Berita Kabupaten Manggarai Barat

Peserta Ujian Menilai Ada Yang Janggal Dalam Seleksi Komisioner KPU Kabupaten di NTT Oleh Pansel

setiap kali pengumuman kelulusan pada setiap tahapan ujian, tidak disertai oleh angka nilai ujian yang diperoleh setiap peserta.

Peserta Ujian Menilai Ada Yang Janggal Dalam Seleksi Komisioner KPU Kabupaten di NTT Oleh Pansel
tribun indragiri hulu
(FOTO : LOGO KPU) 

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO--Para peserta yang mengikuti ujian perekrutan untuk menjadi komisioner KPU di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), menilai ada yang janggal dalam seleksi yang dilakukan oleh Panitia Seleksi (Pansel).

Salah satunya, yaitu setiap kali pengumuman kelulusan pada setiap tahapan ujian, tidak disertai oleh angka nilai ujian yang diperoleh setiap peserta.

Penerapan ujian menggunakan pola Computer Assisted Tes (CAT), pasalnya tidak disertai oleh penjelasan bagaimana sistem penilaiannya, seperti standar nilai kelulusannya berapa.

Selain itu, mereka menilai ujian yang telah selesai berlangsung di Kupang itu terkontaminasi kepentingan politik karena diduga ada pengurus Partai Politik (Parpol) yang lulus masuk 10 besar.

Mereka menyampaikan itu kepada wartawan di Labuan Bajo, tadi malam. Para peserta itu, antara lain Vitus Modes Suharman, Stanislaus Prayono, Beato Aloysius Gonzaga, Vitalis Jemadi, Muhamad Ilham, Stefanus Atanasius Suharmon dan Siprianus Jemalur.

Begini Cara Polsek Laenmanen Dalam Menjaga Kerukunan

Baru Menikah Ketiga Kali, Diramal Bakalan Konflik dengan Anak. Kata Peramal Wirang Soal Daus Mini

Simak Alasannya. Setelah Membunuh Secara Brutal, Pelaku Ini Menolak Pembatalan Hukuman Gantung

"Kita bicara tentang Pemilu berdaulat tetapi proses perekrutan komisioner KPU indikasinya tidak berkualitas dan terkesan tidak profesional. Tidak berkualitas karena alat untuk mengukur kualitas calon penyelenggara Pemilu tidak ditentukan, misalnya standar nilai," kata Siprianus.

Ditambahkannya, nilai hasil psikotes dan hasil wawancara setiap peserta tidak diumumkan.

"Sehingga masyarakat umum tidak bisa menilai, apakah penyelenggara berbobot dan berkualitas atau tidak. Ini berkaitan dengan Timsel yang tidak transparan tentang nilai peserta. Ada peserta yang terindikasi bergabung dengan Parpol justru diakomodir," kata Siprianus.

Demikian juga yang disampaikan oleh peserta lainnya.

"Hasil ujian untuk kami di zona 4, pada kop suratnya ditulis, hasil tes kesehatan dan wawancara. Sedangkan untuk zona lain ditulis, akumulasi dari CAT, psikotes, tes kesehatan dan wawancara. Lalu ada peserta yang terindikasi pengurus Parpol tetapi lulus 10 besar. Sistem penilaian juga tidak transparan. Kami menilai sarat kepentingan," kata Modes.

Mereka menyampaikan kejanggalan itu kata dia, bukan karena tidak lulus tetapi karena proses perekrutan yang tidak transparan dan harus dievaluasi secara total agar tidak terjadi lagi di waktu mendatang.

"Kami tidak tahu standar nilainya berapa karena tidak diberi tahu. Pada saat pengumuman di setiap tahap seleksi hanya ditulis nama peserta dan keterangannya lulus. Tidak transparan nilainya berapa dan tidak ada penjelasan," kata Beato.

Terjerat Tiga Kasus, Suami Artis Ini Mendekam Dipenjara

Ayu Ting Ting Bilang Begini Saat Ucap Selamat Ulang Tahun untuk Otis Hahijary

Hal senada disampaikan oleh Ilham.

"Kami tidak diberitahu berapa standar nilai kelulusan. Berapa perolehan nilai bagi peserta untuk bisa lulus dan yang tidak lulus itu karena nilainya berapa. Tidak disampaikan. Ada yang masuk Sipol pengurus partai tetapi lolos," kata Ilham.

Menurut mereka kalau bukan sebagai pengurus Parpol lalu kenapa yang bersangkutan menyampaikan sanggahan.(Laporan Reporter POS--KUPANG.COM, Servatinus Mammilianus)

Penulis: Servan Mammilianus
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved