Berita Kota Kupang
Rayakan Natal Bersama! Frans Lebu Raya Bilang Orang Mati Mempersatukan Kita
Secara tradisi dan kebiasaan, peristiwa kematian justru mempersatukan orang-orang Lamaholot.
Penulis: Lamawuran | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ambuga Lamawuran
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Secara tradisi dan kebiasaan, peristiwa kematian justru mempersatukan orang-orang Lamaholot.
Masyarakat suku Lamaholot akan bertandang ke kediaman keluarga berduka, mengambil peran atau sekarang berkumpul, dan itu dilakukan walau tanpa diundang.
Hal ini diungkapkan Frans Lebu Raya sewaktu menghadiri acara Natal Bersama yang digelar Ikatan Keluarga Witihama di gedung Taman Budaya Gerson Poyk, Kota Kupang, Sabtu (5/1/2019).
"Kita ini dipersatukan oleh orang mati. Saya selalu bilang, kalau orang mati tidak diundang kita datang," ujar Lebu Raya dalam kesempatan itu.
• Ternyata Banyak Artis yang Terlibat Prostitusi Daring
• Kota Ende Alami Kekurangan Air 25 Liter Perdetik
Selain menyinggung peristiwa kematian yang mempersatukan, mantan gubernur NTT dua periode itu pun menyinggung pula soal makna kelahiran atau Natal yang sedang dirayakan tersebut.
Menurutnya, peristiwa Natal atau kelahiran mampu memulihkan hubungan yang mungkin saja retak pada hari-hari sebelumnya.
"Tahun baru juga sama. Natal dan Tahun Baru mengajak kita agar merefleksikan persaudaraan kita yang telah terbina selama ini," ujarnya.
Tetapi, imbuhnya, persaudaraan dan perdamaian tentu tak bisa diraih begitu saja hanya karena sebuah momen perayaan Natal ataupun Tahun Baru.
"Dia (perdamaian - red) tidak hadir begitu saja. Tapi harus diperjuangkan," katanya.
Mengenai Ikatan Keluarga Witihama yang telah terbentuk dan eksis selama ini, Lebu Raya sungguh berharap agar wadah itu bisa memberikan kontribusi terhadap pendidikan anak-anak muda.
"Kalau selama ini bikin arisan itu biasa. Tapi wadah ini mampu menyekolahkan seorang pemuda setahun sekali, itu luar biasa. Kita harus pikirkan ini," tegasnya. (*)