Berita Kota Kupang Terkini

Rencana Penutupan Lokalisasi Karang Dempel, Tokoh Masyarakat Minta Perlakuan yang Adil

Tokoh masyarakat minta Pemkot Kupang memberi perlakuan adil terkait rencana penutupan karang dempel.

Rencana Penutupan Lokalisasi Karang Dempel, Tokoh Masyarakat Minta Perlakuan yang Adil
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Bangunan Wisma Sederhana Lokalisasi Karang Dempel Kelurahan Alak Kecamatan Alak Kota Kupang, Rabu (17/10/2019) siang. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Terhadap rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang yang ingin menutup lokalisasi Karang Dempel di Kelurahan Alak, tokoh masyarakat di wilayah itu meminta untuk diperlakukan adil.

Hj Hadi Sukamto (65) seorang tokoh masyarakat yang tinggal di wilayah itu ketika ditemui POS-KUPANG.COM, Rabu (17/10/2018) siang, mengatakan pihaknya mendukung penutupan lokalisasi yang disebut Pemkot Kupang sebagai Kebijakan Nasional. Namun, ia meminta kepada Pemkot agar bertindak adil.

"Kita dukung program nasional, tetapi yang kita minta pemerintah adil. Jangan tebang pilih, jangan pilih kasih," ungkapnya.

Baca: Seleksi Berkas CPNS di Lembata Berakhir Sabtu

Kamto menjelaskan, ia juga menerima dan menghadiri undangan dari Pemkot dalam pertemuan yang membicarakan rencana penutupan lokalisasi KD di Hotel Maya pada 11 Oktober 2018 lalu. Dalam pertemuan itu dipaparkan rencana pemerintah untuk menutup lokalisasi terbesar di Kota Kupang bahkan NTT itu.

Menurut Kamto, jika ada kebijakan menutup lokalisasi maka harus adil. Seluruh lokalisasi ditutup semuanya, jangan sampai ada yang ditutup tetapi ada yang dibiarkan.

Baca: Rumah Pangan Kita Sasando Libatkan 20 UMKM

"Kita minta supaya adil, kalau ditutup ya semua. Kalau ditertibkan ya ditertibkan semua, jangan sampai di sini ditutup tetapi di tempat lain dibiarkan," ujarnya.

Terkait sosialisasi dari Pemkot ke penghuni wisma di lokalisasi Karang Dempel, Kamto mengaku belum mendengar adanya kegiatan itu hingga hari ini (Rabu,17/10/2018).

Namun ia berharap, segala sesuatu kebijakan harus dikomunikasikan dua arah agar tidak merugikan salah satu pihak.

Berdasarkan data Kelurahan Alak, di lokalisasi itu terdapat 126 pekerja seks komersial yang menempati empat lokasi wisma yakni Wisma Sederhana yang dimiliki oleh Yusuf Haris, Wisma Bukit Indah oleh Muksin, Wisma Gading oleh Frans dan Anton Molin serta Wisma Jitro yang dimiliki oleh Mami Ani Jitro.

Keempat pemilik wisma yang coba didatangi oleh POS-KUPANG.COM pada Rabu (17/10/2018) siang tidak dapat ditemui. Mami Ani Jitro, menurut kabar dari tetangga sudah beberapa hari tidak terlihat. Bahkan kiosnya pun tampak tertutup sejak beberapa hari terakhir.

Hal yang sama juga terjadi di kediaman Yusuf Haris. Rumah bercat biru yang terletak persis di sisi Barat Wisma Sederhana tampak sepi dan terkunci. Tetangga menyampaikan kalau tidak ada orang saat itu. (*)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved