Berita Nasional Terkini

Dituding tak Mau Laksanakan Putusan Peradilan, OSO Laporkan KPU ke Polda Metro

Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang ( OSO) melaporkan Komisi Pemilihan Umum ( KPU) ke Polda Metro Jaya

Dituding tak Mau Laksanakan Putusan Peradilan, OSO Laporkan KPU ke Polda Metro
KOMPAS.com/JESSI CARINA
Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO) di kompleks parlemen, Jumat (18/1/2019). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang ( OSO) melaporkan Komisi Pemilihan Umum ( KPU) ke Polda Metro Jaya , Senin (21/1/2019).

Sebagai pejabat negara, KPU dituding tidak mau melaksanakan putusan peradilan tentang pencalonan OSO sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

"Kami sudah lapor ke Polda Metro Jaya hari ini. Laporan terkait tindak pidana umum yang terkait soal pejabat tata negara itu harus mau laksanakan putusan peradilan," kata Kuasa Hukum OSO Herman Abdul Kadir, saat dikonfrimasi, Senin.

Tak Ada Kendaraan Pengangkut, Petani Uruor Lembata Tak Berjualan di Pasar Pada

Menurut Herman, KPU telah melanggar Pasal 216 ayat (1) KUHP. Pasal tersebut berbunyi, "Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undang-undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah."

Kamala Harris, Senator Oposisi yang Calonkan Diri Jadi Capres AS

Selain melapor ke pihak kepolisian, pihak OSO juga telah melaporkan KPU ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Mereka menuding KPU telah melakukan pelanggaran kode etik lantaran tak mau menjalankan putusan peradilan.

Diketahui, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memerintahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memasukkan Oesman Sapta Odang (OSO) dalam daftar calon anggota DPD dalam Pemilu 2019.

Namun, dalam putusan Bawaslu, OSO tetap harus mundur sebagai pengurus Partai Hanura jika kembali lolos sebagai anggota DPD periode 2019-2024.

Saat ini, OSO masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Hanura. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) juga sebelumnya telah mengeluarkan putusan atas gugatan yang dilayangkan OSO.

Putusan tersebut memerintahkan KPU mencabut SK DCT anggota DPD yang tidak memuat nama OSO. Majelis Hakim juga meminta KPU menerbitkan DCT baru dengan mencantumkan nama OSO di dalamnya.

Tetapi, meskipun ada keputusan PTUN maupun Bawaslu, KPU tetap tidak memasukan nama OSO ke Daftar Calon Tetap (DCT) anggota DPD Pemilu 2019. KPU akan memasukan nama OSO ke DCT sepanjang yang bersangkutan mundur dari ketua umum Partai Hanura, paling lambat 22 Januari 2019.

KPU mengklaim, sikap mereka berdasar pada putusan MK No. 30/PUU-XVI/2018 yang melarang ketua umum partai politik rangkap jabatan sebagai anggota DPD. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved