Berita Travel

Mengenal Lebih Jauh Tentang Dawai Kehidupan Sasando

Sasando dimainkan dengan cara dipetik menggunakan kedua tangan, dimainkan menggunakan dua tangan secara berlawanan

Mengenal Lebih Jauh Tentang Dawai Kehidupan Sasando
POS KUPANG/YENI RACHMAWATI TOHRI
Salah satu pemain musik Sasando, Jack Pah tengah menghibur para penumpang keberangkatan di Bandara El Tari Kupang. 

POS-KUPANG.COM--Sasando adalah alat musik asli dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Sasando juga sering disebut sasandu yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi.

Alat musik ini terbuat dari bambu dan daun lontar yang berfungsi sebagai resonator.

Sasando dimainkan dengan cara dipetik menggunakan kedua tangan, dimainkan menggunakan dua tangan secara berlawanan.

Tangan kanan berperan untuk memainkan chord, sedangkan tangan kiri berperan sebagai pengatur melodi dan bas. Dibutuhkan keterampilan tersendiri untuk memainkan sasando.

Meski suara yang dihasilkan terdengar mirip dengan alat musik lain yang sama-sama dipetik, harpa misalnya, apabila dicermati dengan saksama, suara yang dihasilkan sasando memiliki ciri khas.

PKGD Minta Bupati Kupang Terbitkan Rekomendasi Hitam Diatas Putih

Uang Milik Kelompok Tani Siinar Himodo Rp 9,3 Juta Raib dari Jok Mobil

Suara yang berbeda dan khas dapat dinikmati pada sasando yang masih tradisional dengan nada pentatonik yang dimilikinya.

Rino Excel Pah (12) memainkan alat musik sasando, di Kupang, Rabu (3/6).
Rino Excel Pah (12) memainkan alat musik sasando, di Kupang, Rabu (3/6). ((ANTARA News/ Lia Wanadriani Santosa))

Saat ini, dengan perkembangan yang demikian pesat, sasando tradisional yang dikenal dengan sebutan sasando gong justru agak sulit ditemukan, termasuk di Rote yang menjadi tempat lahir sasandu (bahasa Rote).

Sasando yang banyak dimainkan dan diperkenalkan keluar Rote hingga ke panggung internasional lebih banyak didominasi sasando elektrik.
 

Wajib Simak! Rute Baru Labuan Bajo - Lombok dan Labuan Bajo - Maumere Dilayani Wings Air

Akademisi Komunikasi Unwira, Lucy Max, M.I.Kom : Perlu Media Literasi Untuk Masyarakat

SASANDO --- Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi (kedua dari kanan) mengenakan topi khas NTT, Ti'i Langga dan memegang alat musik Sasando yang dihadiahi oleh Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan Godho (kanan) saat mendatangi redaksi Pos Kupang, Senin (28/4/2014) malam bersama Gubenur NTT, Frans Leburaya (kanan).
SASANDO --- Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi (kedua dari kanan) mengenakan topi khas NTT, Ti'i Langga dan memegang alat musik Sasando yang dihadiahi oleh Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan Godho (kanan) saat mendatangi redaksi Pos Kupang, Senin (28/4/2014) malam bersama Gubenur NTT, Frans Leburaya (kanan). (POS KUPANG/NOVEMY LEO)

Pada sebagian model sasando yang berkembang, daun lontar yang semula berfungsi sebagai resonator dan menjadi ciri khas yang kuat pada sasando juga telah dihilangkan karena alasan kepraktisan.

Begitu juga jumlah dawai atau senarnya yang kini sudah semakin banyak dengan nada-nada diatonis sehingga sasando bisa digunakan untuk memainkan banyak lagu modern.

Misalnya, lagu ”Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki dan lagu Barat milik Eric Clapton, ”Wonderful Tonight”. Lagu-lagu Barat paling baru pun, seperti ”Havana” yang dilantunkan oleh penyanyi muda Camila Cabello yang berdarah campuran Kuba-Amerika Serikat, bisa dengan mudah dimainkan menggunakan sasando.

Menurut cerita, pada awalnya, dawai sasando tidak terbuat dari senar seperti sekarang, tetapi berasal dari tulang daun gewang. Daun gewang berasal dari pohon gewang yang memiliki kemiripan dengan pohon lontar. Cerita lain menyebutkan, dawai sasando terbuat dari usus musang yang dikeringkan.(*)
 
 

Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved