Adik Bunuh Kakak di Lembata, Bonefasius Bantu Bruno Gorok Leher Kakak Kandungnya

dik bunuh kakak kandung di Desa Karangora, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, 18 September 2017 silam, kini mulai terkuak. Dalam kasus itu, terkuak

Adik Bunuh Kakak di Lembata, Bonefasius Bantu Bruno Gorok Leher Kakak Kandungnya
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Kasus adik bunuh kakak kandung di Desa Karangora, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, 18 September 2017 silam, kini mulai terkuak. Dalam kasus itu, terkuak fakta bahwa Bonefasius Baha membantu memegang kepala Bernadus Tubun, saat leher korban digorok oleh Bruno Bawang, adik kandung korban.

Perihal adik bunuh kakak kandung itu, diungkapkan Kasie Pidum Kejaksaan Negeri (Kejari) Lembata, Amar Denny Hari, ketika ditemui Pos Kupang.Com di ruang kerjanya, Selasa (12/2/2019). Saat ditemui, Jaksa Denny sedang menyiapkan berkas perkara untuk sidang kasus itu di Pengadilan Negeri (PN) Lembata, Rabu (13/2/2019).

Dikatakannya, kasus adik bunuh kakak kandungnya itu, membutuhkan proses penanganan yang cukup lama. Kendalanya pada proses pembuktian tindak pidana tersebut. Namun atas kerja keras aparat penegak hukum, akhirnya penanganan kasus itu bisa sampai ke PN Lembata.

Saat ini, lanjut dia, sidang kasus tersebut sudah sampai pada tahap pemeriksaan saksi-saksi. Sesuai agenda di PN Lembata, lanjutan sidang kasus pembunuhan tersebut akan berlangsung pada Rabu (13/2/2019).

Dalam sidang kasus itu, lanjut dia, baik Bruno Bawang maupun Bonefasius Baha telah mengungkapkan secara terus terang tindakan yang mereka lakukan dalam membunuh korban.

Saat memenggal kepala korban, Bonefasius berperan memegang kepala sementara Bruno Bawang bertindak sebagai eksekutor. Adik kandung korban itu menggorok leher kakaknya, Bernadus Tubun dengan sebilah pisau. Seusai membunuh korban, barang bukti berupa pisau lantas dibuang tak jauh dari lokasi pembunuhan di pondok korban.

Mengenai kronologi pembunuhan, Jaksa Amar menuturkan, kejadiannya pada 18 September 2017. Saat itu, korban bersama adiknya Bruno Bawang dan beberapa warga lainnya meminum tuak bersama di pondok korban. Setelah minum bersama itu, mereka lantas bubar. Bruno kembali ke kebunnya yang tak jauh dari kebun kakaknya tersebut.

Rupanya di tengah jalan, Bruno berbalik arah dan berjalan mengikuti Bonefasius Baha. Saat dalam perjalanan itulah Bruno mengajak Bonefasuis menghabisi korban dengan bayaran tanah. Tanah yang hendak diambil korban dari Bruno, akan diberikan kepada Bonefasius asalkan keduanya bekerja sama menghabisi korban.

Rupanya, iming-iming yang ditawarkan Bruno disepakati oleh Bonefasius, sehingga akhirnya keduanya kembali lagi.ke pondok malam itu juga dan langsung menghabisi korban. Saat digorok, korban sedang lelap dalam tidurnya, sehingga kedua pelaku itu tak kesulitan melancarkan aksi biadabnya tersebut.

BREAKING NEWS: 338 Orang Terserang DBD, Delapan Pasien Meninggal Dunia

Jaksa Amar menyebutkan, motif pembunuhan itu adalah pelaku Bruno merasa tersinggung dan sakit hati mendengar pernyataan korban tentang rencana mengambil tanah yang sedang digarap Bruno untuk diserahkan kepada anak laki-laki korban yang saat ini sedang merantau di Malaysia.

Niat korban mengambil tanah itu, lanjut jaksa Amar, karena Bruno tak menikah dan tidak punya keturunan. Sementara kondisi Bruno juga semakin tua. Atas pertimbangan itulah korban Bernadus Tubun lantas berniat mengambil tanah yang digarap adiknya itu untuk diserahkan kepada Maria Beni untuk diberikan kepada anak laki-laki korban. Maria Beni adalah anak.perempuan korban.

Lantaran tak setuju dengan niat korban itulah Bruno lantas meminta bantuan Bonefasius Baha untuk sama-sama menghabisi korban. "Jadi kasus pembunuhan itu berawal dari rasa sakit hati Bruno mendengar rencana kakaknya (korban) itu," ungkap Amar.

Atas tindakan itu, baik Bruno Bawang maupun Bonefasius Baha diancam hukuman mati. Dalam kasus itu, jaksa menjerat pelaku dengan Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat ke 1 KUHP subsidairPpasal 338 KHUP jo 55 ayat 1 ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman mati. (*)

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Lembata, Amar Denny Hari, S.H
Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Lembata, Amar Denny Hari, S.H (pos kupang.com, frans krowin)
Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved