Berita Ekonomi Bisnis

Banyamin Senang Sudah Bisa Aktivitas Malam Hari Setelah Ada LTSHE

Banyamin R.T Damera kini bisa beraktivitas di malam hari dengan hadirnya Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Banyamin Senang Sudah Bisa Aktivitas Malam Hari Setelah Ada LTSHE
Dictio Community
bola lampu 

POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Banyamin R.T Damera adalah satu dari 765 kepala keluarga (KK) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kini bisa beraktivitas di malam hari dengan nyaman.

Hal ini berkat hadirnya Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

"Sekarang tenang, aktivitas malam kami terang," seloroh Banyamin sambil membantu petugas memasang LTSHE di atap rumahnya di Desa Maudemu, Lamaknen, Belu, dalam siaran pers yang dikutip dari situs Kementerian ESDM, Selasa (5/2/2019).

Foto Mengharukan, Anjing Milik Emiliano Sala Menanti Tuannya Pulang

Akbar Tandjung Mendukung Jokowi karena Banyak Keberhasilan, Begini Tanggapan Jokowi

Sepanjang minggu pertama Februari 2019, Kementerian ESDM melalui Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menyerahkan 765 paket bantuan LTSHE di dua wilayah NTT, yaitu Kabupaten Belu dan Sumba Tengah.

Sebanyak 531 lampu diserahkan secara simbolis kepada masyarakat Desa Umbu Kawolu Kecamatan Umbu Ratu Nggai Barat oleh Deputi Keuangan SKK Migas, Parulian Sitohang.

Dinilai tak Urgen dan Menyimpan Banyak Masalah, 260 Musisi Tolak Pengesahan RUU Permusikan

Rupiah Rabu pagi menguat 12 poin, di bawah Rp14.000

Sisanya, 234 LTSHE dibagikan kepada masyarakat Desa Maudemu (145 unit) dan Desa Rafae (89 unit), Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu oleh Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, E Widyo Sunaryo.

Tetangga Banyamin, Albertus juga tidak bisa menyembunyikan bahagianya.

"Dulu kami masyarakat Dusun Fatubesi (Desa Maudemu) sangat-sangat gelap sekali, banyak masyarakat yang mengatakan kami ini belum merdeka. Kalau ada uang, malam hari terang, kalau tidak ada uang, kami bakar api atau gelap sama sekali. Kadang-kadang susah cari minyak tanah, jadi kami bakar kayu supaya terang waktu makan sama keluarga," cerita Albertus.

Sebelum ada LTSHE, warga rata-rata menggunakan pelita dengan minyak tanah untuk penerangan.

Dalam satu malam, dapat menghabiskan satu botol minyak tanah.

Halaman
12
Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved