Berita Nasional Terkini

Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 15.000 Per Dollar AS, Sri Mulyani Sebut karena Defisit Italia

Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebut, kondisi rupiah yang semakin melemah terhadap dollar AS disebabkan karena faktor eksternal.

Editor: Kanis Jehola
KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, saat menghadiri Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah 2018 di Kementerian Keuangan, Kamis (20/9/2018). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebut, kondisi rupiah yang semakin melemah terhadap dollar AS disebabkan karena faktor eksternal.

Ia memastikan pelemahan rupiah tak ada kaitannya dengan musibah gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah.

"Tidak (berhubungan dengan bencana). Saya lihat dominasi hari ini mayoritas berasal dari luar yang sangat dominan pada saat yang lalu. Kita lihat sentimen kemarin adalah Italia yang defisitnya besar," kata Sri Mulyani di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Baca: Tiga Desa di Ende Jadi Desa Ramah Anak

"Sekarang Italia komitmen menurunkan defisit APBN, lalu ada sentimen yang lain. Mayoritas ini masalah eksternal," tambah dia.

Sri Mulyani memastikan, pemerintah terus bekerja agar faktor-faktor eksternal tersebut tak membuat rupiah semakin anjlok.

Baca: Gunung Gamalama Meletus, Warga Diimbau Tetap Tenang

Menurut dia, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter sudah melakukan langkah-langkah bauran kebijakan.

Pemerintah dari sisi fiskal juga terus akan melaksanakan berbagai langkah yang sebelumnya sudah diputuskan bersama sebagai langkah mengantisipasi pelemahan rupiah. Salah satunya dengan memonitor impor barang.

"Utamanya impor barang konsumsi dan diproduksi dalam negeri, 1.147 itu nanti akan kami lihat laporannya setiap minggu dan posisi terakhir sudah menunjukkan penurunan," kata mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini.

Pemerintah juga, lanjut dia, terus menggenjot penggunaan biodiesel 20 persen (B20) untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.

"Tapi kita akan lihat karena akhir September terjadi kenaikan dan kami akan lihat. Dengan adanya bencana seperti ini akan ada kebutuhan, dan kami akan melihat apa yang sifatnya temporer dan sifatnya tren atau kecenderungan," ucap Sri Mulyani.

Pada Kamis (4/10/2018), kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 15.133. Rupiah melemah 0,3% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Posisi rupiah hari ini menjadi yang terlemah sejak kurs acuan diperkenalkan pada 20 Mei 2013. (*)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved