itu, Hamli lantas mengarahkan kapal menuju tempat tersebut. Sayangnya, ketika kapal tersebut masuk ke area lampu kelap kelip tersebut, kapal tiba-tiba menabrak karang. Dan, seketika lampu yang terang benderang itu berganti menjadi kondisi yang gelap gulita sehingga Hamli bersama 4 ABK lainnya pun panik.

Kepanikan itu karena dua hal. Pertama, kapal itu karam saat badai gelombang menerjang perairan Lembata. Kedua, kapal karam di tengah lampu jadi-jadian di pinggir pantai Muno itu. Meski demikian, Hamli dan ABK lainnya berusaha turun ke darat untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tak diinginkan.

Kepala Pos Polisi Ile Ape dan Ile Ape Timur, Aiptu Udin Abdullah, mengatakan, musibah kapal karam itu baru diketahui pada Senin (11/2/2019) sekitar pukul 12.00 Wita. Saat itu ia bersama anggota langsung turun ke tempat kejadian perkara (TKP) di Pantai Muno.

Namun untuk sampai ke lokasi kejadian, mereka harus menggunakan perahu nelayan dari Desa Wawala. Pasalnya, lokasi karamnya kapal itu berada cukup jauh di tengah laut, sekitar 1,5 mil dari pinggir pantai. "Lokasinya cukup jauh dari Desa Wawala. Menurut warga desa itu, lokasi kejadian itu cukup angker karena ada banyak orang sering mengalami peristiwa seperti yang dialami nakhoda dan ABK kapal itu," ujarnya.

Menurut Udin, saat kapal karam, pihaknya telah meminta pemilik kapal agar bersama warga setempat menjaga kapal itu. Tapi permintaan itu tidak direspon sama sekali hingga akhirnya terbetik kabar, barang-barang di dalam kapal itu dijarah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved