Berita CPNS 2018

Curahan Hati Guru Honorer Tamatan UT Yang Tak Bisa Mendaftar CPNSD

Puluhan guru honorer mengadu ke DPRD TTS karena terancam tak bisa mendaftar mengikuti seleksi CPNSD

Curahan Hati Guru Honorer Tamatan UT Yang Tak Bisa Mendaftar CPNSD
POS KUPANG/DION KOTA
Nampak para guru honorer tamatan UT sedang mengadu di komisi IV DPRD TTS terkait persyaratan IPK bagi para pelamar tes CPNSD 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Dion Kota

POS-KUPANG.COM|SOE – Pembukaan CPNSD tahun 2018 ternyata menimbulkan aneka persoalan. Selain ratusan K2 yang tidak bisa mendaftar karena terbentur usia, Jumat (21/9/2018) puluhan guru honorer mengadu ke DPRD TTS karena terancam tak bisa mendaftar mengikuti seleksi CPNSD lantaran terantuk pada persyaratan standart nilai IPK.

Pasalnya guru honorer tamatan Universitas Terbuka (UT) mayoritas hanya memiliki IPK 2,0 hingga 2,4. Hal ini disebabkan oleh karena adanya kebijakan di UT, dimana bagi mahasiswa yang IPK nya sudah mencapai nilai 2,0 secara otomatis akan keluar SK yudisium dan segera diwisudakan.

" Kakak, kami ini sudah dari tamat SMA jadi guru SD di kampung. Waktu ada kebijakan pemerintah guru harus minimal tamatan sarjana, kami digiring agar melanjutkan study ke UT. Sekarang setelah mendapat gelar sarjana di UT kami mau daftar tes CPNSD kandas lagi dipersyaratan IPK. Padahal, kami ini mengabdi sebagai guru honorer sudah sampai belasan tahun. Peserta didik kami bahkan ada yang sudah sarjana. Kami mohon kepada pemerintah agar bisa buat kebijakan sehingga standart IPK nya bisa diturunkan lagi menjadi 2,0," pinta Omatri Nomleni (31) guru honorer di SD Inpres Kaeneno yang sudah mengabdi 12 tahun.

Sebagai guru honorer yang diangkat sekolah, gaji yang diterima para tenaga honorer ini sangat kecil. Setiap bulan, para guru honorer ini hanya digaji Rp.150.000 per bulan. Itu pun terimanya per tiga bulan sesuai tahapan pencairan dana BOS.

Kecilnya gaji yang diterima membuat para pahlawan tanpa tanda jasa ini harus mencari pekerjaan sampingan untuk mendapat tambahan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Mulai dari berkebun, berjualan makan di sekolah hingga menjadi tukang pencungkil asam dilakoni guna bisa mendapat tambahan penghasilan.

Kecintaan akan profesi guru membuat mereka tak berpikir untuk berpaling dari profesi tersebut. Para tenaga honorer ini sudah terlanjur jatuh hati dengan profesi tersebut. Sehingga, walaupun gaji yang didapat sangat kecil, tak membuat semangat mereka untuk menjalani pekerjaan yang mulia tersebut surut.

" Banyak yang mencibir pilihan kami untuk bertahan menjadi guru lantasan gaji yang sangat kecil. Namun hati dan jiwa kami memang sudah jatuh cinta dengan profesi ini. Oleh sebab itu, walau harus bekerja sampingan usai pulang mengajar, tak menyurutkan niat kami untuk terus mengabdi sebagai guru," ungka Marni Leo (34) guru SD GMIT Soe 1.

Mendengar keluhan para guru honorer tersebut, ketua komisi IV DPRD TTS, Relygius Usfunan berjanji akan memperjuangkan aspirasi para guru honorer tersebut. Ia berjanji akan membangun komunikasi dengan Pemda TTS agar bisa menurunkan standar nilai IPK bagi pelamar tes CPNSD.

Dirinya mengaku, sangat mendukung para guru honorer tersebut untuk bisa mengikuti tes CPNSD. Pasalnya, melihat jasa mereka selama ini, sudah seharusnya mereka mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes CPNSD.

Soal lulus atau tidak, itu persoalan kedua, tetapi yang utama adalah bagaimana mereka mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes CPNSD.

" Senin dalam sidang paripurna akan saya angkat masalah ini agar segera ditindaklanjuti pihak pemda. Para guru honorer harus mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes CPNSD. Mereka sudah mengabdi hingga belasan tahun sehingga harus diberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi CPNSD, " janjinya.(*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved